Ketika mendengar cerita kaum manula, betapa doeloe di sekitar kita banyak 
terdapat pohon-pohon super besar dibanding ukuran pohon saat ini. Sekedar 
penggambaran, diameter batang pohon sebesar rentangan tangan tiga orang dewasa, 
bahkan bisa lebih besar lagi. Namun pohon-pohon sekarang, baru rentangan tangan 
satu orang saja sudah cemolong (cemolong, di+colong, dicuri, menarik untuk 
ditebang pencuri).

Agaknya para manusia yang masih bersatu dengan nyawanya tidak mampu 
menanggulangi keserakahan kaumnya sendiri yang hobby menebang pohon. Dalihnya 
pun macem-macem.

Bagi desa-desa di dekat hutan, tidaklah aneh bangunan rumah mereka didominasi 
kayu jati kalau hutannya juga berupa tanaman jati. Ini 'simbiose logis' dan 
murah untuk menebang dengan aman (baca: karena banyak yang melakukan, masak 
jeruk teriak jeruk :p). Jadi harga mebel jati sangat terjangkau di wilayah ini, 
dan tentu dengan siasat keamanan : "nganternya nanti tengah malam ya, pak!".

Bagi perusahaan perkayuan, rasanya aneh jika mengajukan ijin HPH (hak 
pengelolaan hutan) untuk mengembangkan budidaya tanaman sawit. Apalagi 
kebanyakan Sawit yang akan dikembangkan lebih banyak di atas kertas. Lha 
kenapa? karena jelas dari proses membuka hutan saja, mereka akan dapat 
ber-gelondong2 kayu yang sudah sangat menguntungkan. Jadi, wajar kan, 
perusahaan kayu mendapatkan kayu. Kalo masalah ijinnya untuk perkebunan sawit, 
itu kan bagian dari strategi bisnis.
Apalagi, kalau sudah nebang di tengah hutan, mau melebar beberapa ratus meter 
atau beberapa puluh hektar, siapa yang akan ngecek?
Pengecekan ada sich, tapi sebatas jumlah titik panas yang terdeteksi oleh foto 
citra satelit dari ruang angkasa. Titik panas ini sering diberitakan sebagai 
kebakaran hutan, walaupun aslinya pembakaran hutan.

Bagi petugas di perkotaan, melihat pohon besar di tepi jalan dapat menimbulkan 
'alergi'. Dengan alasan membahayakan pengguna jalan karena mudah patah atau 
roboh saat terjadi angin kencang, nasib si pohon seperti rambut atas manusia, 
yang rutin dipangkas demi kerapian dan keindahan. Maka, pohon di perkotaan 
lebih berfungi keindahan daripada kerindangan, keasrian dan peredam pencemaran 
udara.

Namun penebangan berbagai bentuk ini sangat tidak mengenal kata berhenti 
apabila 'hanya' berhadapan dengan aparat penegak hukum, papan larangan, atau 
hukum itu sendiri. Yang penting kan mereka sedia uang dan orang-orang yang bisa 
membuat "tidak terbukti di persidangan". Lha urusan akherat? kan bisa diimbangi 
dengan sumbangan sosial, ntar kan malaikat ngitung neraca-pahala bisa 'break 
even point'.

Sedikit mengingatkan, agaknya manusia itu akan semakin ampuh dan disegani di 
negeri ini, ditakuti segala kalangan, hanya dengan satu syarat, yaitu apabila 
manusia itu sudah mampu memisahkan jasad dengan nyawanya. Mau bukti?

pertama, di pedalaman, ada sebuah hutan di perbukitan yang tidak ditebang 
karena dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

kedua, banyak pohon besar yang bermata air di bawahnya, dikeramatkan dengan 
dipagari dan diberi sesajen. aman dari penebangan.

ketiga, di suatu tempat di negeri ini, banyak pohon-pohon besar di-sarung-i 
(batangnya dibungkus dengan kain) karena diyakini punya tuah. aman juga dari 
penebangan.

keempat, jika dari kejauhan anda melihat ada beberapa pohon yang besar dan 
tinggi, yakinlah bahwa pohon itu berada di tengah kuburan. aman, karena yang 
'nunggu' buanyak dan gak terlihat.

Nah, akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa pohon-pohon itu hanya tepat 
dilestarikan oleh para manusia yang sudah berpisah dari nyawanya.

Bagaimana dengan menanam?
Betapa banyak slogan menanam di negeri ini.
Menebang satu, menanam satu.
Menebang untuk menanam.
Menanam satu pohon setiap hari.
Bahkan ada program menanam nasional.
Tapi ingat, tidak ada program memelihara pohon secara nasional.
Semua diserahkan kepada rakyat dan instansi terkait.
Jadi,
jangan tanya bagaimana nasib bibit pohon yang sudah ditanam itu.

Atau mungkin perlu kita serahkan juga tanggungjawabnya kepada nenek moyang yang 
sudah 'mendahului' kita?


Ki Asmoro Jiwo 
http://mkundarto.wordpress.com/
 
 


      

Kirim email ke