Benar, saya salah satu anggotanya dulu. Setau saya kantor igos di speedy learning center jg sudah kosong.

Memang tidak ada yg salah dengan membisniskan open source, lah wong saya hidup dr jualan itu koq..yang jd masalah, igos dulu dibawah banyak otoritas, mulai dr telkom, bi, trans manajemen, bank sumut, dan ristek..hal ini mengakibatkan igos tdk mampu berkembang dengan baik krn "terkekang" dgn banyaknya otoritas2x yg ada. Bukan saya mengatakan bahwa kehadiran pihak2x tersebut merugikan, akan tetapi saat itu kehadiran igos msh sangat prematur sekali, org2x yg berada didlm saat itu, msh bingung dgn konsep igos, apakah skdr komunitas atw perusahaan yg mencari profit?

Kalau igos ingin dibangkitkan, tentu sangat baik sekali. Hanya saja, buat apa?? Lebih baik manfaatkan wadah yg sudah ada, sehingga lbh efektif. Pertimbangan saya, sumber daya yang ada saat ini blm mencukupi utk membentuk banyak komunitas. yg sdh ada saja vakum, bagaimana kita mengharapkan komunitas baru akan lbh baik?

Sent from my iPhone
Fajar Maulana H, S.Kom
Medan, Indonesia
Freelancer Web developer

On 03 Agu 2010, at 18:18, [email protected] wrote:

Apakah pernyataan ini benar?
Dan bisa dipertanggung-jawabkan?
Saran saya:
1. Tidak ada yang salah dengan membisniskan Linux. Linux adalah sistem operasi yang gratis (dari software) tapi masak ilmu dan tenaga kita juga gratis? Kalau Linux sudah gratis, kita bantuin nginstall juga gratis, dan memberikan support dengan gratis, terus bagaimana cara nya dapur bisa berasap? 2. Adakan rapat pemilihan kepengurusan ulang, fit and proper test harus dijalankan. 3. Kalau pengurus yang kita anggap tidak baik, silahkan buat organisasi tandingan.

Salam.

Sent from Nokia HSPA+ System.

-----Original Message-----
From: Fajar Maulana Harahap <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 3 Aug 2010 14:11:52
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: Bls: [conf-medanlinux] Artikel bagus tentang Linux User Group
   (LUG) atau KPLI

Igos center sumut sudah padam (utk saat ini), kebijakan strategis dr
pihak otoritas yg terlalu menginginkan igos sumut dibisniskan membuat
semangat anggota padam, dan malas ikut kegiatan igos jadinya..

Sent from my iPhone

On 03 Agu 2010, at 13:37, Muhfi Asbin Sagala <[email protected]>
wrote:

On Mon, 2010-08-02 at 23:55 +0700, Ronny Rianto wrote:
Mencoba mengingat kembali perjalanan IGOS...

Hayoo..hayoo.. sapa tu yang pesimis? :D. Kita semua yang diskusi di
milis ini pasti sudah memulainya dari diri sendiri (seperti kakanda
Lubis bilang). Nah, sikap senasib sepenanggungan membuat kita
membentuk
komunitas agar kita sinergi.

Aku sangat-sangat setuju dengan langkah Pak Ronny Rianto dan Pak
Zulkarman Syafrin yang mengimplementasikan ide-ide mereka tentang FOSS
di lingkungan kerja mereka. Mereka bagian dari pengambil kebijakan di
instansi mereka masing2. Dan masih banyak juga kakanda-kakanda kita
yang
lain yang telah melakukan hal yang sama di instansi mereka masing2
dengan kadar yang berbeda2 pula.

"Mengingat kembali perjalanan IGOS", aku pikir IGOS saat ini sehat
wal'afiat kok pak. Yang aku agak merinding mengingat perjalanan "IGOS
Center SUMUT" (apa kabar ya IGOS Center SUMUT?). IMHO, Fenomena IGOS
Center SUMUT adalah indikasi awal dari melemahnya penetrasi FOSS di
Kota
Medan.


--
http://moehfi.blogspot.com
y! : ti_pa_tu
gtalk : thedeadwalkin

Kirim email ke