============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Bro,
Kisah Mas ABH ttg pelukis muda dan "gorengan" memang benar. Sekarang ada
kolektor tapi ada juga "kolekdol". Lukisan memang lebih nikmat digoreng oleh
sebagian kalangan karena demand tinggi, suply-nya terbatas, dan masih
relatif luput dr terkaman aturan2 yg ketat seperti di Bursa Efek. Pernah
terjadi suatu lelang lukisan pemenangnya (dgn harga tertinggi yg aduhai
fantastis/ bahkan tdk realistik) adalah orang suruhan si-penggoreng.
Praktek insider trading spt ini mrpk salah satu dari sekian banyak trik
untuk memompa harga. Jika harga sudah naik. Stok lukisan (hasil ijon selama
bbrp tahun) dr para kolekdol akan dilepas dan mereka kan mendpt keuntungan
dr "capital gain". Sedangkan nasib pelukisnya setelah itu ? kalau masih
bagus pasarnya ya..selamat. Kalau lalu harga turun dan jenuh ? biasanya
hanya diberi ucapan terima kasih dan goodbye. Hanya saja perlu diingat tidak
semua kolekdol ataupun galeri demikian. Masih banyak yang baik tetapi banyak
juga yg sudah parah.
Belum lagi fenomena persaingan kelompok kolekdol yg menganut "aliran"
Jakartaisme, Magelangisme, Surabayaisme, dll. misalnya Jakartaisme tdk hanya
dianut oleh pendduk Jkt saja tetapi juga kota laihn Bandung, Yogya, dll.
Pelukis yg berasal dari isme lain jgn harap bisa terjual/terbeli oleh
kelompok yg lain dan sebaliknya. Menarik...Money Talk !
Jadi untuk membuktikan apakah karya seorang pelukis muda itu benar2 hebat
atau tidak, hanyalah waktu dan sejarah yang akan mencatat.
salam,
TP
----- Original Message -----
From: Alex Bambang Hartanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 21, 2001 3:02 PM
Subject: Re: [debritto] Lukisan