http://www.gatra.com/artikel.php?id=139114

Pemanasan Global
Peneliti: 20 Tahun Lagi Gletser Papua Hilang




Timika, 26 Juni 2010 10:42
Pimpinan kelompok peneliti inti es Papua, Prof Lonnie G. Thompson, dari Ohio 
State University, AS, memperkirakan dalam waktu 20 hingga 30 tahun ke depan, 
gletser di Gunung Cartensz, dekat Puncak Jaya, Papua, akan hilang akibat 
pemanasan global.

"Hampir pasti di sini dan di tempat-tempat tropis yang lain kira-kira dalam 30 
tahun gletser akan hilang akibat perubahan iklim," kata Lonnie Thompson di 
Timika, Sabtu (26/6).

Ia memimpin proyek penelitian pengeboran inti es Papua 2010 kerja sama Badan 
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Byrd Polar Research Center 
(BPRC) The Ohio State University yang beranggotakan sejumlah peneliti dari 
Amerika Serikat, Rusia, Perancis dan Indonesia.

Kelompok peneliti pimpinan Lonnie Thompson selama 13 hari tinggal di tiga titik 
gletser yang masih ada di Papua yaitu gletser Cartensz, E.Nortwall Firs dan 
W.Northwall Firs yang hampir habis atau hilang.

Menurut pengakuan Lonnie Thompson, selama 13 hari berada di kawasan gletser 
Papua, gletser setempat mengalami penurunan sekitar 30 centi meter. Ia 
memperkirakan, setiap tahun gletser Papua hilang beberapa meter.

Lonnie Thompson mengatakan, proses pencairan es pada gletser Papua sangat cepat 
akibat dari faktor iklim dimana setiap hari di kawasan itu selalu turun hujan.

"Benar kalau gletser di sini kemungkinan akan cepat habis karena setiap hari 
turun hujan. Hujan merupakan salah satu faktor cuaca yang paling cepat 
menghabiskan gletser," katanya.

Selama berada di kawasan gletser Papua, Lonnie dan rekan-rekannya mengambil 
sampel 88 meter Ice Core dengan mengebor enam inti es sampai dasar es lalu 
dipotong-potong menjadi satu meter dan dimasukan ke dalam freezer untuk 
diteliti lebih lanjut di Ohio State University Amerika Serikat.

Hasil penelitian ini diperkirakan akan selesai akhir tahun 2010 dan akan 
dipublikasikan sekitar bulan Juni 2011.

"Misi pengambilan sampel es ini untuk mendapatkan informasi iklim yang masih 
ada di gletser Papua sebelum informasi iklim itu akan hilang semua," jelas 
Lonnie Thompson.

Ia mengatakan, suhu rata-rata di kawasan gletser Papua pada siang maupun malam 
hari berkisar pada 5 derajat celcius hingga minus 5 derajat celcius di bawah 0. 
Menurut Lonnie, gletser yang ada di pegunungan Papua merupakan yang paling 
rendah dibanding dengan gletser di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia.

"Kami sudah mengambil semua sampel es dari berbagai gunung di dunia, dimana 
yang tertinggi di pegunungan Himalaya (perbatasan Tibet dan Cina) dengan 
ketinggian sekitar 7.200 meter diatas permukaan laut. Sedangkan yang ada di 
Papua berada pada ketinggian di bawah 5.000 meter di atas permukaan laut," 
jelasnya.

Lonnie Thompson mengatakan, kegiatan penelitian gletser di Papua tidak lepas 
dari dukungan PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas, tembaga dan perak 
yang beroperasi di Mimika, Papua.

"Tanpa bantuan Freeport, tidak mungkin kami mengambil es dari gletser untuk 
dibawa secara cepat dengan helikopter lalu dimasukkan dalam freezer untuk 
dikirim ke pusat penelitian di Amerika Serikat. Karyawan Freeport juga banyak 
memberikan bantuan untuk memindah-mindahkan peralatan penelitian selama berada 
di kawasan gletser Papua," katanya menambahkan. [TMA, 

Kirim email ke