Refleksi :   Harga sembako naik adalah wajar, jadi jangan mengeluh sekalipun 
ikat pingang harus dikencangkan!

http://nasional.kompas.com/read/2010/08/06/09543077/Presiden.Wajar.jika.Ada.Kenaikan.Harga-4

Kebutuhan Pokok
Presiden: Wajar jika Ada Kenaikan Harga

Jumat, 6 Agustus 2010 | 09:54 WIB

RUMGAPRES/ ABROR RIZKI
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 
BOGOR, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai wajar terjadi 
kenaikan harga pada satu atau dua bahan kebutuhan pokok saat permintaan 
masyarakat meningkat.

Kenaikan juga perlu dimaklumi jika terjadi pada komoditas pertanian dan memberi 
tambahan penghasilan bagi petani.

"Kadang-kadang ada komoditas pertanian, yang petani itu mendapat untung setahun 
sekali, ya anggaplah itu rezeki," ujar Presiden ketika membuka Rapat Kerja 
Kabinet Indonesia Bersatu II dengan gubernur dan ketua DPRD se-Indonesia di 
Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/8/2010).

Presiden meminta jajaran pemerintah pusat dan daerah bekerja sama untuk 
memastikan harga kebutuhan pokok masyarakat tidak melonjak terlalu tinggi 
menjelang bulan Ramadhan hingga Lebaran nanti.

Meski begitu, perlu dipahami pula, apabila kenaikan harga terjadi dalam batas 
wajar, terutama untuk komoditas pertanian. "Kita tahu setiap mendekati hari 
Lebaran terjadi gejolak harga, itu bisa dijelaskan," ujar Presiden.

Menjelang Lebaran, kata Presiden, permintaan bahan konsumsi rumah tangga 
meningkat. Kenaikan harga pasti terjadi jika suplai barang di pasar tetap.

"Karena itu, terhadap bahan-bahan pokok yang utama, manakala kenaikannya tidak 
wajar, menteri terkait bekerja sama dengan para gubernur, bupati, dan wali 
kota, laksanakanlah operasi pasar, dengan demikian terjadi stabilisasi harga," 
ujar Presiden Yudhoyono.

Ruang fiskal terbatas

Pada bagian lain, Presiden Yudhoyono juga meminta pemerintah daerah bersama 
pemerintah pusat menyusun dan mengelola APBN dan APBD yang lebih sehat, 
berkualitas, dan berkesinambungan.

Perbaikan kualitas anggaran negara dan daerah ini didorong kebutuhan akan 
belanja pembangunan yang sangat tinggi.

Pada saat yang sama pemerintah masih terkendala oleh ruang fiskal yang sangat 
terbatas karena komposisi belanja negara masih didominasi oleh belanja mengikat 
yang bersifat wajib, seperti transfer ke daerah, belanja pegawai dan barang, 
subsidi, serta pembayaran bunga utang.

Di sisi lain, penyerapan APBD dan APBN belum berjalan seperti yang diharapkan. 
Padahal, pemulihan perekonomian global juga belum menentu.

Raker yang berlangsung satu setengah hari, berakhir pada Jumat siang ini, 
dihadiri pula oleh Wakil Presiden Boediono, para menteri anggota Kabinet 
Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian, pimpinan 
badan usaha milik negara, serta anggota Komite Inovasi Nasional dan Komite 
Ekonomi Nasional.

Saat membuka raker, Presiden Yudhoyono menegaskan, raker pemerintah pusat 
dengan para gubernur dan ketua DPRD tingkat provinsi se-Indonesia kali ini 
berbeda dengan dua raker sejenis yang digelar Februari 2010 di Istana Cipanas 
dan April 2010 di Istana Tampaksiring, Bali.

"Tiap rapat kerja ada agenda yang definitif, kemudian kita hilangkan hal-hal 
yang bersifat seremonial, ada output atau hasil," ujar Presiden.

Raker pertama di Cipanas menghasilkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 
tentang percepatan pembangunan nasional dan raker Tampaksiring menghasilkan 
Inpres Nomor 3 Tahun 2010 tentang program pembangunan berkeadilan serta 10 
arahan Presiden.

Penyerapan anggaran

Presiden Yudhoyono mengingatkan, diterbitkannya inpres pada kedua raker 
sebelumnya itu menandai ada proses kebijakan yang tidak lagi bersifat top-down.

Raker di Bogor, menurut Presiden, diadakan dengan pertimbangan hasil evaluasi 
atas efektivitas pembangunan di seluruh Tanah Air, termasuk penggunaan anggaran 
negara.

Penyerapan anggaran tahun ini, baik pada tingkat pusat maupun daerah, menurut 
Presiden, memerlukan koreksi dan perbaikan. Presiden juga menegaskan, penataan 
dan perbaikan diperlukan agar pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan umum 
tetap dapat dilakukan dalam semangat desentralisasi dan otonomi daerah.

Presiden mengingatkan, keseluruhan pemerintahan di tingkat pusat, provinsi, 
kota, atau kabupaten merupakan satu kesatuan utuh yang dipimpin oleh presiden 
sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan negara. Meskipun kepala daerah dipilih 
melalui sistem pemilihan langsung, hal tersebut tidak meniadakan tanggung jawab 
kepada presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan.

APBN yang sehat

Pada raker di Bogor ini, para gubernur dan ketua DPRD provinsi mengikuti 
pemaparan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa tentang perkembangan 
ekonomi makro.

Berikutnya, pemaparan Menteri Keuangan Agus Martowardojo tentang APBN yang 
sehat dan berkesinambungan menjadi agenda kedua.

"Dengan penjelasan tentang APBN ini, saya sungguh berharap semua yang hadir, 
utamanya para pimpinan di daerah, mengetahui kebijakan dasar APBN kita serta 
mengetahui kemampuan dan batas kemampuan untuk membiayai, baik pemerintahan 
umum maupun pembangunan," ujar Presiden Yudhoyono.

Agenda ketiga dalam raker diisi dengan pemaparan Menteri Perencanaan 
Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana tentang perencanaan dan 
pengelolaan APBD.

Agenda keempat atau terakhir adalah pemaparan dan pembahasan tentang langkah 
percepatan penyerapan anggaran serta revisi Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 
2003 tentang pengadaan barang dan jasa. Pada semua agenda kegiatan raker 
tersebut pemaparan diikuti dengan diskusi. (DAY)

<<1509487p.jpg>>

Kirim email ke