Krisis Pangan Arafah-Mina

Berebut Makanan Akibat Penanganan Katering yang Kacau (GATRA/Asrori S.
Karni)Lapar dan marah meledak saat wukuf di Padang Arafah. Pasokan
makan buat 200.000-an jamaah haji Indonesia tersumbat. Mereka berada
di gurun pasir yang jadi replika Padang Mahsyar itu sejak Kamis malam
hingga Jumat petang pekan lalu.

Sukacita semula memenuhi perasaan jamaah karena berkesempatan
menjalani haji akbar, haji yang wukufnya jatuh pada hari Jumat. Bila
makbul, dijanjikan pahala 70 kali haji. Tapi momen istimewa itu, yang
biasanya dipenuhi tangis istigfar dan khusyuk zikir-doa, kali ini
diselingi jeritan lapar dan gelombang protes.

Jamaah pontang-panting berburu nasi, tapi penjual sepi. Kalaupun ada,
dagangan cepat ludes diserbu. Jamaah renta usia 60 tahun mengadu
kepada duta besar (dubes) di Kantor Misi Haji Indonesia. "Ia menangis
memikirkan ibunya yang jauh lebih tua di kemah," ujar Salim Segaf
Al-Jufrie, Dubes RI untuk Arab Saudi, sambil terisak, Jumat siang.

Atas lobi Dubes Salim, yang juga Koordinator Panitia Haji Indonesia di
Arab Saudi, Gubernur Mekkah kemudian mengirim enam kontainer makanan
ringan. Konsulat Jenderal RI Jeddah memasok mi instan dan memborong kurma.

Memang tak semua jamaah larut dalam amarah dan keluh kesah. Saat Gatra
berkeliling ke sejumlah kemah pada Jumat sore, banyak juga yang masih
khusyuk melantunkan zikir berjamaah di tenda masing-masing. Mereka
seperti tak hendak menyia-nyiakan waktu dan tempat mustajab tersebut.

Ada pula yang mencari jalan keluar sendiri. Gatra berpapasan dengan
jamaah asal Jakarta yang mendorong kursi roda berisi 85 kotak nasi.
"Saya disumbang jamaah Thailand yang kelebihan makanan," katanya.
Makanan itu akan dibagikan ke 160 jamaah sekemah, dimakan sepiring berdua.

Semua ini gara-gara kegagalan PT AnA for Development memenuhi order
katering. Perusahaan ini milik Pangeran Abdul Aziz bin Nawwaf bin
Abdul Aziz (AnA), keponakan sekaligus menantu Raja Abdullah. Selama 24
tahun, urusan katering Arafah dan Mina dikelola maktab. Baru tahun ini
dilepaskan dari maktab dan diserahkan ke perusahaan lain.

Maktab adalah unit usaha swasta yang memberi layanan pemondokan dan
bimbingan ibadah pada jamaah di Mekkah, Arafah, dan Mina. Ada 75
maktab yang mengurus 468 kloter jamaah Indonesia. Tiap maktab melayani
rata-rata enam kloter, sekitar 2.500 jamaah. Kumpulan maktab bernaung
di bawah asosiasi maktab bernama muasasah. Semua maktab untuk jamaah
Indonesia dikoordinasikan Muasasah Asia Tenggara.

Di antara pertimbangan pindah ke AnA, karena tarifnya lebih murah.
Untuk sehari di Arafah dan empat hari di Mina, AnA menyediakan 16 kali
makan dengan harga SR 250 (per porsi SR 15,6 atau Rp 39.000).
Sedangkan maktab meminta SR 300 dengan 15 kali makan (per porsi SR 20
atau Rp 50.000).

"Penetapan AnA semula dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan dan
kenyamanan jamaah sesuai kesanggupannya," tulis Nursamad Kamba, Ketua
Panitia Haji, dalam surat penjelasan dan permohonan maafnya. Klaim
kesanggupan AnA terlalu ambisius. Bandingkan, bila satu maktab hanya
mengurus katering 2.500 orang, kini satu perusahaan AnA mau mengurus
makan 205.000 orang.

Pertanyaan kuncinya, mengapa perusahaan seburuk AnA bisa ditunjuk?
Penetapan AnA tampak amat ceroboh. Menteri Agama Maftuh Basyuni
sendiri saat berdialog dengan jamaah di kemah Mina mengakui. "Kami
terjerumus dan salah menunjuk perusahaan ini," katanya.

Penetapan ini juga memicu ketegangan kepentingan bisnis antara maktab
dan perusahaan milik pangeran itu. Polemik kasus ini juga sempat
mengemuka di media Saudi. Kementerian Haji semula terkesan memihak
maktab, sementara Kementerian Dalam Negeri, sebagai panitia haji
tertinggi, akhirnya "memenangkan" AnA.

Krisis makanan di Arafah berlanjut hingga Mina. Pihak Indonesia
akhirnya memutus kontrak dengan AnA dan mengembalikan katering pada
maktab. Presiden mengintruksikan agar jamaah diberi ganti rugi SR 300
(Rp 750.000).

Yang paling tahu duduk soal ini adalah Konsul Haji, Nursamad Kamba.
Dialah penanda tangan kontrak dengan AnA. Dubes dan konjen dalam
berbagai keterangannya juga mengindikasikan peran penting Konsul Haji
dalam kontrak ini. Tapi, sejak kasus ini meledak, Nursamad menghilang
seperti ditelan bumi.

Di Jakarta, peristiwa ini memicu reaksi keras. Lembaga Konsumen Muslim
Indonesia menunjuk Kantor Pengacara Eggi Sudjana & Partners untuk
mengajukan gugatan class action. Eggi Sudjana, dalam jumpa pers yang
digelar Selasa lalu, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan semua
berkas yang diperlukan. Namun pendaftarannya menunggu kepulangan
jamaah haji. "Karena kami perlu 25 tanda tangan mereka," katanya.

Pemerintah Indonesia, sebagai tergugat, diminta mengganti biaya
perjalanan haji 189.000 jamaah yang dirugikan tersebut. Jumlah
totalnya kira-kira Rp 5 trilyun. Selain itu, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dituntut untuk bertindak tegas mencopot Menteri Agama Maftuh
Basuni dan Konsul Haji Nursamad Kamba. Keduanya dinilai paling
bertanggung jawab atas kejadian itu. Menurut Eggi, kejadian ini sangat
mencoreng muka Indonesia.

Yang fatal, kata pengacara yang juga anggota Dewan Pakar DPP Partai
Persatuan Pembangunan itu, media yang terbit di Arab Saudi sebelumnya
telah menyoroti masalah ini. Penyediaan katering jamaah haji Indonesia
di Arafah dan Mina oleh satu perusahaan dinilai riskan.

Dalam siaran persnya setebal empat halaman disebutkan telah terjadi
kesalahan penanganan dalam penempatan petugas haji. "Menteri Agama
diduga hanya melibatkan orang kepercayaan dalam mengambil keputusan
penting," tulisnya.

Di Gedung MPR/DPR, kasus ini juga menggelinding panas. Menurut anggota
Komisi VIII DPR-RI, Said Abdullah, komisinya akan menggelar forum
komisi khusus untuk membahas kasus katering tersebut. "Pemerintah
harus punya penjelasan," katanya kepada Gatra.

Menurut Said, komisinya akan mengangkat isu itu sebagai pokok
pembahasan dalam forum pertanggungjawaban pelaksanaan haji, yang akan
digelar pada pertengahan Januari ini. Laporan pertanggungjawaban itu
memang sudah menjadi agenda tahunan antara DPR dan pemerintah.
Kejadian ini, kata Said, dengan sendirinya akan menjadi perhatian
utama DPR.

Wakil rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan itu menyoroti keberadaan
Konjen Haji Indonesia di Arab Saudi yang bertindak kurang profesional.
Menurut dia, lembaga yang menjadi ujung tombak penyelenggaraan haji
ini masih dipenuhi orang lama. "Lembaga ini perlu direstrukturisasi.
Banyak orang lama yang tidak paradigmatik," ujarnya. Kesalahan fatal
seperti ini, katanya, harus dicari penyebabnya dan harus ditegakkan
adanya reward and punishment. "Yang tidak kompeten harus ditarik ke
Indonesia," katanya.

Namun ia menolak wacana pemecatan Menteri Agama. "Itu
kontraproduktif," tuturnya. Ia melihat, justru sekarang ini Departemen
Agama sedang berbenah. Dari segi kebijakan, menurut Said,
penyelenggaraan katering sebetulnya sudah on the track. Komisinya yang
membawahkan manajemen haji sebelumnya merekomendasikan penunjukan
perusahaan katering swasta. Sebelumnya urusan ini dimonopoli Muasasah
Asia Tenggara. "Sayangnya justru jatuh ke pihak yang tidak bonafide,"
ujarnya.

Bisik-bisik Gatra di kalangan petugas haji, "Ini gara-gara Konsul Haji
jalan sendiri. Atasan dan bawahan tak diajak bicara," kata sumber
Gatra. Ini upaya mencari kambing hitam atau kenyataan? Akan jelas bila
Nursamad tampil memberi penjelasan terbuka. Seperti janjinya kepada
wartawan di Madinah bulan lalu, "Saya selalu terbuka, tidak alergi
dengan kritik."

Asrori S. Karni (Arab Saudi) dan Mujib Rahman
[Nasional, Gatra Nomor 8 Beredar Kamis, 4 Januari 2006] 

Kirim email ke