Assalamu a'laikum wr. Wb.
Sekedar sharing, setelah membaca tulisan saya ini mohon pendapat dari teman - teman. Saya pernah mendengar sebuah penuturan yang menarik dari seorang guru saya. Beliau berkata bahwa sebenarnya ada perbedaan dalam cara memahami dan menafsirkan antara Al Qur'an dan Hadist Nabi. Perbedaannya kurang lebih begini : Al Qur'an Merupakan wahyu Ilahi yang susunan kata per kata sudah baku. Oleh karenannya untuk memahami Al Qur'an kita menggunakan metode induksi dimana satu kesimpulan atau peraturan di jabarkan menjadi penjelasan - penjelasan. Nah, penjelasan - penjelasan ini (biasa disebut tafsir) sangat bergantung pada siapa yang menafsirkannya. Dalam artian apakah latar belakang keilmuannya, siapa gurunya, dsb. Oleh karenanya, tafsir seseorang yang ahli dibidang tata bahasa akan mempunyai pendekatan yang berbeda dengan seseorang yang ahli di bidang fiqh, ilmu alam, dsb. Di situlah letaknya mukjizat Al Qur'an, ia tidak akan pernah habis dibahas dari sudut manapun, walaupun ilmu pengetahuan yang baru muncul dan dipakai untuk menafsirkan Al Qur'an, ia akan tetap relevan. Ingat kasus firaun pada jaman Nabi Musa A.S. yang beberapa tahun yang lalu ditemukan utuh di laut merah. Tafsir - tafsir yang berkembang (begitu juga terjemahan Al Qur'an) bukanlah Al Qur'an. Ia hanya produk hamba Allah yang ingin lebih mendekatkan diri kepadaNya dengan cara memberikan sumbangan hasil Ijtihadnya ke dunia Islam. Oleh karena ia adalah hasil dari seorang manusia maka tafsir - tafsir tersebut masing - masing mempunyai kelemahan - kelemahan. Termasuk kemungkinan - kemungkinan terjadinya kesalahan penafsiran. Yang saya maksud salah adalah bila dibandingkan dengan keinginan Sang Pensabda yaitu Allah. Karena kebenaran mutlak hanya milik Allah, maka penafsiran - penafsiran itu semua belum tentu benar. Hadist Merupakan hasil dari perkataan ataupun tindakan Rosulullah yang didengar atau dilihat oleh sahabat ataupun Istri beliau. Dari mereka itulah kemudian perkataan dan tindakan beliau disampaikan kepada orang lain dan seterusnya. Ingatkah kita pada sebuah permainan dimana 10 orang berjejer pada satu baris, kemudian orang di depan diberikan sebuah kalimat lalu diminta ia untuk menyampaikan kalimat itu ke orang yang dibelakangnya dan demikian seterusnya sampai ke orang yang terakhir. Kemudian orang yang terakhir diminta menyuarakan dengan lantang apa kalimat tersebut. Ternyata kalimat tersebut tidak sama persis dengan kalimat yang didengar oleh orang yang pertama. Demikian juga hadist, karena ia merupakan buah tutur tinular maka perlu dipertanyakan keabsahannya. Oleh karenanya, timbul sebuah ilmu untuk menilai kevalidan suatu hadist dengan menilai kebaikan dan keburukan sang penutur (perowinya). Satu kejadian (perkataan ataupun tindakan) yang dilakukan oleh Rosulullah dapat didengar ataupun dilihat oleh beberapa orang sahabat. Oleh karena efek dari pesan berantai tersebut bisa saja terjadi beberapa hadist untuk masalah yang sama mempunyai bentuk yang berbeda. Untuk itu dalam memahami hadist kita memakai metode deduksi yaitu dari bebrapa perkataan (hadist) kemudian kita membuat kesimpulan. Analoginya seperti polisi ketika menyelidiki suatu kasus. Dia akan menayakan keterangan dari banyak pihak dan kemudian akan membuat kesimpulan kira - kira apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit kembali mengenai penilaian kevalidan sebuah hadist. Penilaian itu menggunakan metode menilai seseorang berdasarkan kekuatan hapalannya dan reputasinya. Seseorang yang kuat hapalannya tapi punya reputasi yang jelek (sering berbicara bohong) akan menjadikan perkataan yang ia keluarkan diragukan kebenarannya. Demikian juga sebaliknya. Dalam penilaian dua criteria itu, ahli hadist (muhadist) mempunyai penggolongan yang berbeda - beda. Ada yang menggolongkan menjadi 5 tingkatan pada masing - masing criteria, ada yang enam bahakn ada yang delapan. Perbedaan ini juga mengakibatkan berbedanya tingkat kesahihan suatu hadist menurut penilainnya. Bisa saja hadist A dinilai shahih oleh muhadist A tapi dinilai kurang oleh muhadist B. Jadi dapat dilihat, banyak celah dimana terjadi perbedaan antar muslim. Tapi perbedaan tersebut bersifat khilafiyah karena berasal dari manusia. Perbedaan tersebut juga membawa rahmah yang berupa berkembangnya ilmu pengetahuan akibat perenungan - perenungan dan diskusi - diskusi yang sehat antar ulama (orang yang berilmu). Perbedaan - perbedaan tersebut janganlah kita jadikan penyebab pecahnya umat karena hal tersebut akan membawa murka Allah ke atas kita. Marilah kita melihat ke persamaan - persamaan yang kita miliki seperti Allah tuhan kita, Muhammad panutan kita, Al Qur'an pedoman hidup kita. Banyak - banyaklah membaca tafsir maupun hadist dari berbagai sumber kemudian intisarikan dan selanjutnya pilih yang mana yang menurut kita benar (dengan perenungan yang mendalam). Dan setelah kita memilih, istiqomahlah dalam pilihan kita. Inilah yang disebut berijtihad. Sehingga kalau salah kita dalam memilih (pilihan dari perenungan dan telaah yang mendalam) maka kita masih diberikan pahala 1 oleh Allah, kalau benar maka 2 atau lebih sesuai kehendakNYa. Sekali lagi benar dan salah yang menentukan hanya Allah. Yang jelas - jelas salah adalah kalau kita hanya menganut perkataan satu orang tanpa mau mendengarkan perkataan orang lain. Kenapa salah? Karena mengikut secara buta itu berarti melanggar perintah Allah untuk selalu berpikir dan berijtihad. Oleh karenanya, marilah kita perkaya khasanah pengetahuan kita. Jadilah seorang dokter, arsitek, polisi, farmasis, ekonom dsb yang juga mempunyai pengetahuan yang kuat mengenai agamanya. Mudah - mudahan kita dapat menggetarkan musuh - musuh islam dengan menunjukkan betapa hebatnya orang islam dan ilmu pengetahuan, teknologi, social dan budaya kembali berkiblat pada kita seperti jaman keemasan dulu. Dan Allah lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana Wassalamu 'alaikum wr. Wb. M. Faruqi Perdana

