http://www.antaranews.com/berita/1281338886/baasyir-diduga-diterbangkan-dari-cilacap

Ba`asyir Diduga Diterbangkan dari Cilacap
Senin, 9 Agustus 2010 14:28 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | 

Abu Bakar Baasyir (ANTARA/Fouri Gesang Sholeh)iCilacap (ANTARA News) - Ustadz 
Abu Bakar Ba`asyir yang ditangkap jajaran Polresta Banjar, tepat di depan 
markas Polresta Banjar, Jawa Barat, Senin pukul 08.15 WIB, diterbangkan ke 
Jakarta melalui Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, Jawa Tengah.

Sejumlah sumber ANTARA menyebutkan, pengamanan di sekitar Bandara Tunggul 
Wulung berlangsung sangat ketat sejak Senin pagi.

"Saya tak tahu ada kegiatan apa di bandara, tapi yang jelas tempat itu dijaga 
ketat polisi," kata Mardi (40), seorang warga Jeruklegi yang kebetulan melintas 
di dekat Bandara Tunggul Wulung.

Sementara itu seorang petugas Bandara Tunggul Wulung mengatakan, sebuah pesawat 
jenis Cassa yang diberangkatkan menuju Jakarta sekitar pukul 10.00 WIB.

"Dari tadi pagi penjagaan di bandar berlangsung sangat ketat, tapi saya tak 
tahu apakah yang dibawa adalah Abu Bakar Ba`asyir atau bukan," katanya.

Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Bandara Tunggul Wulung Cilacap, Suwito, 
mengatakan, pihaknya mendapat laporan adanya penerbangan ekstra yang 
diberangkatkan pada Senin pagi.

Menurut dia, penerbangan rutin dari Bandara Tunggul Wulung hanya sekali dalam 
sehari yang dilayani Susi Air dengan tujuan Halim Perdanakusuma Jakarta.

"Setiap hari hanya satu kali penerbangan rutin dan kadang juga ada penerbangan 
ekstra yang dilakukan Pertamina, Holcim, atau kepolisian. Tapi saya belum tahu 
pasti penerbangan ekstra tersebut dilakukan oleh kepolisian karena saya 
kebetulan sedang berada di luar kantor," katanya.

Seorang sumber di kepolisian saat dikonfirmasi ANTARA membenarkan jika Abu 
Bakar Ba`asyir yang ditangkap di Kota Banjar diterbangkan melalui Bandara 
Tunggul Wulung Cilacap.

+++

http://www.antaranews.com/berita/1281341474/polri-baasyir-terima-laporan-rencana-peledakan-bom

Polri: Baasyir Terima Laporan Rencana Peledakan Bom
Senin, 9 Agustus 2010 15:11 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal | 

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, 
Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang, mengatakan bahwa Abu Bakar Baasyir 
diduga menerima laporan rutin terkait rencana peledakan bom di Indonesia.

"Setelah dikroscek, ternyata salah satu yang dicari polisi adalah Ustad Abu 
Bakar Baasyir," kata Edward di Markas Besar Kepolisian Negara RI (Mabes Polri), 
Senin.

Edward menjelaskan, anggota Detasemen Khusus(Densus) 88 Antiteror Mabes Polri 
menemukan keterkaitan antara proses latihan teroris di Aceh Besar, rencana 
peledakan bom di Indonesia dan pembuatan laboratorum bom di Cibiru, Bandung, 
Jawa Barat.

Jenderal polisi bintang dua itu menyatakan Baasyir berperan aktif merencanakan 
latihan teroris di Aceh, guna menjadikan Aceh sebagai basis Qaidah Aminah.

Selain itu, Baasyir juga menunjuk Ustad Mustakim, Ustad Abu Thalib sebagai 
pengelola latihan, serta Dulmatin sebagai pengelola/pimpinan lapangan.

"Beliau mengetahui rencana di Aceh karena menerima laporan rutin kegiatan dari 
pengelola lapangan," ujar Edward.

Densus 88 AT Mabes Polri menangkap Abu Bakar Baasyir bersama lima pengawalnya 
di daerah Banjar, Ciamis, Jawa Barat, Senin (9/8) sekitar pukul 08.15 WIB.

Selain itu, anggota Densus 88 juga menangkap jaringan teroris bernama 
Fakrulroji Tanjung alias Bayu, Hamzah dan menyita sebuah mobil bernomor polisi 
B-1600-KE yang diduga untuk membuat bom mobil, di Cikuda, Cibiru, Jawa Barat.

Kemudian, polisi membekuk jaringan teroris bernama Gopur dengan barang bukti 54 
butir peluru di Subang, Jawa Barat, Kurnia Widodo sebagai teknisi laboratorium 
lulusan teknik kimia salah satu perguruan tinggi dan Ustad Kiki beserta barang 
bukti bahan kimia untuk racikan bom, dokumen berisi jihad di wilayah Cileunyi, 
Jawa Barat.
++++
http://www.antaranews.com/berita/1281344134/terkait-rencana-peledakan-polri-buru-seorang-warga-perancis
Terkait Rencana Peledakan, Polri Buru Seorang Warga Perancis
Senin, 9 Agustus 2010 15:55 WIB | Peristiwa | Hukum/Kriminal |
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri 
memburu seorang warga negara Prancis yang diduga terkait rencana peledakan bom 
karena tercatat sebagai pemilik kendaraan bernomor polisi B-1600-KE yang akan 
digunakan untuk serangan bom mobil.

"Pemilik mobilnya sedang dalam pengejaran polisi, inisialnya sudah diketahui 
seorang warga negara Prancis," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes 
Polri, Inspektur Jenderal Pol. Edward Aritonang, saat konferensi pers terkait 
penangkapan Abu Bakar Baasyir sebagai jaringan teroris, di Jakarta, Senin.

Edward menuturkan, warga negara Prancis itu diketahui sebagai pemilik mobil 
jenis sedan yang akan digunakan untuk serangan ledakan bom mobil pada salah 
satu lokasi di Jakarta.

Warga Negara Perancis memiliki istri sebagai warga negara Maroko, yang diduga 
mengirim sejumlah dana untuk rencana serangan bom.

Edward menjelaskan, polisi telah menyita sebuah mobil sedan bernomor polisi 
B-1600-KE dari sebuah penggerekan jaringan teroris di Cikuda, Cibiru, Jawa 
Barat.

Edward menuturkan Mabes Polri telah berkoordinasi dengan pihak Interpol, guna 
melacak keberadaan seorang warga negara asing diduga terlibat jaringan teroris 
di Indonesia itu.

Selain itu, polisi juga menyita berbagai jenis bahan kimia untuk merakit bom 
mobil, serta menangkap seorang tersangka jaringan teroris bernama Fakrulroji 
alias Bayu, Sabtu (7/8).

Kemudian, anggota Densus 88 AT Polri juga menemukan rumah yang dijadikan pusat 
laboratorium untuk merakit bom di daerah Cikuda, Cibiru, Jawa Baray, serta 
menangkap ahli kiimia lulusan salah satu perguruan tinggi, Kurnia Widodo di 
wilayah Padalarang, Jawa Barat pada hari yang sama.

Informasi jaringan itu berkembang sehingga polisi menangkap Ustad Kiki beserta 
barang bukti dokumen buku jihad dan bahan kimia di wilayah Cileungi, Jawa Barat.

Jaringan lainnya yang terungkap, yakni tersangka Gopur dengan barang bukti 54 
butir peluru tajam, cairan nitrat, urea, serta tabung kimia di Subang, Jawa 
Barat.

Polisi menduga jaringan teroris yang tertangkap memiliki kemampuan merakit bom 
yang baik dan bisa membuat bom menggunakan unsur bahan kimia dengan efek 
ledakan tinggi.

"Jaringan itu pernah mengujicoba efek ledakan bom sudah dirakit di daerah 
pegunungan di Sumedang, Jawa Barat," tutur Edward seraya menambahkan efek 
ledakan yang ditimbulkan cukup tinggi.

Jaringan teroris itu merencakan sasaran peledakan pada beberapa wilayah, 
seperti kantor kedutaan besar, hotel internasional berbintang di Jakarta, Mabes 
Polri dan Gedung Brimob di Polda Jawa Barat, termasuk mentarget serangan bom 
terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hingga saat ini, Densus 88 AT Polri sudah menangkap 102 orang jaringan teroris 
yang di Aceh Besar, sebanyak 66 orang di antaranya menjalani penahanan.

"Ke-66 tersangka itu dibagi dalam 33 berkas dan akan segera menjalani 
persidangan yang dipusatkan di Jakarta," ujar Edward.





Kirim email ke