============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Edan tenan iki tulisane Bardhono....ngalahke Wartawan Majalah dinding kita
Paul Sutaryono.....endi...kae....kok suwe ora ketok.......Simpati opo
mentari.......ning yo lumayan cara pengungkapannya. Lik Bar.......sing
salah kuwi dudu Gus Dur....ning poros tengah sing dimotoro Amin Rais, dalam
rangka menjegal Megawatie, nah sampeyan ora tulis masalah Musang berbulu
ayam si Amien Rais kuwi,,,,,,,,iki mahluk berbahaya lho. Ndisik...ngojok
ojok GD kon dadi Presiden, ben ora memenuhi syarat ora opo opo, saiki
ngathok karo Megawatie.....wah........Sontoloyo.JB72
"A. Bardhono"
<bardhono@link. To: De Britto Net
<[EMAIL PROTECTED]>
net.id> cc:
Sent by: Subject: [debritto] Yang Terhormat
Presiden
debritto-owner@ Republik Indonesia
dejava.com
07/23/01 09:51
PM
Please respond
to debritto
============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Simpati kami kepada Bapak Kyai Haji Abdurrahman Wahid, yang telah
diberhentikan dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia oleh
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia hari ini tanggal 23
Juli 2001. Sebenarnya Bapak telah memberikan warna demokrasi kepada
kehidupan kami rakyat Indonesia, sejak sebelum menjadi Presiden. Ruang
demokrasi yang Bapak berikan sungguh longgar: atas perbedaan pendapat,
atas perbedaan keyakinan. Tak tergantung kepada jumlah manusia yang
berbeda pendapat, mendapatkan penghormatan yang sama. Tak terhingga rasa
terima kasih kami atas betapa besar perhatian yang Bapak berikan kepada
kami rakyat Indonesia. Tidak seharusnya Bapak mendapat perlakuan seperti
ini, semestinya ada cara lain yang jauh lebih terhormat.
Namun yang Bapak berikan tidaklah cukup bagi kami, yang memang
membutuhkan lebih banyak lagi bagi pemenuhan kehidupan kami. Hari ini
wakil-wakil kami di MPR telah memutuskan orang yang harus memberikan
hal-hal yang Bapak tidak sempat berikan kepada kami. Adinda Bapak
sendiri, Megawati Sukarnoputri.
Ibu Megawati, selamat kami sampaikan kepada Ibu. Kami sedih ketika Ibu
tidak mencapai hari seperti hari ini dua tahun yang lalu. Namun kami
sedih pula hari ini, Ibu mendapatkan kesempatan dengan keadaan yang
tidak ideal. Sahabat Ibu, Kakanda Kyai Haji Abdurrahman Wahid walau
dengan tidak rela telah diturunkan oleh MPR. Kejadian yang Ibu tidak
inginkan, bahkan tidak juga kami inginkan. Tentu saja kita sebenarnya
ingin pekerjaan ini diselesaikan bersama-sama antara Ibu dengan Gus
Dur. Namun keadaan telah memaksa kita bersama melalui jalan ini. Kami
hanya ingin Ibu bekerja keras dengan jujur, bersama-sama dengan seluruh
rakyat Indonesia. Kami juga tidak ingin mendapatkan kehidupan yang lebih
baik tanpa kerja keras. Tapi dengan jujur, Bu. Dengan jujur. Selamat
bekerja.
Epilog:
Tiga tahun lalu, saya berdoa syukur kepada Tuhan ketika Pak Harto
mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Prseiden RI. Dengan
pengundurannya, seolah-olah urusan akan menjadi beres setelah
berhari-hari Indonesia dilanda huru-hara serta berbulan-bulan dilanda
krisis ekonomi. Ternyata tidak. Pak Habibie pun kehilangan kepercayaan
dari MPR.
Kemudian ditengah harapan Megawati menjadi Presiden, malah muncul Gus
Dur sebagai Presiden RI yang mendapat mandat dari MPR. Bersama-sama
dengan Mega sebagai wakil, kita diberi harapan sangat tinggi akan hasil
pekerjaan duet ini. Tidak ada yang meragukan beliau berdua. Apa lacur?
Sekarang dengan keadaan yang lebih kacau dari sebelumnya (presiden
kembar?), apa yang akan dilakukan oleh wanita puteri Bung Karno ini?
Semoga Tuhan membimbing dan memberkatinya.
AB/71