Salam kenal buat kangmas maze_arwah Sebelumnya sorry kalau saran saya terkesan agak "menggurui". Engga loh ini cuma sharing pengalaman saya di jaman "baheula" dalam menghadapi "soal" yg namanya sekolah maupun kuliah.
Berlatar belakang dari keluarga yg serba minus saya terlahir. Bahkan di saat saya SD kelas 6 babeku "muleh" dan sejak itu tanpa ampun harus berhenti sekolah. Sejak berhenti sekolah saya mencoba cari kerja. Kebetulan tetangga rumah ada pabrik lilin, di situ saya 'numpang' kerja. Saya bilang 'numpang' karena kerjanya hanya mengepak lilin (1 peti lilin 48 pak) dengan sistem borongan jadi siapa aza boleh... leh... Nah setiap pulang 'kerja' seringkali saya menangis kalau ketemu teman-teman yg pake seragam si unyil. Sebab betapa inginnya saya sekolah tapi ga punya yg namanya du-it.... Boro- boro buat sekolah buat makan aja susyahnya minta ampun. Namun akhirnya terpikir juga buat coba-coba kerja lebih 'keras' lagi. "Keras" dalam tanda kutip di sini maksudnya sekeras-kerasnya kerja seorang anak kecil itu berapa sih? Karena upah mengepak 1 peti lilin hanya Rp 12,50 uang sekolah SD Negeri di tahun 76 sekitar Rp 175 Akhirnya dengan otak saya yg masih sangat sederhana mencoba mengkalkulasikan seberapa banyak peti-peti lilin yg harus saya hasilkan per harinya utk bisa membayar sekolah setiap bulannya. Setelah terkumpul cukup uang untuk mendaftar kembali akhinya saya kembali ke bangku sekolah, dengan catatan, pulang sekolah ga bisa ngacir maen-maen seperti anak-anak kebanyakan yg ortunya lebih mampu. Hal itu berlangsung terus, tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa menjadi kebiasaan yg bukan terasa sebagai beban. Sampai akhirnya saya lulus kuliah. Mau tahu pengalaman apa yg saya peroleh setelah lulus kuliah? Ternyata kelulusan dengan nilai terbaik ataupun berasal dari lulusan perguruan tinggi ternama bukanlah jaminan bahwa kalau kita kerja, kita akan di"welcome" di mana aza, tetapi kesungguhan kita dalam menekuni pekerjaan itulah yg membuat kita bisa lebih baik dan lebih berhasil dari yg lain. Sepengetahuan saya, tidak ada satu perusahaanpun yg sedang merekrut karyawan yg mensyaratkan si calon karyawan harus lulus 'tepat waktu' Kalau saran saya... coba deh cari kerja dulu. Jadi pagi kerja sore kuliah, atau sebaliknya. Saya masih yakin dengan pepatah kuno yg bilang where there is a will there is a way, sampai saat ini masih berlaku. Lagi pula... isin toh wis dadi masiwasiwa koq masih netek terus? Lah mandiri-e kapan? Salam, Stefanus. pengalaman kerja : Berawal dari buruh pabrik lilin, pabrik lampu, pelayan toko, clerk perusahaan export-import, analis kredit bank, pemimpin cabang, auditor manager di sebuah distributor bir... yg akhirnya semua saya tinggalkan. Sekarang cuma jadi pedagang kecil- kecilan.

