Refleksi :  Apakah   Polri mempunyai anggaran belanja khusus untuk memborong 
majalah? Tentu maksud diborong  majalah Tempo  ialah bukan untuk dibagi-bagikan 
kepada anggota Polri yang setetengah buta huruah agar belajar membaca dan 
menulis, tetapi  agar berita para petinggi polri yang banyak duit haram tidak 
tersebar luas dan menjadi milik pengetahuan umum rakyat yang dibodohkan dan 
dimiskinkan.  

Kalau diborong majalah karena isinya dianggap mencemarkan nama baik Polri 
sebagai jabatan pelakasan koruspi, maka  apakah tidak sebaiknya disita saja 
majalah edisi tsb? Bukankah kalau disita tak perlu keluarkan  duit dan duit ini 
 untuk memborong majalah bisa disumbangkang untuk membeli nasi bungkus dan kopi 
susu atau apa saja guna menghibur para anggota Polri yang patroli di malam hari 
yang  menakutkan, penuh gendruwo serta seythan iblis pengoda kehidupan manusia 
suci. hehehhe hohoho 

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/07/07/152701/130/101/Tempo-Juga-Diborong-di-Bali


"Tempo" Juga Diborong di Bali 
Kamis, 01 Juli 2010 09:48 WIB     
Penulis : Arnold Dhae

DENPASAR--MI: Hilangnya Majalah Tempo di sejumlah agen koran di Denpasar 
rupanya bukan hanya terjadi di Ibu Kota Provinsi Bali itu. Majalah edisi 
terakhir tersebut juga hilang dari peredaran hampir di seluruh Bali hingga ke 
seluruh kabupaten dan kota. 

Tempo edisi tersebut menurunkan berita mengenai rekening yang membengkak milik 
para petinggi Polri. 

"Kita tidak tahu kenapa begitu cepat lakuknya dalam dua hari belakangan, 
umumnya mereka datang langsung memborong Tempo," ujar Kadek, seorang penjaga 
konter majalah di Kota Singaraja. 

Ia juga menyebutkan ciri-ciri pembeli seperti semuanya laki-laki, berbadan 
tegap, ada yang rambut panjang, ada juga yang cepak. Diduga majalah ini 
diborong oknum tertentu. 

Aktifis LSM dari Buleleng Wayan Sudarma menuturkan, di Buleleng misalnya Tempo 
habis dibeli sejak Selasa malam. Hal yang sama juga terjadi di Karangasem, 
Gianyar dan beberapa kabupaten lainnya di Bali. Tempo di sejumlah agen Koran 
yang ada di Singaraja sebagian diborong seseorang. Seperti yang terjadi di agen 
Jalan Dewi Sartika, menurut penuturan penjaga di tempat tersebut majalah ini 
diborong seseorang berpakaian rapi. 

"Majalahnya sudah diborong, mas. Tadi ada orang berpakaian rapi ke sini 
kayaknya dari sebuah lembaga," ungkap penjaga di toko yang enggan disebutkan 
namanya. 

Saat ditanya jumlah majalah yang diborong oknum tersebut, penjaga menjawab, 
"Jumlahnya sembilan belas dan pemborong itu minta nambah jika terbit lagi," 
jelasnya sembari menambahkan majalah tersebut telah dipesan sejak Senin lalu. 

Hal yang aneh terjadi pula di agen Jalan Pattimura dan Jalan Pramuka Singaraja. 
Di tempat ini majalah tersebut bahkan tidak datang seperti biasanya. "Katanya 
sudah diborong di pusatnya sehingga pelanggan kami kecewa karena tidak 
kebagian," ungkap salah satu penjaga di tempat itu. 


Terkait pemberitaan di majalah ini berpengaruh terhadap sejumlah perwira 
kepolisian di Buleleng, Pahumas Kompol Made Sudirsa membantahnya. "Ah, kayaknya 
tidak sejauh itu. Mungkin saja yang memborong itu berkepentingan pada 
pemberitaan di majalah tersebut," ungkapnya. 

Seperti diketahui Majalah Tempo edisi 28 Juni-4 Juli 2010 yang memuat laporan 
utama berjudul Rekening Gendut Perwira Polisi hilang di sejumlah agen Ibu Kota. 
Pemberitaan tersebut menyangkut rekening sejumlah perwira tinggi di Polri. 
Sedikitnya ada enam jenderal polisi dan beberapa perwira menengah yang memiliki 
rekening bank berisi puluhan miliar rupiah bahkan hingga Rp54 miliar. Padahal 
jika dilihat penghasilan per bulan, mereka mendapat gaji tidak sampai Rp10 juta 
per bulan. 

Hingga saat ini belum ada penjelasan tujuan diborongnya majalah tersebut, 
begitupun yang terjadi di Denpasar, Buleleng dan beberapa daerah lainnya di 
Bali. 

Kirim email ke