wa'alaikum salam wr.wb setuju!! elite politik selama ini menjual permainannya dengan kampanye parpol dan pemilu yg menghabiskan uang triliyunan rupiah dari kas negara (pajak, hasil bumi, eksport import, dlsbnya)hanya sekedar membeli kartu pemilu,stempel, tinta, spanduk, dll. yg akhirnya hanya masuk ke dalam tong sampah, diinjak2, dibakar, dirobek, dlsbnya. yg seharusnya dana tersebut bisa digunakan untuk membuka lapangan kerja dan mengatasi pengangguran, menekan tingkat kematian karena kelaparan, membangun infrastruktur karena bencana, dlsbnya, tapi sayang..triliyuan rupiah itu hanya masuk ke tong sampah, dibakar dan memberi makan para pengemis2 elite yg katanya wakil rakyat, tapi tindakan mereka selama ini, hanya memperkaya diri dan menyusahkan rakyat, membuat malu rakyat dengan moral para pejabatnya yg dengan gaji mahal, mereka membayar pelacur2 murahan.
saatnya kita untuk menolak segala pembodohan yg selama ini dilakukan oleh para pemain elite politik yg selama ini koar2 dengan janji2 manisnya. silahkan mereka buat permainan dengan kampanye parpol dan pemilunya, tapi kita rakyat mempunyai hak untuk tidak ikut dalam permainan kotor mereka selama ini dan mengatasnamakan pemilu, yg merupakan perbuatan mubajir dan merampok kekayaan negara, dan merupakan hak kita juga untuk mendapatkan kekayaan tersebut dan bukan hak para elite politik yg selama ini menjual permainannya dan rakyat yg selama ini dibodohi, akhirnya ikut membeli dan ternyata memperkaya mereka. lihat tingkah laku anggota dewan, yg spt tertutup telinga dan matanya atas segala bencana yg menimpa dari setiap penjuru, namun mereka asik melenggang tanpa dosa dan meminta tambahan dana untuk terus merusak negara dan menyusahkan rakyat. Ingat..mereka bisa duduk disana, karena kebodohan kita yg selama ini mengikuti permainan mereka atas nama pemilu dan memilih mereka. tapi nyatanya mereka mengkhinati kita. jadi..buat apa lagi kita mengikuti permainan pemilu mereka?? saatnya pemerintah dan anggota dewan yg terhormat memandang kita (rakyat). karena mereka yg butuh suara kita untuk memilih mereka, tapi pada saat kita tidak mau lagi dibodohi dan dipecundangi, maka mereka tidak akan bisa lagi duduk dan bertahta disana untuk memainkan permainannya. silahkan para elite politik menjual permainannya dalam parpol dan pemilu, tapi saatnya rakyat harus pintar untuk tidak membeli dan mengikuti permainan mereka. ingat!! mereka bisa melakukan berbagai macam kedzoliman dan menipu rakyat, karena ada campur tangan rakyat sendiri yg memilih mereka dan mempercayai mereka duduk disana, tapi berdasarkan pengalaman dari beberapa pemimimpin dan anggota dewan yg silih berganti namun kerjaan mereka hanya menipu rakyat. Mereka hidup mewah diatas penderitaan rakyat. Coba bandingkan pada saat pemerintahan Rasul dan sahabat, mereka tidak akan makan, sebelum rakyat makan. Tapi lihat para petinggi disini, mereka mengenyangkan perutnya dan tujuh turunannya hingga muntah2 tanpa perduli disetiap pelosok daerah banyak rakyat menjerit kelaparan dan anak2 busung lapar. Lihat Rasul yg selalu mengganjal perutnya dengan batu menahan lapar asalkan rakyatnya kenyang, dan tidak ada satu dinarpun yg ditinggalkan oleh beliau setelah wafatnya, tapi lihat pemimpin di sini, sampai matipun penguasanya dengan tenangnya sudah meninggalkan limpahan kekayaan pada turunannya hasil merampok rakyat. Lihat Umar yg setiap malam berkeliling melihat keadaan rakyatnya, hingga memanggul sendiri gandum untuk diberikan kepada rakyatnya yg lapar serta memasakannya. tapi coba lihat pemimpin disini dengan mobil mewahnya, berlaga acuh tidak mengenal rakyatnya, dan mereka lupa bahwa mereka bisa berkuasa, karena kita memilihnya. jadi..masihkan kita mau dibodohi oleh elite politik dgn permainan parpol dan pemilunya??kebaikan dan kehancuran negeri ini bukan berada pada sekelompok orang, tapi ada pada setiap warga negara disini. karena semua itu adalah pilihan. permainan mereka tidak akan berjalan, bila tidak ada pemain yg ikutan dalam permainannya, dan otomatis permainan mereka akan berhenti dengan sendirinya, karena kita tidak mau ikutan main dengan mereka. salam hana --- In [email protected], "Heri-Santoso, ID3P-Linfox" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamualaikum wr.wb > > Sekedar Opini...... > > Kalau mau jujur sebenarnya kita tidak perlu tergantung pada Negara, > negara hanya sebagai lembaga formalitas tidak bisa memberikan pelayanan > pada rakyat. Sering terjadi malah rakyat memberikan pelayanan pada > (jongos) negara seperti pungli pada pengurusan KTP, SIM bahkan membayar > pajak dan masih banyak yg lain. > Negara hanya kita butuhkan saat kita "terpaksa" ingin mengurus surat > nikah (KAU), keluar negeri (paspor), membuat KTP, dan sebenarnya kita > telah membayar lebih untuk pelayanan itu.... > > Dan apa yg diperbuat Negara kepada rakyat ketika harga beras naik, > minyak tanah langka, listrik tiba-tiba padam, pengangguran, kemiskinan, > jamaah haji kelaparan serta lingkaran setan kasus narkoba yg melibatkan > aparat...... > > Kita terlena oleh janji jongos-jongos negara saat kampanye dulu, > kesusahan rakyat hanya dilihat sebatas wacana...gak pernah ada solusi > kongkrit untuk mengatasi masalah rakyat....dan wakil kita > diparlemen....hem.. hanya sibuk ngurusin kelompoknya sendiri, bikin > dagelan politik untuk menutupi kasus tertentu atau membuat pencitraan > buat modal kampanye nantinya. > > SoLUsI nya: > > 1. Mulai memperbaiki diri sendiri agar jadi insan yg unggul tidak > tergantung pada orang lain or mengurangi ketergantungan/mandiri > 2. Bantu orang-orang disekitar kita yg megalami musibah atau butuh > pertolongan. > 3. Kurangi aktivitas yang mengatasnamakan negara ex: perayaan sumpah > pemuda, hari pahlawan, pokoknya acara yg dibuat hanya formalitas saja. > 4. Tidak usah ikut pemilu...wong cuma gitu-gitu aja. > > Dengan kemandiriaan kita...nantinya pada satu titik kita sudah tidak > lagi tergantung pada negara..Kita mendapatkan pelayanan dari Negara > sesuai dg apa yg kita bayar (seperti jual beli gitu deh) malah negara > nanti yang akan mencari rakyatnya..misalnya pada kampanye...nah > insan-insan unggul yang tadi telah siap akan mempunyai posisi tawar dg > pemerintah yg akan mengantikan mereka-mereka yg "jorok" terhadap > kekuasaan dan melupakan rakyatnya. > > Jadi...Jangan lagi kita mau di bohongi oleh jongos Negara.....Jangan mau > ikut PEMILU yg cuma gitu-gitu doang. > > Wassalam'mualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. > > Teguh W Prabowo > > Koalisi Putih untuk Rakyat > > ________________________________ > > From: [email protected] [mailto:media- [EMAIL PROTECTED] > On Behalf Of syahrizal > Sent: Monday, January 08, 2007 8:04 AM > To: [email protected] > Subject: Fw: [media-dakwah] gaji DPRD > > > > Saya juga bingung dengan anggota DPRD yang katanya memikirkan > kepentingan rakyat kecil ( semua partai ) > Jika yang dibicarakan itu menyakut kepentingan pribadi semua diam > tidak ada suaranya. > > Salam. > syahrizal gumay > > ----- Original Message ----- > From: Bango Samparan > To: [email protected] <mailto:media-dakwah% 40yahoogroups.com> > > Sent: Friday, January 05, 2007 9:27 AM > Subject: Re: [media-dakwah] gaji DPRD > > Selamat datang di ruang demokrasi negara Republik Kleptokrasi > Indonesia. Kok ya masih berharap-harap anggota DPR dan MPR menjadi > makhluk-makhluk yang baik. Logika yang harus kita terima adalah: > > (1) Anggota DPR dan MPR tuh targetnya ya hanya kepentingan pribadinya: > gaji, prestige, lobi, dll. > (2) Mereka baru mau meneriakkan kepentingan rakyat, bila kekuatan > memilih dan menurunkan memang benar-benar di tangan rakyat. > (3) No (2) baru bisa terjadi terjadi kalau mayoritas rakyat tuh pinter > dan tidak terilusi saat memberikan suara. > (4) Wong gaji yang menganggarkan ekssekutif tetapi yang menyetujui > anggaran ya DPR, gimana kagak besar potensi KKN-nya. Kan mudah saling > lirik dan bersetuju untuk win-win solution. > > Salam > B. Samparan > > --- Ketut Junaedi <[EMAIL PROTECTED] > <mailto:kjunaedi%40bukitasam.co.id> > wrote: > > > Assalamu'alaykum wr wb, > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com <http://mail.yahoo.com> > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
