tinjil2000 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Salam kenal 
buat kangmas maze_arwah
 
 Sebelumnya sorry kalau saran saya terkesan agak "menggurui". Engga 
 loh ini cuma sharing pengalaman saya di jaman "baheula" dalam 
 menghadapi "soal" yg namanya sekolah maupun kuliah.
 
 Berlatar belakang dari keluarga yg serba minus saya terlahir. Bahkan 
 di saat saya SD kelas 6 babeku "muleh" dan sejak itu tanpa ampun 
 harus berhenti sekolah. Sejak berhenti sekolah saya mencoba cari 
 kerja. Kebetulan tetangga rumah ada pabrik lilin, di situ  
 saya 'numpang' kerja. Saya bilang 'numpang' karena kerjanya hanya 
 mengepak lilin (1 peti lilin 48 pak) dengan sistem borongan jadi 
 siapa aza boleh... leh... Nah setiap pulang 'kerja' seringkali saya 
 menangis kalau ketemu teman-teman yg pake seragam si unyil. Sebab 
 betapa inginnya saya sekolah tapi ga punya yg namanya du-it.... Boro-
 boro buat sekolah buat makan aja susyahnya minta ampun. Namun 
 akhirnya terpikir juga buat coba-coba kerja lebih 'keras' 
 lagi. "Keras" dalam tanda kutip di sini maksudnya sekeras-kerasnya 
 kerja seorang anak kecil itu berapa sih? Karena upah mengepak 1 peti 
 lilin hanya Rp 12,50 uang sekolah SD Negeri di tahun 76 sekitar Rp 175
 
 Akhirnya dengan otak saya yg masih sangat sederhana mencoba 
 mengkalkulasikan seberapa banyak peti-peti lilin yg harus saya 
 hasilkan per harinya utk bisa membayar sekolah setiap bulannya. 
 Setelah terkumpul cukup uang untuk mendaftar kembali akhinya saya 
 kembali ke bangku sekolah, dengan catatan, pulang sekolah ga bisa 
 ngacir maen-maen seperti anak-anak kebanyakan yg ortunya lebih mampu. 
 Hal itu berlangsung terus, tahun demi tahun berlalu, tanpa terasa 
 menjadi kebiasaan yg bukan terasa sebagai beban. Sampai akhirnya saya 
 lulus kuliah.
 
 Mau tahu pengalaman apa yg saya peroleh setelah lulus kuliah? 
 Ternyata kelulusan dengan nilai terbaik ataupun berasal dari lulusan 
 perguruan tinggi ternama bukanlah jaminan bahwa kalau kita kerja, 
 kita akan di"welcome" di mana aza, tetapi kesungguhan kita dalam 
 menekuni pekerjaan itulah yg membuat kita bisa lebih baik dan lebih 
 berhasil dari yg lain. Sepengetahuan saya, tidak ada satu 
 perusahaanpun yg sedang merekrut karyawan yg mensyaratkan si calon 
 karyawan harus lulus 'tepat waktu'
 
 Kalau saran saya... coba deh cari kerja dulu. Jadi pagi kerja sore 
 kuliah, atau sebaliknya. Saya masih yakin dengan pepatah kuno yg 
 bilang where there is a will there is a way, sampai saat ini masih 
 berlaku. Lagi pula... isin toh wis dadi masiwasiwa koq masih netek 
 terus? Lah mandiri-e kapan?
 
 Salam,
 Stefanus.
 
 pengalaman kerja : Berawal dari buruh pabrik lilin, pabrik lampu, 
 pelayan toko, clerk perusahaan export-import, analis kredit bank, 
 pemimpin cabang, auditor manager di sebuah distributor bir... yg 
 akhirnya semua saya tinggalkan. Sekarang cuma jadi pedagang kecil-
 kecilan.
 
 
     
                               Bener,,,,banyak menteri kita kuliahnya biasa2 
saja toh jadi menteri juga,kuliah atau tidak,bukanlah jaminan berhasil atau 
tidaknya di kalagan masyarakat.

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke