Refleksi : Sekarang tahun 2010, masih 4 tahun lagi baru diadakan pemilu. 
Sekarang ada 40 juta lebih rakyat miskin di NKRI.  Apakah dipikirkan  angka 
kemiskinan  ini akan menurung pada tahun 2014 ataukah yang dikerjar hanya hasil 
pemilu?

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=256799

      PEMILU 2014
      Golkar: Target Minimum 30 Persen 

      Aburizal Bakrie, Ketua Umum DPP Partai Golkar.


      Senin, 5 Juli 2010


      JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie 
mengatakan, Partai Golkar menargetkan perolehan suara minimum 30 persen dalam 
Pemilu 2014. Partai Golkar juga menargetkan memenangi 50 persen pada pemilihan 
kepala daerah (pilkada).

      Hal itu disampaikan Aburizal Bakrie kepada wartawan usai membuka secara 
resmi Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pemenangan Pemilu Partai Golkar 
Wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jakarta, Minggu (4/7).

      Rakornis yang berlangsung pada 4-5 Juli itu juga dihadiri Ketua Dewan 
Pertimbangan Akbar Tandjung, Wakil Ketua Umum Theo L Sambuaga, Sekjen Idrus 
Marham, Bendahara Umum Setya Novanto dan sejumlah Ketua DPP Partai Golkar 
seperti Sharif Cicip Sutarjo, Hafiz Zawawi, Andi Achmad Dara, Aulia Rachman, 
Firman Subagyo, Ali Wongso Sinaga, dan Ade Komarudin.

      Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical mengemukakan, target tersebut 
bukanlah sesuatu yang mustahil. Untuk itu, dirinya meminta semua organ Partai 
Golkar bekerja secara baik dan maksimal agar target kemenangan itu bisa 
tercapai.

      Ical juga mengungkapkan, untuk merealisasikan target kemenangan itu, 
Partai Golkar telah menetapkan strategi pemenangan melalui pendekatan permanent 
campaign, yaitu gerakan kekaryaan melalui pelaksanaan berbagai program dalam 
segala bidang yang dilaksanakan secara serentak, terpadu, dan kontinu.

      "Diperlukan dukungan, sinergitas dan 'irama yang sama' dari segenap 
keluarga besar Partai Golkar, khususnya kader-kader pilihan yang duduk dalam 
jajaran kepengurusan Partai Golkar baik di tingkat pusat maupun daerah," 
ujarnya.

      Meski begitu, Ical mengakui, untuk merebut kemenangan, Partai Golkar akan 
menghadapi berbagai macam tantangan khususnya menghadapi persaingan politik 
yang makin tajam dalam dinamika multipartai.

      "Dalam persaingan apa pun bentuknya, Partai Golkar harus mampu menghadapi 
dan memastikan diri muncul sebagai pemenang, dengan prinsip Partai Golkar 
menang secara bermartabat dan berkualitas, bukan menang di atas kebobrokan 
lawan," katanya.

      Ical juga mengingatkan, kader-kader Partai Golkar dalam berpolitik perlu 
meniru gaya tikus. Tidak langsung menggigit, tapi mengendus terlebih dahulu. 
"Kita politisi bekerja keras, main taktis. Jangan kemudian kita dalam permainan 
itu menggigit terus. Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus, baru 
gigit," katanya.

      Ical mengatakan, sebagai politikus tidak boleh langsung menggigit. 
"Jangan langsung menggigit. Nanti kalau dipukul bisa mati," ujarnya.

      Ia menambahkan, berkoalisi dengan Partai Demokrat, tidak berarti kader 
Partai Golkar tidak bisa bersikap kritis. Dalam kasus Bank Century, katanya, 
kader Partai Golkar telah berani mengkritisi Wakil Presiden Boediono dan mantan 
Menteri Keuangan Sri Mulyani. "Adanya setgab yang merupakan gabungan 
partai-partai koalisi, tetap memberikan kesempatan pada kader Partai Golkar 
untuk berpikir kritis, seperti dalam kasus Bank Century," katanya.

      Sikap kritis Partai Golkar dalam kasus skandal Bank Century, menurut 
Ical, sepenuhnya adalah demi kepentingan rakyat. "Kepentingan kita semata untuk 
rakyat," tuturnya.

      Terkait forum rakornis, Ical mengemukakan, hal itu merupakan langkah 
terobosan strategis yang dilakukan DPP Partai Golkar dalam rangka mempercepat 
koordinasi dari semua perangkat partai baik secara horizontal maupun secara 
vertikal sebagai tuntutan adanya perubahan paradigma manajemen kepemimpinan 
partai yang berbasis organisasi matriks.

      "Perubahan ini belum banyak dipahami secara komprehensif oleh segenap 
jajaran kepengurusan partai di semua lini. Akibatnya, pergerakan partai belum 
sinergis dan 'satu irama', baik secara horizontal maupun vertikal, bahkan 
terkesan masih berjalan sendiri-sendiri," katanya.

      Adapun manajemen kepemimpinan partai yang berbasis organisasi matriks 
yang dimaksudnya adalah pembagian tugas dan fungsi organisasi ke dalam empat 
bidang tugas pokok yaitu kepartaian, elektoral, kajian kebijakan, dan 
pemenangan pemilu. 

      "Meski dapat dibedakan, secara fungsional bidang-bidang tersebut 
merupakan satu kesatuan yang dilakukan secara bersinergi dan saling mendukung," 
katanya.

      Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah 
Jawa, Bali dan NTB, Sharif Cicip Sutarjo mengatakan, pemenangan pilkada dari 
Mei sampai Juli 2010 ini merupakan tantangan yang sangat berat karena 
konsolidasi di DPP Partai Golkar dan semua pengurus daerah masih berjalan dalam 
masa transisi.

      Khususnya di Jawa, Bali dan NTB, Cicip mengatakan, hasilnya tidak terlalu 
mengecewakan, namun diakuinya belum sesuai harapan. Pada tahun 2010 di wilayah 
Jawa, Bali dan NTB diselenggarakan 60 pilkada kabupaten/kota yaitu 4 pilkada di 
wilayah Provinsi Banten, 5 di Jawa Barat, 17 di Jawa Tengah, 3 di Yogyakarta, 
18 di Jawa Timur, 6 di Bali, dan 7 di NTB.

      Hingga Juni 2010, kata Cicip, telah digelar 39 pilkada kabupaten/kota, 
yang 12 di antaranya menurut perhitungan KPU dimenangkan oleh pasangan yang 
diusung Partai Golkar (satu putaran) dan di dua pilkada pasangan yang diusung 
Partai Golkar maju ke putaran kedua yaitu Sumbawa dan Dompu.

      Di antara 12 pilkada yang dimenangkan pasangan yang diusung Partai 
Golkar, satu pilkada yakni Kabupaten Lamongan masih harus menunggu keputusan 
tetap karena digugat oleh pasangan yang diusung PDIP. Sebaliknya, di tiga 
pilkada yakni Kabupaten Gresik, Kota Surabaya, dan Kabupaten Kendal, Partai 
Golkar melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

      "Dari serangkaian pilkada yang hasilnya sudah ditetapkan di wilayah Jawa, 
Bali, dan NTB, maka persentase kemenangan kandidat yang diusung Partai Golkar 
adalah 34 persen," ujarnya. (M Kardeni)  

--------------------------------------------------------------------------
     

Kirim email ke