http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010080708283715

      Sabtu, 7 Agustus 2010 
     

      BURAS 
     
     
     

Redenominasi, untuk Selubungi Ketimpangan!


       
      "AMIN menabung di celengan sisa uang jajannya setiap hari satu koin, 
talen atau ketip. Setelah 100 koin, sesuai hitungan di ingatannya dari hari ke 
hari, jumlahnya Rp14,05. Berapa koin talen dan koin ketip dalam celengan Amin?" 
cucu membaca di monitor komputer kakek. "Ini soal apa, Kek?"

      "Soal aljabar SMP kelas 2 tahun 1950-an!" jawab kakek. "Persamaan 
tersamar dengan dua bilangan anu-pertama talen bernilai 25 sen per koin, kedua 
ketip dengan nilai 10 sen per koin"

      "Sulit amat!" entak cucu. "Kakek tulis buat apa?"

      "Persiapan menyusun buku excercise aljabar, menyongsong redenominasi 
rupiah!" jelas kakek. "Kalau redenominasi memangkas tiga angka nol dari nilai 
rupiah sekarang, harus disiapkan uang receh untuk rakyat jelata-sen 
(seperseratus rupiah), gobang (satu seperempat sen atau setengah benggol), 
benggol (dua setengah sen), kelip (lima sen), ketip (10 sen), talen (25 sen), 
dan suku (50 sen). Kita kembali ke zaman Belanda."

      "Rumit sekali ragam satuan mata uang recehan untuk rakyat jelata itu!" 
timpal cucu.

      "Memang, jauh lebih rumit dari satuan tunggal rupiah pada mata uang 
sekarang!" tegas kakek. "Maka itu, kalau redenominasi disebut untuk 
penyederhanaan mata uang, jelas keliru banget!"

      "Lantas, sebenarnya untuk apa?" kejar cucu.

      "Untuk menghilangkan kerisihan elite yang bergaji puluhan juta sebulan, 
seperti DPR Rp65 juta, atau Gubernur BI Rp235 juta, jauh sekali jaraknya dari 
pendapatan mayoritas rakyat-upah minimum buruh cuma Rp750 ribu sebulan! Jika 
dipotong tiga nolnya jadi tak ada lagi sebutan juta, apalagi ratusan juta, jadi 
terkesan tak ada ketimpangan!"

      "Buset! Jadi redenominasi rupiah yang menguras dana menyiapkan mata uang 
baru dan sosialisasi itu hanya untuk menyelubungi ketimpangan pendapatan atau 
justifikasi ketimpangan sosial yang amat tajam?" timpal cucu. "Lalu rakyat 
jelata disusahkan pula dengan mata uang receh buat mereka yang ragam satuannya 
amat rumit!"

      "Juga mempermudah korupsi!" tegas kakek. "Dengan uang sekarang, korupsi 
atau terima suap miliaran uangnya berkarung, susah disimpan di rumah, di bank 
tercium PPATK seperti Gayus!"

      "Demi kepentingan elite berpendapatan besar dan koruptor, redenominasi 
pasti jadi!" timpal cucu. "Ternyata kemerdekaan seperti jalan melingkar, 
setelah 65 tahun merdeka kita kembali ke awal-zaman Belanda-di mana ketimpangan 
sosial punya banyak justifikasi! Rakyat jelata pun harus bawa pundi-pundi untuk 
recehan, jenis mata uang yang mampu mereka dapatkan!" ***

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke