MARKETING  KAMPUS
 
                                         Oleh : Muhamad Kundarto
 
Marketing adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas 
untuk memasarkan suatu produk. Marketing Kampus adalah pihak yang diharapkan 
secara profesional dapat memasarkan kampus, terutama dalam meningkatkan animo 
mahasiswa baru. Dalam perkembanganya, Marketing Kampus juga bertugas menjalin 
hubungan kerjasama dengan user, yaitu pihak-pihak yang akan menerima lulusan 
kampus tersebut. Sehingga posisi Marketing Kampus sangat strategis dan vital.
 
Namun, apakah kampus-kampus tersebut sudah mempunyai bagian Marketing, atau 
apapun namanya, yang bisa bekerja secara profesional dan proporsional? Marilah 
kita lihat. Mungkin banyak kampus besar yang masih mengandalkan jurus promosi 
secara konvensional, yaitu membuat lealfet/poster dan mengumumkan penerimaan 
pendaftaran di media koran. Mereka masih terlalu percaya diri bahwa animo calon 
mahasiswa baru akan tetap tinggi. Tidak sadar bahwa rating tinggi ini telah 
terbangun puluhan tahun dan perlu selalu untuk menjaganya.
 
Agaknya manajemen kampus juga masih bias, apakah tersentral di universitas, 
fakultas atau jurusan; khususnya untuk urusan per-marketing-an. Jika ada 
fakultas/jurusan mempunyai animo tinggi, yang berdampak pada penerimaan dana 
besar, maka itu dianggap sebagai prestasi fakultas/jurusan tersebut, sehingga 
bebas membangun fasilitas fisik dan non fisik. Demikian juga jika ada 
fakultas/jurusan mempunyai animo rendah, sering mereka 'ditinggalkan' oleh 
universitas, dan disuruh untuk bertanggungjawab mandiri dalam meningkatkan 
animonya. Sementara dana yang diberikan universitas sangat minim. Dana ini 
hanya cukup buat mencetak leaflet, poster dan memasang iklan beberapa kali 
saja. Padahal jurus-jurus marketing sangat banyak dan kompleks, dimana 
kesemuanya ini memerlukan konsekuensi dana yang tidak sedikit.
 
Belum lagi nasib para pelaksana di bagian promosi (marketing). Mereka sering 
bekerja hanya berdasar skep bergulir (personilnya gantian tiap tahun), honor 
sangat rendah, tetapi dituntut bisa menjadi malaikat penyelamat atau malaikat 
pembawa cahaya terang bagi fakultas/jurusan-nya. Jika beberapa orang terlihat 
bekerja bagus, sudah pasti menjadi langganan mendapat skep menjadi tim promosi, 
tetapi sudah pasti juga selalu kerja bakti dengan 'terpaksa ikhlas'. Ironisnya, 
bekerja buruk pun akan mendapat honor yang sama, karena penentuan honor hanya 
didasarkan pada jabatan kepanitiaan, bukan kinerja.
 
Belajar promosi atau marketing perlu berkiblat pada perusahaan swasta melakukan 
promosinya. Mereka punya divisi marketing yang bekerja dengan dukungan 
fasilitas dan dana yang memadai. Kita dapat melihat berbagai iklan yang 
terpampang di papan iklan pinggir jalan. Konon untuk satu papan iklan tersebut 
menelan beaya sekitar 100 juta rupiah. Belum papan nama se kota. Belum papan 
nama se pulau. Belum papan nama se Indonesia. Dengan demikian alokasi dana 
untuk marketing/promosi dapat dihitung secara proporsional. Khusus untuk 
kampus, dapat diperhitungkan dengan jumlah penerimaan dana setiap tahunnya, 
baik dana dari mahasiswa maupun sumber lainnya.
 
Apabila dukungan dana dan fasilitas sudah profesional dan proporsional, langkah 
berikutnya mempersiapkan tim marketing yang mampu bekerja secara profesional. 
Semua personil di tempat pendaftaran mahasiswa baru perlu dilakukan pelatihan 
khusus, sehingga mampu melayani dengan profesional dan bekerjasama secara tim. 
Personil lainnya juga harus memberikan dukungan nyata, misalnya Satpam, Dosen, 
Pegawai, dan Mahasiswa; karena boleh jadi mereka akan meminta informasi di luar 
lokasi pendaftaran.
 
Marketing kampus bukan hanya fokus pada target mencari mahasiswa baru. 
Marketing kampus juga bertugas dalam menjalin hubungan dengan pihak luar 
kampus, terutama untuk kebutuhan magang, penelitian, pengabdian masyarakat, dan 
penerima tenaga kerja. Banyak kampus masih sangat terlena dengan hanya 
mengandalkan pendapatan dari SPP dan sumbangan mahasiswa. Padahal potensi 
dengan pihak luar kampus, seperti instansi pemerintah, swasta dan alumni juga 
memegang peranan yang tidak kalah vitalnya. Apabila kerjasama dengan pihak luar 
kampus ini telah terbina dengan baik, maka penentuan besarnya SPP dan sumbangan 
akan lebih terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
 
Koordinasi satu atap atau satu meja juga penting. Tiap jurusan punya tim 
promosi. Tiap fakultas juga punya. Universitas juga merasa perlu memiliki tim 
promosi. Tetapi tim promosi antar jurusan dan fakultas sangat jarang melakukan 
koordinasi berbagi peran. Ada kesan malah mereka bersaing dalam satu kandang. 
Fenomena ini jelas membuat kinerja makin memburuk. Sehingga diperlukan 
manajemen satu atap untuk tanggungjawab yang menyeluruh.
 
Akhirnya, apabila kampus tetap ingin bertahan dan eksis dalam persaingan yang 
semakin global ini, maka sangat perlu akan keberadaan Tim Marketing yang 
profesional, dengan dukungan SDM berkualitas, dana memadai dan fasilitas yang 
mendukung. 
 
Ingat, walau Akademisi sudah terbiasa menghadapi orang, bukan jaminan bisa 
menjadi marketing yang handal. Setiap pekerjaan profesional membutuhkan 
spesialisasi keahlian.
 
Serahkan pakerjaan pada ahlinya, lalu lihat apa yang akan terjadi.

 


      

Kirim email ke