Kom, begitu aku memanggil Siti Komasiah, ponakanku. Dia adalah anak kedua dari 
kakak pertamaku. Kebetulan kami lahir hampir bersamaan, beda hanya 1 bulan. 
Kami tumbuh pada jaman yang sama, bahkan sering main bersama. Hebohnya lagi, 
kami termasuk sepersusuan. Lho kok? di dalam tubuhku ini mengalir 4 orang Ibu. 
Ibu kandungku sendiri, kakak pertamaku, dan 2 ibu-ibu tetangga rumah. Kebetulan 
ibu berempat ini memang punya anak yang sepantaran (se-umur-an). Sering kali 
aku di-mong (diajak main) ke tetangga atau oleh kakak pertamaku. Sehingga saat 
tidak ada Ibuku, dan kebetulan aku menangis, secara responsif aku diberi ASI 
oleh mereka ini. Inilah penggalan cerita masa bayi dari orang-orang terkasih.
 
Kom tumbuh menjadi seorang anak yang agak tomboy. Keberaniannya di atas 
rata-rata anak perempuan waktu itu. Yang paling kuingat, saat dia dengan 
trengginas memanjat pohon salam 30an meter untuk memetik buahnya. Buah salam 
yang separoh ukuran kelereng, berwarna merah hati (yang sudah matang), sangat 
enak dikonsumsi anak-anak desa seperti kami. Sementara akunya yang ndut hanya 
menanti H2C (harap-harap cemas) di bawah pohon. Malah kebalik, tapi itulah 
faktanya.
 
Waktu berlalu demikian cepat. Dia berkeluarga dan mempunyai 3 orang anak. 1 
cewek, 2 cowok. Namun nasib malang tak dapat ditolak, anak perempuan pertamanya 
ini meninggal saat SD karena tenggelam saat renang. Waktu itu sedang belajar 
renang di kolam renang kendal bersama teman-teman sekolah dan gurunya. Mungkin 
telat diberi pertolongan. Tapi yang jelas, garis umurnya memang 'sudah 
waktu'nya.
 
Waktu berjalan terus sampai 4 bulan lalu. Konon Kom mengeluh sakit dada dan 
punggung akibat menimba air untuk menyiram tembakau. Berbagai pengobatan medis 
dan non medis dilakukan. Mungkin akibat terlalu banyak tangan dan terapi, 
sakitnya Kom malah makin serius. Pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit 
lain.
Waktu lebaran lalu sempat aku silaturahmi dan mencoba mengobatinya. Keluhannya 
waktu itu dada kanan sering nyeri, sesak nafas dan sulit tidur. Separoh badan 
bagian kanan dari atas sampai bawah tidak bisa berkeringat. Aku coba 
menempelkan tangan kananku ke tengkuknya dan berdoa mohon kesembuhan. Selang 10 
menit, badan bagian kiri sempat berkeringat. Aku tambah dengan pijat-urut di 
sekitar titik yang sakit. Alhamdulillah dapat sedikit meringankan sesak nafas 
dan menambah stamina. Tapi jujur waktu itu suara hatiku mengatakan "aku tidak 
mampu", sehingga hanya bisa menyarankan berobat ke beberapa tempat.
 
Sebulan lalu aku dengar dia kembali opname di rumah sakit daerah, kemudian 
dirujuk ke rumah sakit besar di Semarang. Aku sempat bezuk ke semarang dan 
membaca hasil CT Scan. Info dari 2 orang sahabatku yang berprofesi dokter 
mengatakan ada 3 dugaan, yaitu tumor paru-paru, adanya cairan/nanah dan tekanan 
di rongga dada. Kondisinya makin hari makin menurun. Kom tidak bisa tidur 
telentang horizontal. Bisanya setengah duduk atau duduk, karena rasa sakit. 
Selang masih dihubungkan ke rongga dadanya untuk menyedot cairan. Dokter tidak 
bisa mengambil tindakan operasi, penyinaran atau chemoteraphy karena kondisi 
pasien yang melemah.
 
Kemarin aku dan istri sempat bezuk ke rumah sakit lagi. Pandangan wajahnya 
makin tegang dan tiada yang bisa kami lakukan selain berdoa.
Pagi tadi, keponakanku yang lain telpon aku, mengabarkan akan membawa pulang 
Kom karena kondisinya tidak ada perubahan.
Siang ini...., HPku berdering lain, ponakanku tadi mengabarkan bahwa.... Kom 
telah pergi dengan tenang. Sayup-sayup terdengar suara orang menangis....
 
Kom, selamat jalan ponakanku
Engkau salah satu sahabat kecil terbaikku
Banyak jasa dan kebaikanmu 
Semoga Allah memberikan tempat yang lapang
Serta menyediakan syurgaNYA untukmu,
 
Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun......
 
M Kundarto


      

Kirim email ke