http://www.suarapembaruan.com/News/2010/01/24/index.html

Hidup Tanpa Ginjal? 


Oleh: Tunggul D Situmorang

Ginjal (Kidney = REN) merupakan salah satu organ tubuh yang vital dan sangat 
penting serta sangat menentukan hidup matinya seseorang sebagaimana jantung, 
hati, paru, dan organ vital lainnya. Organ ginjal yang beratnya hanya 120-170 
gram, dengan ukuran kira-kira 11 x 6 x 3 cm tersebut mempunyai fungsi yang 
sangat vital dan kompleks. 

Aliran darah ke ginjal mencapai 1300 cc/menit, memungkinkan organ tersebut, 
mampu menyaring dan membersihkan darah dari zat-zat sisa metabolisme tubuh yang 
dikenal sebagai zat-zat toksik (racun-racun). Zat-zat ini dikeluarkan melalui 
urin sehingga zat-zat toksik tersebut tidak menumpuk dalam tubuh. 

Fungsi menyaring ini dikenal sebagai fungsi filtrasi yang dilakukan oleh 
glomeruli ginjal. Selain fungsi filtrasi, bagian tertentu dari ginjal yang 
disebut tubulus berfungsi menyerap kembali (reabsorbsi) elektrolit tertentu 
sedang bagian lainnya mengeluarkan elektrolit dan menjaga keseimbangan asam 
basa. 

Keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa harus tetap dipertahankan dalam 
menghadapi situasi dan kondisi yang berbeda internal maupun eksternal. Misalnya 
kekurangan/kelebihan asupan air, perubahan suhu udara, olahraga fisik, diare, 
dan lain-lain.

Dalam hal mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme tubuh dibutuhkan jumlah urin 
ideal kira-kira satu setengah liter/hari (1 cc/kg BB/jam). Jumlah urin minimal 
yang masih dianggap cukup melarutkan zat-zat toksik sebanyak 600 cc/24 jam dan 
bila kurang dari 200 cc/24 jam, merupakan pertanda yang mengarah tanda bahaya.

Fungsi ginjal yang lain yang juga tidak kurang pentingnya ialah fungsi 
hormonal, yaitu menghasilkan zat hormon yang berperan dalam pembentukan dan 
pematangan sel-sel darah merah di sumsum tulang. Jadi, fungsi ginjal ini sangat 
kompleks meliputi filtrasi, ekskresi, sekresi, dan hormonal, dan semuanya 
berlangsung secara simultan melalui mekanisme pengaturan sendiri (homeostasis).

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang ginjal (nephrology) memungkinkan 
fungsi-fungsi diatas sebagian dapat digantikan dengan dialisis (cuci darah) dan 
fungsi hormonalnya dengan pemberian obat-obatan. Menggantikan fungsi ginjal ini 
dikenal sebagai "Renal Replacement Theraphy" (RRT) atau Terapi pengganti Ginjal 
(TPG).

Pilihan TPG dilakukan bila fungsi ginjal kurang dari 15% dengan gejala-gejala 
uremik (keracunan). TPG meliputi dialisis maupun transplantasi. 

Dialisis bisa berupa hemodialisis (HD) atau peritoneal dialisis (PD). Istilah 
dialisis yang diterjemahkan sebagai "cuci darah" sebenarnya sangat rancu dan 
tidak tepat, karena darah tidak pernah bisa di cuci melainkan dibersihkan dari 
zat-zat toksik. 

Di lain pihak istilah ini telah memberikan konotasi yang buruk, tidak mendidik 
dan menyeramkan sehingga pasien atau keluarga yang dianjurkan untuk dialisis 
(baca: cuci darah) merasa dunia baginya bak akan kiamat. 


Hemodialisis 

HD dilakukan dengan menggunakan mesin untuk memompa darah keluar tubuh dan 
masuk ke ginjal buatan (dialyzer) guna dibersihkan melalui proses difusi dan 
ultrafiltrasi oleh cairan dengan komposisi tertentu (dialysat). Ginjal buatan 
itu sendiri sebenarnya hanyalah serat-serat seperti kapiler darah yang terbuat 
dari cellulose atau cuprophan dan lain-lain yang berfungsi sebagai membrana 
dengan sifat semi permiabel. 

Peritoneal Dialisis (PD), ialah dialisis melalui rongga peritoneum (rongga 
perut) sehingga sering disebut "cuci-darah" melalui perut. Prinsipnya sama 
dengan HD, tetapi yang berfungsi sebagai ginjal buatan (dialyzer) adalah 
selaput (membrane) yang bersifat semipermiabel, yaitu kapiler pembuluh darah 
yang ada di selaput rongga perut (rongga peritoneum). 

Besarnya biaya tentunya menjadi kendala dan tantangan bagi pasien dan keluarga. 
Mereka cukup beruntung apabila biaya diganti oleh pihak asuransi, kantor 
ataupun pemerintah, dan lain-lain. Di negara yang maju penanggulangan akan hal 
ini sudah sangat lebih baik dan umumnya dibiayai oleh negara ataupun asuransi 
kesehatan. Di Indonesia bagi peserta Askes boleh bersyukur dan berterima kasih 
karena bantuan biaya untuk dialisis dan atau transplantasi ginjal sampai saat 
ini sudah dirasakan manfaatnya. 

Masih merupakan kendala dan tantangan besar adalah sulitnya meyakinkan 
pasien/keluarga tentang waktu yang tepat untuk memulai TPG. Memulai TPG tepat 
waktu tidak saja menghindari ancaman jiwa, tetapi akan memberi kualitas hidup 
yang baik sebagaimana orang sehat lainnya. 

Hal inilah yang perlu diketahui, bahwa kemajuan kedokteran, khususnya bidang 
nefrologi (ginjal) sudah dimungkinkan hidup tanpa ginjal. 

Hidup tanpa ginjal adalah mimpi yang sudah jadi kenyataan, walau masih banyak 
tantangannya, namun adalah suatu peluang yang harus dimanfaatkan. Bagi pasien 
gagal ginjal, raihlah peluang, hidup yang berkualitas dengan terapi pengganti 
ginjal. Saat ini, hidup tanpa ginjal sudah nyata.


Penulis adalah Koordinator Penyakit Dalam Ginjal Hipertensi RS PGI Cikini, 
Dosen Ilmu Penyakit Dalam FK UKI, dan Direktur Ketua RS PGI Cikini, Jakarta



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 22/1/10

Kirim email ke