MEMAKAI OTAK AGAR HIDUP LEBIH BAIK bukan MEMAKAI HIDUP AGAR OTAK LEBIH BAIK. Beberapa bulan belakangan ini saya banyak ditanya oleh orangtua murid dan kenalan saya perihal otak. Terutama, para orangtua, mereka adalah orangtua yang baik yang tentunya mau memberikan yang terbaik bagi putra-putri mereka. Ada pernyataan para peneliti yang cukup menimbulkan reaksi ramai yaitu bahwa selama ini ternyata manusia rata-rata hanya memakai 5% kapasitas otaknya saja sedangkan orang-orang jenius memakai kapasitas otak mereka paling maksimum sebanyak 15% saja. Tentu saja, banyak orang tercengang dan merasa tertantang untuk menguak kapasitas yang 85% sampai 95% itu. Siapa sih yang tidak mau menjadi pandai? Akhirnya, bermunculanlah asupan-asupan anak yang mengandung bermacam-macam gizi, vitamin, mineral, lalu munculah gerakan-gerakan untuk menyeimbangkan otak kiri-otak kanan dan terakhir yang banyak digandrungi saat ini adalah mengaktifkan otak tengah yang juga menimbulkan pro dan kontra. Saya berkecimpung di dunia anak dan remaja selama 5 tahun belakangan ini, pada awalnya, saya ikut terpengaruh juga dengan konsep perihal memaksimalkan kapasitas otak, namun setelah banyak mengamati permasalahan anak dan orangtua, saya merasa bahwa kita tidak bisa hanya terpaku pada aktivitas-aktivitas untuk meningkatkan kecerdasan otak saja. Saya melihat banyak orang terpaku dengan usaha untuk memperbaiki kemampuan otak bukan untuk memperbaiki atau menjalankan hidup lebih baik ataupun lebih gigih lagi secara positif. Banyak orang lebih menyukai jalan pintas sehingga kurang menghargai proses dan waktu. Di dalam seminar saya, saya sering berkata kepada para orangtua, lihatlah bagaimana Tuhan berkarya, Tuhan menciptakan anak-anak lahir dari bayi dan perlahan-lahan menjadi dewasa. Tuhan tidak menciptakan anak-anak manusia langsung dewasa berusia 21 tahun. Dengan demikian, kita perlu bersabar juga dan menjalani proses-proses pendewasaan pribadi anak dengan tekun, janganlah percaya jalan pintas. KETIKA RANKING-NYA SUDAH MENINGKAT? Sebut saja Nora, gadis kecil, murid saya berusia 9 tahun. Orangtuanya mengeluh bahwa anaknya malas belajar dan nilai-nilai ulangannya buruk. Kemudian, kami berikan beberapa latihan termasuk beberapa gerakan yang dimaksudkan untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan. Selama 4 bulan mengikuti pelatihan, tentunya tidak melulu diberikan gerakan-gerakan tetapi ada banyak materi kombinasi lainnya, benarlah Nora yang berada di ranking 26 kini mendapat ranking 8 di kelasnya. Tentu saja orangtuanya gembira bukan kepalang… Namun 2 bulan berikutnya, Nora terlihat uring-uringan, ia terlihat bingung dan suka marah-marah sendiri, walaupun nilai-nilainya belum terlalu anjlok tapi Nora tampak tidak terlalu menghargai waktu dan usaha belajar seperti sebelumnya. Usut punya usut, Nora sekarang mempunyai masalah dengan sosialisasi. Setelah ia menduduki ranking 8, Nora pun mulai dikelilingi dengan teman-teman yang pandai dan perlahan dijauhi oleh teman-temannya yang tadinya berada di ranking 20-an. Guru-guru pun mulai menyapanya dengan ramah. Namun kini Nora pun mulai sering bertengkar dengan sahabatnya yang berada di urutan 20-an tersebut. “Kamu sekarang belajar melulu ya, kok kamu jahat sih sama aku, sudah tidak mau berteman lagi dengan aku? Aku memang nggak pinter kayak kamu sekarang, tapi kamu jangan gitu dong.” Kata sahabatnya. Kata-kata sahabat Nora ini menjadikan Nora bingung. Nora senang mendapat ranking 8 tapi dia belum siap untuk kehilangan sahabatnya yang tidak memiliki ritme belajar yang baik tersebut. Seandainya Nora lebih memilih sahabatnya, sahabatnya itu bukanlah teladan yang baik, setiap hari menonton film kartun sampai berjam-jam, tidak merasa bersalah jika belum menyelesaikan PR, orangtuanya sering dipanggil oleh guru karena kelakuan yang kurang positif… Lihatlah Nora, prestasinya sudah membaik sekarang namun ia berada di persimpangan jalan untuk memutuskan sesuatu yang sulit untuk hidupnya. Keputusannya itu tidak berhubungan dengan kecerdasan otaknya, keputusannya itu akan berhubungan dengan ‘kemauan’nya untuk bergerak maju dan meninggalkan zona nyaman, termasuk kemungkinan akan ditinggalkan sahabat yang dikasihinya. Apakah kita memperhatikan dengan cermat bahwa kebanyakan orang-orang jenius dunia menjalani hidup dengan sepi karena seringnya pemikiran-pemikiran mereka kurang dimengerti oleh orang-orang yang berkemampuan rata-rata sehingga para jenius itu terlihat aneh atau tidak hidup membumi. Relakah orangtua mengirimkan anak-anak mereka ke dunia yang sepi seperti itu? Saya kagum dengan orang-orang jenius tapi saya jauh lebih mengagumi orang-orang yang bisa menjalani hidupnya dengan bahagia dan berhasil. Orang-orang itu tidak harus ber-IQ tinggi tapi sangat indah bila ia menjadi orang bahagia, berhasil dan hidupnya berguna bagi banyak orang. PERIHAL OTAK KANAN Banyak ulasan-ulasan tentang cara mengaktifkan otak kanan, saya setuju. Tetapi promosi yang berlebihan itu membuat banyak orang lupa akan arti penting otak kiri. Tahukah para orangtua, anak-anak yang terlalu dominan otak kanannya sering kali sulit diberitahu, berkhayal terlalu berlebihan, perasaannya sering naik-turun (moody)? Daripada mengagungkan salah satu bagian otak, saya lebih setuju dengan para pakar yang mengulas hal-hal yang bersifat ‘menyeimbangkan’ kerja otak. PERIHAL OTAK TENGAH Jika anda tertarik untuk mendapat ulasan secara medis, anda bisa membaca buku dr. Arman Yurisaldi S, M.S., SpS (Dokter Spesialis Saraf/Neurologist). Jujur, saya tidak kenal dengan beliau (ya, bukan tidak mungkin kami akan berkenalan di masa yang akan datang), tetapi buku beliau telah memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan yang selama ini saya tanyakan. Ketika orangtua murid bertanya perihal otak tengah, saya tidak segera menjawab, saya perlu melihat referensi-referensi yang jelas. Namun dari referensi-referensi yang didapat, tetap saja tidak ada jawaban yang jelas tentang bahaya-tidaknya konsep ini. Beberapa fakta yang bisa kita lihat dan pertimbangkan; beberapa negara yang sudah mengaplikasikan konsep ini antara lain negara yang menganut budaya ‘bunuh diri’ jika menganggap hidupnya gagal dan juga tingkat korupsinya tinggi lalu juga ada negara komunis. Kemudian, tidak ada seminar/pelatihan untuk orang dewasa, orangtua hanya diberikan arahan-arahan saja, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa konsep itu tidak berbahaya? Jika seorang anak dapat menggambar ataupun dapat mengendarai sepeda dengan ditutup matanya, hal pertama yang terlintas dalam benak saya bukan tentang kehebatannya namun justru tentang betapa kita melecehkan sepasang mata yang diberikan Tuhan pada kita. Melihat dengan mata menjadi suatu kemampuan yang diremehkan. Coba bayangkan, jika dengan mata tertutup sang anak tahu keberadaan di mana ayahnya yang sedang berada di tengah keramaian, keberadaan sang ayah diketahui dengan cara mencium bau-bauan ataupun menangkap gelombang-gelombang, terpikirkah kita bahwa sebenarnya kita sedang membangkitkan suatu ‘kemampuan’ lain? Pendapat saya, kita tidak sedang membuat anak-anak kita bertambah pandai namun kita berusaha membangkitkan suatu indra ke-enam. Tahukah orangtua, orang-orang yang mempunyai indra ke-enam hidupnya sungguh menderita dan banyak dari mereka yang ingin agar kemampuan tersebut diambil daripadanya? Ada baiknya mata kita bisa tertutup dan beristirahat atau kita sebut, kita pergi tidur, itu berarti kita menenangkan otak kita atau seperti baterai kita men-charge tenaga kita. Namun seandainya kita mampu juga melakukan macam-macam aktivitas saat mata tertutup, berarti sadar ataupun tidur tidak ada bedanya. Bagaimana kita bisa beristirahat dengan baik? Memang latihan aktivasinya tidak harus ditutup mata, ada juga latihan yang tidak ditutup matanya. Tapi, pikirkan hasilnya? Seorang anak menjadi mampu mendengar dan mencium hal-hal yang seharusnya dibatasi saja dengan kemampuan mata dan telinga. Jika anak bisa melihat uang di dalam dompet tertutup, melihat sesuatu di balik dinding solid… Benarkah itu kemampuan otak? Ingat juga bahwa mahkluk-mahkluk halus pun mempunyai gelombang-gelombang, bukan tidak mungkin anak-anak kita pun dapat menangkap gelombang-gelombang supranatural yang mengacaukan kehidupan anak. Pendapat saya bisa salah, bisa benar, karena ini adalah asumsi. Asumsi yang kurang positif ini berangkat dari belum adanya kenyataan atau bukti yang nyata tentang pengaruh jangka panjang terhadap hidup seorang anak yang rajin berlatih mengaktifkan otak tengahnya. Yang sangat saya kawatirkan adalah, mengapa sesuatu yang belum terbukti secara jangka panjang diijinkan langsung diaplikasikan kepada anak-anak kita? Anak-anak? Kenapa tidak orang dewasa saja? Alasannya hanya untuk melindungi suatu hak. Namun, jika ternyata mencelakakan anak-anak, bagaimana? Bukankah orangtua seharusnya melindungi anak-anak mereka? BERFOKUS PADA BAGAIMANA MENJALANI HIDUP Marilah kita melatih anak-anak kita untuk menjalani hidup dengan baik, berani menghadapi dan menyelesaikan masalah, gigih, mau berjuang dan tidak manja. Orangtua juga perlu menerapkan disiplin dan kasih disertai tawa canda di rumah dan komunikasi secara terbuka. Perbanyak kalimat-kalimat tanya yang membuat anak berpikir sehingga mereka akan menggunakan otaknya, hindari terlalu sering memberikan perintah sehingga anak tidak kreatif mencari solusi bagi dirinya sendiri jika menghadapi permasalahan... Nah! Jika anak-anak sudah besar, bahagia dan berhasil, scan-lah otak mereka, saya yakin kita akan menemukan bahwa otak mereka terpakai jelas secara seimbang otak kanan-tengah-kirinya... Ketika Einstein menjalankan hidupnya, saya yakin Eistein tidak meributkan tentang struktur otaknya, tapi keingin-tahuannya, keinginan hati yang kuat (passion), disertai lingkungan yang mendorongnya untuk terus membuktikan penemuan-penemuannya, itulah yang membuat struktur otaknya berkembang secara berbeda. Ditulis oleh: Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM Principal of Yemayo Advance Education Center Facebook page: Yemayo Advance Education Center http://www.facebook.com/pages/Jakarta/Yemayo-Advance-Education-Center/243505283196?ref=search&sid=1137871950.2883862125..1 Website: www.yemayo.com Parenting Talkshow bersama Yemayo Advance Education Center Di Radio DayFM – gelombang 103,4 FM Setiap hari Senin, pukul 16.30

