"Eh, si A itu kalo di kantor kok galak bener ya, suka killer ma orang.." keluh 
Topan pada Wijaya.
"Lha kamu gak tau po, dia itu di rumahnya kan kalah sama istrinya," Jawab 
Wijaya enteng.
"Lho, maksudnya?", tanya Topan ingin tahu.
"Yah, ulah A di kantor kan sebagai pelampiasan karena dia sangat tertekan di 
rumah. Istrinya mau dilawan, ntar KDRT pulak," jelas Wijaya lagi.
"Byuh, KRDT bung!, lha kalo diomeli terus sepanjang waktu kan bisa tertekan 
juga. Dongkol tau!," keluh Topan seakan membela A.
"Mo dongkol apa kagak, yang penting kayaknya ni, omelan kagak masuk pasal di 
KDRT ha ha ha," jawab Wijaya berseloroh.
"Iya sich ya. Pantes juga aku punya teman juga gitu. di rumah istrinya galak 
banget. suaminya 'ho-oh' aja. tapi saat di tempat kerja, udah deh, kayak 
gantian mau nelen teman-teman kantor yang menghalangi ambisinya" komentar Topan 
setengah melamun.

Terkadang kita tidak begitu mempedulikan dampak lain dari sikap kepada pasangan 
yang cenderung menekan (mengatur, red). Kita merasa sikap yang diberikan wajar 
dan pasangan bisa menerima. Minimal saat pasangan ada di hadapan kita. Kadang, 
kita tidak begitu tahu - bahkan gak mau tahu - bagaimana pasangan meresa sangat 
tertekan dan hanya bisa melampiaskan di tempat lain.

Pihak yang tertekan pun kadang tidak punya nyali untuk melawan. Apalagi jurus 
perlawanan hanya terpaku pada bidang fisik. Fisik bisa diartikan kekerasan. 
Bahkan fisik bisa menimbulkan dampak lain yang di luar dugaan.
Tapi, pelampiasan mental juga tidak kalah bahayanya. Bahkan pihak ketiga yang 
tidak tahu menahu dapat terkena dampaknya.

Betapa banyak orang yang melampiaskan amarah di kantor, padahal penyebabnya 
kemelut di rumah.
Betapa banyak orang yang melampiaskan amarah dengan ngebut di jalan, padahal 
penyebabnya bukan dengan pak Polisi, tapi dengan pacarnya. Bisa-bisa malah 
akhirnya berurusan dengan polisi.
Betapa banyak orang yang merasa punya kekuasaan, dengan menekan anak buah tanpa 
mau mengerti keterbatasan anak buahnya. Hingga si anak buah melampiaskan dengan 
membuat masalah di tempat lain.

Betapa sering kita menuntut pelayanan prima dari orang lain, karena kita merasa 
sudah banyak berjasa buatnya. Tanpa, kita mau mengerti bahwa orang lain pun 
akan berharap layanan prima dari kita MENURUT versi mereka. Bolah jadi kita 
sudah merasa sangat baik, tapi bagi banyak orang, kita malah dianggap sombong 
dan angkuh.

Jalan pertama memang harus mengerti bagaimana diri kita sendiri. Namun langkah 
berikutnya yang terpenting adalah mencoba mengerti bagaimana pasangan kita, apa 
maunya, apa yang menyenangkannya, apa yang dia tidak suka.
Pasangan berarti bukan sekedar suami-istri, tetapi juga pacar, teman, tim 
kerja, atasan-bawahan, dan siapapun yang berinteraksi 2 orang atau lebih dalam 
suatu pekerjaan bersama.

catt:
KDRT = kekerasan dalam rumah tangga

Padepokan Ki Asmoro Jiwo, 
Yogyakarta, 19 November 2009


      

Kirim email ke