Reflekis :  Di Jepang ada kata "gomenasai" [ma´af]. Kata ini atau permintaan 
maaf diucapkan oleh pemimpin perusahaan atau juga pada para politikus di depan 
umum. Lihat saja kepada pemilik dan pemimpin perusahaan Toyota datang dari 
Japengan meminta maaf di d kongres USA. 

Hatoyama, waktu pemilihan umum bahwa dia  berjanji akan batalkan kontrak 
pangkalan militer US di pulau Okinawa, hal ini tidak dapat digenapi dan 
terpaksa harus harus berhenti dengan permintaan maaf.  

Di Indonesia  tidak ada tradisi ini. Di Indonesia waktu pemilu macam-macam 
janji diucapkan, setelah dipilih oleh rakyat dan kursi empuk kekuasaan 
diduduki, janjinya dilupakan dan bukan itu saja malah menjadi bunglong 
korupsinya. Dari pemilu ke pemilu oknom-oknom yang sama muncul  untuk 
dinominasikan sebagai wakil rakyat.   

Contoh klasik paling jelas, lihat saja pada Soeharto  dan konco-konconya serta 
para pendukungnya tak pernah minta maaf atas pembunuhan dan kekejaman yang 
dilakukan. Tingkah laku ini juga diteruskan pemerintahan sekarang rezim 
kekuasaan  SBY dan konco-konconya.  Salah satu faktor, mungkin pembunuhan, 
kebencian atau kesalahan  dibenarkan oleh agama menyebabkan orang tidak perlu 
melakukan permintaan maaf atau merasa menyesal atas tindakan yang merugikan 
sesama mahluk manusia.

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59943:mampukah-indonesia-mengikuti-tradisi-politik-jepang&catid=78:umum&Itemid=139

      Mampukah Indonesia Mengikuti Tradisi Politik Jepang?        
      Oleh : Harry Veryanto Sihite 


      di Indonesia, budaya kepemimpinan serta budaya politik masih saja 
menyisakan sejumlah masalah besar. Kendati bangsa ini sudah lama 
mendeklarasikan kemerdekaannya, namun hingga kini upaya pengisian kemerdekaan 
itu melalui pencerminan sikap dan perilaku, khususnya 

      para pemimpin bangsa ini tetap saja belum mengalami perubahan. Tradisi 
mempertahankan kekuasaan kendati sudah diambang kesalahan tetap saja 
dipertahankan. Bahkan yang dicari bukannya solusi, tetapi alasan pembenaran 
agar mereka terhindar dari jerat hukum yang sedang melilitnya.

      Berbeda jauh misalnya kalau dibandingkan dengan Jepang. Penulis melihat 
perbandingan yang cukup kontras ini setelah baru-baru ini seorang pemimpin 
Jepang mengundurkan diri karena menganggap telah gagal dalam menjalankan amanah 
tugasnya. Adalah giliran Yukio Hatoyama yang memberi pelajaran itu. 
Kegagalannya memenuhi janji kampanye, yakni memindahkan pangkalan militer AS di 
kawasan penduduk padat di kepulauan bagian selatan, Okinawa, ke kawasan pantai 
yang lebih sepi di pulau itu, serta skandal pendanaan politik yang melibatkan 
dirinya bersama Sekjen Partai Demokratik Jepang Ichiro Ozawa, menjadi alasan 
bagi Perdana Menteri (PM) Jepang itu mengundurkan diri.

      Hatoyama merupakan PM Jepang keempat yang mengundurkan diri dalam empat 
tahun terakhir. Hatoyama memenangi Pemilu Agustus 2009 berkat janjinya 
memindahkan Pangkalan Futenma milik AS di Okinawa atas desakan warga setempat. 
Namun, meski baru 8 bulan memimpin, dia memutuskan mundur karena tak berhasil 
menepati janji. Akhir-akhir ini PM Jepang itu memang terus mendapat tekanan. 

      Bahkan berdasarkan jajak pendapat beberapa media setempat, 61 persen dari 
responden menolak kabinet Hatoyama. Apa yang dilakukan Hatoyama dan beberapa 
perdana Menteri "Negeri Matahari Terbit" sebelumnya sangat bertolak belakang 
dengan yang diperlihatkan kebanyakan pemimpin di Nusantara. Di Indonesia, 
seorang pemimpin akan berjuang dengan berbagai cara mempertahankan 
kedudukannya, meski nyata-nyata gagal memenuhi janji dan tak habis-habisnya 
mendapat penolakan dari masyarakat, serta didemo dan dihujat. 

      Bahkan pemimpin di negeri ini cenderung menjadikan kekuasaan 
turun-temurun, berlanjut ke istri, anak, dan saudara. Tidak salah apabila ada 
pendapat bahwa urat malu para pemimpin di Indonesia sudah putus. Meski nama 
mereka berulang kali disebut-sebut terkait penyelewengan uang negara, diduga 
melakukan hal-hal terkait korupsi, tak satupun di antaranya yang bersedia 
mundur atau hanya sekadar meletakkan jabatan untuk sementara hingga kasus 
mereka terang benderang. Bahkan ketika bukti sudah kuat dan vonis sudah jatuh, 
tak sedikit di antara pemimpin yang jelas-jelas bobrok tetap keukeuh menyatakan 
diri mereka tidak salah.

      Pernah Ada

      Di Indonesia, budaya semacam itu memang pernah ada. Adalah Bung Hatta, 
wakil presiden pertama RI, yang telah menunjukkan jiwa dan semangat dari budaya 
politik itu. Dia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. 
Pengunduran diri itu setahun sebelumnya sudah diajukan. Hatta tidak ingin 
terhanyut dalam kekuasaan yang mulai tidak dikontrol lagi karena demokrasi 
mulai dibelokkan Soekarno menjadi demokrasi terpimpin. Setelah Hatta resmi 
mundur, dwitunggal Soekarno- Hatta yang telah melekat di hati rakyat selama 
lebih satu dasawarsa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 retak.

      Setelah itu, Soekarno melenggang sendiri sebagai presiden tanpa 
didampingi wakilnya hingga akhir kekuasaan dan akhir hidupnya. Dalam konteks 
berbeda, Soeharto juga mengundurkan diri sebagai presiden kedua RI di masa 
jabatan keenam, 21 Mei 1998, setelah aksi mahasiswa besar-besaran dalam 
gelombang reformasi yang tidak bisa dihindari. Keputusan Soeharto sangat 
berbeda dengan apa yang diambil Hatta. Soeharto mundur karena tekanan dan 
desakan, sedangkan Hatta karena inisiatif sendiri dan diajukan beberapa kali.

      Dalam banyak aspek, masa pemerintahan Soeharto yang dikenal sebagai era 
Orde Baru justru banyak mematikan budaya politik yang telah ditanam para 
pendiri bangsa. Praktis, masa Orde Baru telah mengubah tradisi dan budaya 
politik Indonesia yang membekas hingga sekarang meskipun reformasi telah 
menjungkirbalikkan sistem dan tatanan politik lama. Tapi, budaya instan, korup, 
dan mengutamakan jabatan dan kepentingan kelompok makin kentara.

      Tidak heran apabila dampak dari budaya instan dan korup di kalangan 
pejabat dan penyelenggara negara membuat mereka mempertahankan jabatan 
mati-matian.

      Meskipun ada indikasi penyalahgunaan kewenangan, atau bahkan indikasi 
melakukan korupsi, mereka tidak mau mundur. Ironisnya, mereka terus berdalih 
dan mencari pengacara hebat untuk membela perbuatan dan mempertahankan 
kekuasaan. Mereka pun berdalih mundur bukan budaya Indonesia. Pelajaran politik 
berharga dari Jepang perlu direnungkan para pejabat dan penyelenggara negara.

      Karena itu, seharusnya para pemimpin Indonesia belajar ke Jepang untuk 
membangkitkan kembali "urat malu". Pemimpin bangsa ini seharusnya terketuk dan 
sadar bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan, bukannya dijadikan 
untuk aji mumpung, berbuat sesuka hati, apalagi untuk mengumpulkan kekayaan 
pribadi dengan berbagai cara guna dimanfaatkan sampai tujuh keturunan. Agar 
seorang pemimpin benar-benar amanah, maka budaya malu memang harus selalu 
dijaga.

      Sebagai sesama bangsa Timur, pemimpin di Indonesia seharusnya malu atas 
apa yang dilakukan pemimpin dari Jepang yang dengan sportif dan dalam waktu 
singkat melepas jabatan karena tak berhasil memenuhi janji. Beberapa pemimpin 
negara Eropa saja-yang menurut anggapan bangsa Timur tak memiliki latar 
belakang budaya malu-ada yang berani mundur dari jabatan, tentunya sudah sangat 
keterlaluan apabila pemimpin Indonesia tetap ngotot menguasai jabatan hanya 
karena alasan dipilih rakyat, meski tak mampu berbuat apa-apa. Bukti banyak 
pemimpin di Indonesia tak mampu memenuhi janji mereka sendiri sudah cukup 
banyak. 

      Tapi nyatanya, kita belum pernah mendengar seorang pemimpin Indonesia 
mundur dengan alasan tak mampu menepati janji. Jika pun ada yang "cabut", itu 
karena alasan lain, termasuk karena dimundurkan atasannya. Pemimpin di negeri 
ini lebih banyak yang berani malu ketimbang yang amanah. Buktinya kasus 
korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap marak. Sanggupkah bangsa ini keluar dari 
jerat korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.? Tentu jawabannya akan 
terlihat secara nyata bila negeri ini mampu menjadi pewaris tradisi politik 
Jepang, tradisi mundur bila ternyata gagal mengemban amanah rakyat. ***

      Penulis adalah Mahasiswa FH Universitas HKBP Nommensen.
     

Kirim email ke