http://berdikarionline.com/editorial/20100809/terorisme-lagi-dan-kebiasaan-%E2%80%98mengalihkan%E2%80%99-isu.html

Terorisme Lagi dan Kebiasaan 'Mengalihkan' Isu
Senin, 9 Agustus 2010 | 2:04 WIB 


Editorial
     
     


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengadukan pada rakyat 
persoalan ancaman "pihak teroris" terhadap dirinya. Berita ini menjadi headline 
di sejumlah media massa nasional, dan kemudian diikuti ramai berita penangkapan 
dua orang tersangka teroris di Bandung, Jawa Barat (Minggu, 08/08). Seperti 
yang sudah-sudah, masalah terorisme, terutama ketika diungkapkan oleh seorang 
presiden, langsung mendapat pemberitaan masif dari media massa. Padahal 
pernyataan itu hanya sebuah pernyataan pendek yang tak bermakna apa-apa, baik 
bagi penyelesaian masalah terorisme itu sendiri maupun bagi peningkatan 
kesejahteraan rakyat.

Pilihan pemerintahan SBY-Boediono untuk berada di blok propaganda anti-teorisme 
yang dilancarkan Amerika Serikat (AS), mengandung konsekuensi politik regional 
atau internasional, dan nasional sekaligus. Di tingkat nasional, masalah 
terorisme telah berhasil menciptakan keresahan dan perpecahan. Lebih jauh, isu 
ini diduga telah dijadikan "isu sampingan" yang sesekali bisa dimunculkan, 
khususnya, ketika pemerintah mulai terdesak oleh tuntutan-tuntutan rakyat yang 
tak kunjung bisa dijawab. Persoalan rakyat yang nyata telah dipaksa menyingkir 
dari pembahasan, entah untuk sementara atau selamanya. Siklus pemberitaan 
menampilkan masalah rakyat yang datang dalam kesimpangsiuran, menumpuk kusut, 
dan pergi tanpa kesimpulan atau penyelesaian yang jelas. Sampai di sini, 
pragmatisme politik media massa berlangsung mutual dengan politik berkelit 
penguasa. Penguasa ingin menghindar dari masalah rakyat, sementara media massa, 
terutama korporasinya, menghasilkan sensasi berita untuk meraup keuntungan 
konsumen.

Dalam sebuah negeri yang besar dan beragam seperti Indonesia kompleksitas 
persoalan merupakan konsekuensi yang nyaris tak terhindarkan. Namun seorang 
presiden, sebagai pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan, sepatutnya 
mengenal setiap persoalan dan mengetahui hal prioritas yang paling dituntut 
oleh rakyat. Bisikan dari intelejen tak semestinya ditelan mentah-mentah di 
hadapan rakyat, apalagi kebenaran bisikan tersebut tak bisa 
dipertanggungjawabkan. Demikian halnya media massa yang cukup kritis mengangkat 
persoalan rakyat, namun pada saat yang sama telah berperan sebagai mitra 
propaganda penguasa. Tidakkah pengalaman jurnalistik di lapangan selama ini, 
dan hasil penelitian para pakar, telah menunjukkan bahwa terorisme merupakan 
masalah buatan, sebagai bagian dari proyek propaganda anti-tetoris dari 
imperialisme Amerika Serikat.

Sebelum isu terorisme ini dihadirkan lagi di Ciwidey kemarin, berbagai 
persoalan yang tengah didesakkan belum memperoleh jawaban. Karena itu kami 
mendesak pemerintah agar segera kembali pada persoalan-persoalan tersebut, dan 
membawasertakan jawaban-jawaban yang tegas, sederhana, dan kongkrit. Pola 
kehadiran isu terorisme, yang muncul di kala pemerintah terdesak secara opini, 
menciptakan anggapan bahwa terorisme adalah isu yang mengada-ada. Bahkan muncul 
ungkapan satir, bahwa tanpa isu tersebut dibesar-besarkan oleh media massa, 
kehidupan rakyat miskin sendiri sudah dibuat menyerupai teror dalam pengertian 
yang luas. Sedangkan terhadap media massa, kami himbau untuk lebih cermat dalam 
mengemban tanggungjawab sosialnya. Hal-hal krusial seperti masalah kenaikan 
harga barang, kemiskinan, dan situasi kebangsaan yang terpuruk agaknya lebih 
penting, ketimbang keluh-kesah presiden yang tak diketahui kebenarannya.






Kirim email ke