http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=149059
[ Sabtu, 07 Agustus 2010 ] Infrastruktur Buruk, LG Siap Hengkang dari Indonesia Transportasi Habiskan 25 Persen Total Biaya JAKARTA - PT LG Electronics Indonesia (LGEIN) mendesak pemerintah agar memperbaiki infrastruktur dan kepabeanan di Indonesia untuk kelancaran relokasi dan investasi. Produsen elektronik yang berkantor pusat di Korea Selatan itu mengancam hengkang alias relokasi ke negara lain jika permintaan itu tidak diwujudkan. Direktur Pemasaran LGEIN Budi Setiawan menyatakan, minimnya kualitas fasilitas infrastruktur, pelabuhan, dan kepabeanan (custom) selama ini memicu biaya tinggi pada proses produksi dan transportasi di pabrik Tangerang, Banten. Padahal, selain memenuhi permintaan pasar domestik, pabrik LG tersebut menjadi basis produksi untuk pasar ekspor ke Asia, Timur Tengah, dan kawasan lain. "Sebetulnya, memang pada kami ada sedikit hambatan karena pabrik di Indonesia juga menyuplai ekspor. Kami masih kurang puas dengan kondisi infrastruktur, termasuk di custom. Namun, menarik (relokasi pabrik) dari Indonesia itu opsi terakhir," kata Budi setelah peluncuran dua produk terbaru AC LG Hercules series, di JW Marriot, kemarin. Budi mengatakan, pihaknya telah menyampaikan keluhan tersebut dan bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan instansi terkait agar ada perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur. Ganeral Manager Refrigerator LGEIN Bambang Supriyadi mengakui, jalan dari dan menuju lokasi pabrik sangat buruk. Padahal, pabrik LG sudah 20 tahun berdiri. Kantor pusat, menurut dia, mempertimbangkan opsi relokasi. Meski begitu, LG masih mempertimbangkan nasib sebelas pemasok dan ratusan karyawan yang ada saat ini. "Biaya transportasi menyumbang 25 persen dari total biaya produksi. Angka tersebut sangat besar," ujarnya. Di Indonesia, LG memiliki dua fasilitas produksi, yakni di daerah Cibitung dan Legok, Tangerang. Fasilitas manufaktur itu merupakan satu di antara tujuh basis produksi LG di luar Korea Selatan, selain di Tiongkok, Turki, India, Vietnam, Brazil, dan Thailand. Khusus pabrik LG di Tangerang hanya memproduksi lemari pendingin untuk pasar domestik maupun ekspor. Dengan dua lini produksi, kapasitas produksi kini 545 unit per jam. LG meningkatkan volume produksinya menjadi 170 ribu unit per bulan mulai pertengahan tahun ini dari sebelumnya sebanyak 125 ribu unit. Di luar itu, kata Budi, perusahaan terus berkomitmen menanamkan investasi di Indonesia, termasuk meningkatkan kapasitas produksi pabrik, seiring dengan potensi pasar domestik yang besar. Porsi penjualan produk LG ke pasar domestik saat ini terus meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya sebesar 20 persen menjadi 25 persen. Porsi penjualan di pasar ekspor sedikit menyusut, dari 80 persen menjadi 75 persen. (gen/c1
