Lagi mikir nih. Apakah kebahagiaan kita adalah tanggung jawab kita sendiri semata?
 
Kan suka tuh dibilang orang, apakah kita mau bahagia atau tidak, itu kita yang menentukan sendiri. Itfs a choice. OK. Di satu sisi aku setuju banget. Kalo ada orang yang membuat kita tidak bahagia, ya jangan dekat-dekat pada orang itu, jangan tergantung pada orang itu. Kalo ada keadaan yang membuat kita tidak bahagia, ya cari suasana lain. Kalo tidak bisa pindah ke tempat lain, ya ubahlah cara pandang supaya bisa melihat hal-hal positif di tempat itu dan menjadi bahagia. Pagi tadi ada yang mengirimkan fwd-an berjudul gTiket Menuju Kebahagiaanh. Barusan aku posting juga ke sini. Aku setuju seratus persen dengan isinya. TAPI.... kalau kita mutlak menganut prinsip ini, sepertinya koq tidak ada tanggung jawab orang lain terhadap kebahagiaan sesamanya?
 
Aku kenal seorang wanita yang di masa kecilnya diperlakukan berbeda dengan kakak perempuannya oleh ayahnya. Lebih parahnya lagi kakak laki-lakinya yang tertua memukuli dia ketika dia gagal meneruskan kuliah yang telah dibiayai oleh kakaknya itu. Saat itu kedua orang tuanya tidak berbuat apa-apa untuk membelanya, karena mereka takut pada si sulung yang jadi tulang punggung keluarga saat itu. Wanita ini berkembang menjadi wanita yang punya kecenderungan untuk mengatur orang dengan uangnya. Dia juga kadang menunjukkan rasa tidak senang apabila anak perempuannya mendapat kebahagiaan. Anaknya sering diintimidasi bahwa dia akan jadi seperti tantenya, yaitu si kakak perempuan itu. Nah, siapa yang bertanggung jawab di sini jika wanita ini tidak bahagia? Tidakkah orang tuanya bertanggung jawab atas ketidakbahagiaannya? Tidakkah kakak laki2-nya punya andil merusak kebahagiaan wanita ini?
 
Aku kenal seorang pria yang ayahnya meninggal waktu dia masih kecil. Kemudian ibunya yang memang cantik itu pacaran dengan beberapa pria dan jadi bahan omongan orang. Pria ini sakit hati dan memutuskan untuk tidak menikah sementara ada wanita yang sebenarnya dia cintai. Dia takut wanita itu jadi seperti ibunya. Bukankah ada suatu keadaan tak terelakan di sini yang membuat dia jadi tidak bahagia dan bukan tanggung jawab dirinya sendiri?
 
Pernah juga ada yang cerita padaku tentang seorang pria yang membatalkan pernikahan tepat di pagi hari H pernikahannya. Kebayang kan gimana kaget dan sakitnya calon istrinya itu. Kalau dia menangis, terluka, atau bahkan jadi gila, dirinya sendirkah yang seharusnya bertanggung jawab atas air mata yang dia tumpahkan? Tidakkah calon suaminya itu sudah merusak separuh dari hidup wanita ini?
 


Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new and used cars.

Milis Curhat The Friendliest Way ...
[email protected]





SPONSORED LINKS
Bali indonesia hotel Bali indonesia Indonesia hotel
Romance relationship Bali indonesia vacation Bali indonesia travel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke