http://www.gatra.com/artikel.php?id=139912
Imaji Elite Ketika seorang seniman seperti Gesang berpulang, ia meninggalkan kemahsyuran, nama, dan kebesaran. Kebesaran yang akan dilihat banyak orang dari popularitas karyanya, terutama Bengawan Solo, yang tidak hanya berhasil melewati waktu, melainkan juga menembus demarkasi ruang. Kebesarannya pun terlihat mulai dari berduyunnya penghargaan yang diberikan hingga jumlah royalti yang ia terima. Dalam ukuran ini, sebagai pencipta lagu, Gesang memang tiada duanya. Namun, apa sebenarnya yang telah Gesang berikan kepada bangsa ini selain kemahsyuran dan penghargaan? Tidak lain karena dia menjadi salah satu kontributor terpenting dalam memosisikan kebudayaan di negeri ini di tempat yang mulia. Tapi, apa sebenarnya kebudayaan yang mulia itu? Apa pula sesungguhnya kontribusi Gesang untuk itu? Di sinilah kebesaran sebuah karya dan seorang seniman berdomisili. Seniman mana pun, karya apa pun. Kebudayaan dihargai, dimuliakan, dan dihormati bangsa lain tidak lain karena ia diisi oleh suatu unsur paling utama yang sangat kaya dan bernilai tinggi: simbol. Dan bagaimana simbol-simbol itu mencapai kedalaman makna, memiliki bentuk yang kaya, melahirkan anak-anak simbol yang baru, dan seterusnya, ditentukan oleh sebuah kerja yang tekun dan penuh dedikasi dari seseorang yang memang produk utamanya adalah simbol, seorang seniman. Gesang di antaranya. Rendra di antaranya, Affandi, Usmar Ismail, Sardono W. Kusumo, dan sederet panjang seniman terkemuka yang dimiliki negeri ini. Juga berderet-deret seniman lain yang tercatat, terhitung, serta mereka yang terlalaikan, tak diakui, dan seterusnya. Dari dunia simbol itulah kita memperoleh imajinasi dan fantasi yang kaya dan subur. Kita seperti menuai berkah bahkan harta dari kekuatan imajinasi yang telah didedikasikan dan dikontribusikan para seniman dan para produsen kebudayaan lainnya. Bangsa yang berderajat, memiliki harkat dan kehormatan yang tinggi, adalah bangsa yang memiliki kebudayaan atau khazanah simbolik yang tinggi pula. Merosotnya derajat sebuah bangsa atau parianya sebuah bangsa tidak lain karena ketiadaan atau kepandiran dalam soal kebudayaan ini. Karena itu, mudah dipahami bila kemajuan sebuah negeri (dan kebudayaan di dalamnya) sesungguhnya ditentukan oleh seberapa luas dan kukuhnya ruang imajinasi bangsa pemiliknya. Dan, jika di dalam negeri itu struktur kemasyarakatannya didominasi oleh satu golongan saja, maka kekuatan imajinasi golongan penguasa (kaum elite) itulah yang menjadi variabel terpenting dalam pengembangan atau kemajuan negeri itu. Dalam logika ini, maka kualitas seseorang --karakter dan integritasnya-- ditentukan oleh seberapa lapang dunia imajinya, seberapa kuat visi yang dilahirkannya, dan akhirnya seberapa hebat praksis hidup dilakoninya. Apa yang tampak dan terdengar oleh kita, dalam perilaku dan discourse sebuah golongan, misalnya, berelasi kuat dengan ruang atau dunia imaji yang dimilikinya. Maka, seseorang yang bertutur kata kotor akan dengan sendirinya mencerminkan ''kekotoran dunia imajinya''. Begitu pun perilaku dan bahasa yang santun merefleksikan dunia imaji yang ada di baliknya. Karena itu, bila kita belakangan ini mendengar banyak digunakannya peribaratan atau simbolisasi yang jorok dan kotor, secara langsung ia mencerminkan bagaimana isi ruang imaji para penuturnya. Kata cicak, buaya, tikus, babi, dan lainnya tidak terelak mencerminkan dunia imaji produsen kata-kata itu. Tentu saja kita mengerti bila nama-nama binatang itu mewakili sisi gelap, kotor, dan negatif diri kita sendiri. Katakanlah berbanding dengan penggunaan simbol-simbol binatang yang relatif lebih bersih dan positif bahkan mengandung nilai luhur, seperti bangau, burung merak, kelinci, naga, burung hong, dan phoenix. Artinya, tidak ada iblis yang ruang imajinya diisi oleh simbol-simbol malaikat. Begitu pun sebaliknya. Siapakah dan apa kata-katamu adalah bagaimana ruang imajimu. Tentu saja sanggat menggiriskan bila simbol-simbol binatang kotor tadi diproduksi dan diapresiasi oleh mereka yang masuk dalam kalangan elite. Mereka yang menentukan jalan, hidup, dan masa depan negeri ini. Apa yang sedang dan akan terjadi di negeri ini bila para pemimpinnya mengibaratkan atau mempersamakan diri dan kelompoknya dengan binatang-binatang tadi. Semua itu tidak sekadar menggambarkan kedegilan, kebusukan, dan adab-adab defiatif lainnya dari kalangan elite, melainkan juga sesungguhnya mewakili remuknya adab dan budaya di negeri ini. Sempitnya ruang imaji, absennya kekuatan visi, mengakibatkan miskinnya apresiasi kita terhadap hidup, manusia, dan diri kita sendiri. Maka, tidakkah sebuah bangsa lumat dan lenyap ketika kebudayaannya tersaruk dan tersuruk. Bila sudah demikian kaum elitenya, apa bagus kita berdiam diri saja? Radhar Panca Dahana Pekerja seni dan pemerhati budaya [Perspektif, Gatra Nomor 36 Beredar Kamis, 15 Juli 2010]
