Wah, wah, thank you banget buat tanggapannya. Bermanfaat sekali. Banyak insight yang aku dapetin. Saking tertegunnya bacanya sampe lupa bahwa ini di warnet and time is running...
Orang bisa berubah karena keadaan. Betul. Pernah ada yang bilang sama aku bahwa orang itu kalo emang udah dasarnya A sampai mati pun akan jadi A. Susah berubah. Tapi aku selalu meragukannya. Beberapa orang pernah aku saksikan sendiri jadi berubah karena keadaan. Ada yang berubah jadi tidak baik, tetapi juda ada yang berubah menjadi lebih baik, KARENA KEADAAAN. Terus yang ini: Tapi menuntut mereka untuk bertanggungjawab > tanpa ada usaha dari diri kita sendiri untuk bahagia, > maka hal itu hanya buang2 waktu dan tenaga saja. Kita > berhak bahagia, so let's get it while we're alive. Emberrr. Sekali lagi thanks a lot for your insights. I have to leave now. My one hour is coming to the end.... --- In [email protected], Aa Gun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sekedar pendapat. > > KEBAHAGIAAN PADA DASARNYA ADALAH TANGGUNGJAWAB SEMUA > ORANG. TAPI PADA AKHIRNYA AKAN JADI TANGGUNGJAWAB KITA > SENDIRI. KARENA KITA SENDIRILAH YANG BISA MENENTUKAN > MAU BAHAGIA ATAU TIDAK. MENYALAHKAN ORANG LAIN KARENA > DIRI KITA TIDAK BAHAGIA, TIDAK AKAN MENYELESAIKAN > APA-APA. TINGGAL KITA MEMILIH, MAU BERUSAHA UNTUK > BAHAGIA ATAU DIAM TERPURUK MENGUTUK NASIB DAN > MENYALAHKAN ORANG LAIN. > > Keadaan kita hari ini adalah hasil dari keputusan2 > kita hari kemarin. Pola pikir kita hari ini akan > membentuk diri kita di masa mendatang. Jika kita > berpikir tidak akan bahagia di masa mendatang, maka > itulah yang akan terjadi sebagai konsekwensi dari > negatif thinking kita di hari ini. > > Ingat kata pepatah : "YOU ARE WHAT YOU THINK. Jika > kita takut gagal, maka kegagalanlah yang akan kita > dapat. Seperti contoh di bawah, pria yang menunda > pernikahan karena takut mendapat istri yang seperti > ibunya, maka kemungkinan yang bisa terjadi adalah > > 1)Dia tak akan pernah menikah karena selamanya > dicengkram ketakutan. Dan pada akhirnya itu adalah > tanggungjawabnya sendiri, karena dialah yang memilih > untuk tidak bahagia. > > 2)Dia menikah, tapi istrinya akan jadi seperti ibunya. > Penyebabnya bisa jadi karena sang istri kehilangan > kasih sayang akibat ketakutan sang pria yang > berlebihan mempengaruhi kehidupan mereka, sehingga > sang istri akhirnya mencari kasih sayang yang lain > walaupun pada dasarnya dia bukan tipe orang seperti > itu. Tapi orang bisa berubah karena keadaan kan ? > > Kebahagiaan anak yang diintimidasi akan seperti > tantenya memang akan jadi tanggungjawab ibunya dan > secara tidak langsung tanggungjawab tantenya. Tapi > sang anakpun bertanggungjawab pada dirinya sendiri, > karena dia bisa memilih apakah akan termakan kata2 > ibunya atau memilih untuk hidup bahagia dengan tidak > mendengarkan kata2 ibunya dan selalu berusaha mencapai > kebahagiaan. > > Pria yang meninggalkan mempelai wanita di hari H juga > bertanggungjawab pada kebahagiaan sang wanita. Tapi > sang wanitapun bertanggungjawab pada kebahagiaannya > sendiri. Apakah dia mau memilih untuk bangkit dan > mencari kebahagiaan lain, atau mau terus meratapi > nasibnya sampai jadi gila. Pada akhirnya it's her own > choice. > > Jangan pernah terpengaruh oleh perkataan negatif orang > tentang kebahagiaan, karena orang lain tak bisa > menentukan masa depan kita. Kitalah yang pada akhirnya > harus menentukan masa depan dan kebahagiaan kita > sendiri. > > Bukan berarti orang2 yang membuat kita tidak bahagia > akan lepas dari tanggungjawab. Mereka sudah pasti akan > dapat akibatnya, jika tidak di dunia ini, niscaya di > akhirat kelak. Itu akan jadi urusan mereka dengan sang > Pencipta. Tapi menuntut mereka untuk bertanggungjawab > tanpa ada usaha dari diri kita sendiri untuk bahagia, > maka hal itu hanya buang2 waktu dan tenaga saja. Kita > berhak bahagia, so let's get it while we're alive. > > Barang siapa orang yang hari ini lebih baik dari hari > kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barang > siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia > adalah orang yang rugi. Dan barang siapa yang hari ini > lebih buruk dari hari kemarin, maka dia adalah orang > yang celaka. > > Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum > kecuali jika kaum tersebut berusaha mengubah nasibnya > sendiri. > > Selama ada usaha, pasti ada hasil. Tidak ada rencana > dan usaha, berarti kita memilih untuk gagal. > > Peace ! > > --- Shuni Vashti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Lagi mikir nih. Apakah kebahagiaan kita adalah > > tanggung jawab kita sendiri semata? > > Kan suka tuh dibilang orang, apakah kita mau > > bahagia atau tidak, itu kita yang menentukan > > sendiri. Itfs a choice. OK. Di satu sisi aku setuju > > banget. Kalo ada orang yang membuat kita tidak > > bahagia, ya jangan dekat-dekat pada orang itu, > > jangan tergantung pada orang itu. Kalo ada keadaan > > yang membuat kita tidak bahagia, ya cari suasana > > lain. Kalo tidak bisa pindah ke tempat lain, ya > > ubahlah cara pandang supaya bisa melihat hal-hal > > positif di tempat itu dan menjadi bahagia. Pagi tadi > > ada yang mengirimkan fwd-an berjudul gTiket Menuju > > Kebahagiaanh. Barusan aku posting juga ke sini. Aku > > setuju seratus persen dengan isinya. TAPI.... kalau > > kita mutlak menganut prinsip ini, sepertinya koq > > tidak ada tanggung jawab orang lain terhadap > > kebahagiaan sesamanya? > > > > Aku kenal seorang wanita yang di masa kecilnya > > diperlakukan berbeda dengan kakak perempuannya oleh > > ayahnya. Lebih parahnya lagi kakak laki-lakinya yang > > tertua memukuli dia ketika dia gagal meneruskan > > kuliah yang telah dibiayai oleh kakaknya itu. Saat > > itu kedua orang tuanya tidak berbuat apa-apa untuk > > membelanya, karena mereka takut pada si sulung yang > > jadi tulang punggung keluarga saat itu. Wanita ini > > berkembang menjadi wanita yang punya kecenderungan > > untuk mengatur orang dengan uangnya. Dia juga kadang > > menunjukkan rasa tidak senang apabila anak > > perempuannya mendapat kebahagiaan. Anaknya sering > > diintimidasi bahwa dia akan jadi seperti tantenya, > > yaitu si kakak perempuan itu. Nah, siapa yang > > bertanggung jawab di sini jika wanita ini tidak > > bahagia? Tidakkah orang tuanya bertanggung jawab > > atas ketidakbahagiaannya? Tidakkah kakak laki2-nya > > punya andil merusak kebahagiaan wanita ini? > > > > Aku kenal seorang pria yang ayahnya meninggal > > waktu dia masih kecil. Kemudian ibunya yang memang > > cantik itu pacaran dengan beberapa pria dan jadi > > bahan omongan orang. Pria ini sakit hati dan > > memutuskan untuk tidak menikah sementara ada wanita > > yang sebenarnya dia cintai. Dia takut wanita itu > > jadi seperti ibunya. Bukankah ada suatu keadaan tak > > terelakan di sini yang membuat dia jadi tidak > > bahagia dan bukan tanggung jawab dirinya sendiri? > > > > Pernah juga ada yang cerita padaku tentang seorang > > pria yang membatalkan pernikahan tepat di pagi hari > > H pernikahannya. Kebayang kan gimana kaget dan > > sakitnya calon istrinya itu. Kalau dia menangis, > > terluka, atau bahkan jadi gila, dirinya sendirkah > > yang seharusnya bertanggung jawab atas air mata yang > > dia tumpahkan? Tidakkah calon suaminya itu sudah > > merusak separuh dari hidup wanita ini? > > > > > > > > --------------------------------- > > Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get > > pricing, reviews, & more on new and used cars. > > > > > ***TOO MEI LI TOO DANGEROUS*** > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > Milis Curhat The Friendliest Way ... [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/curhat/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

