Kawan Jun,

Mayoritas orang emang butuh senderen, butuh pelokan, butuh tungket, 
atawa otoritas yang ada di luar dirinya. waktu kena masalah, ama 
otoritas luar itulah kita ngadu, mohon.

Jujur aja deh, bra banyak sih nyang bisa paham Kuan Im itu adalah 
skillful means para sesepuh Buddhis kita?

Khusus buat di Endonesia, maklumi aja deh kelompok Buddhis penghujat 
Kuan Im itu. Itu terjadi murni karna pada belom tahu. Pada belom 
ngarti. Tapi, yang bikin gegretan justru adalah fakta bahwa mereka 
adalah korban dogmatisasi pihak tertentu yang mengatasnamakan 
Theravada murni. Padahal ga ada tuh yang namanya sekte Theravada 
tunggal. 

Di tiap negara yang anut Theravada, sektenya macem2. Kaga percaya? 
Gih survey sono. Yang bikin kondisi Buddhis Endonesia sulit dame en 
maju itu justru yang masuk dan berkembang di sini adalah sekte 
fundamentalis buatan raja yang ngeklaim dirinya Theravada murni. 
Padahal ini sekte ngebuat agama Buddha di negara asalnya semberawut 
en lagi ngalamin masalah gede sekarang.   

Kita-kita nih orang Endo, emang doyan pada dikadalin orang.

Emang enak dikadalin terus.........................?

Lam Dame

Jeritan Bisu Kaum Tersisih

--- In [email protected], "Junarto M Ifah" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Dear All,
> 
> Sekedar menambahi..
> Ide akan Avalokitesvara sebenarnya sangat Ideal.
> Tetapi kadang orang tidak mau melakukannya, atau mungkin, belum 
mampu 
> melakukannya, atau mungkin, secara psikologis skeptis dengan 
semangat 
> yg dibawa Avalokitesvara.
> Ide Avalokitesevara sebenarnya 'simply' ide tentang Bodhisattva, 
oleh 
> karenanya dengan memahami ide tentang 'Bodhisattva', 
> ide 'Avalokitesvara' pun juga mestinya dapat dipahami.
> Yg Paling 'Top' dari 'Avalokitesvara' adalah Welas Asih.
> Tetapi justru dengan menyebut juga Sutra Hati sebagai referensi, 
kita 
> mungkin bisa merenung, mengapa justru Avalokitesvara yang disebut 
> dalam Sutra yang Justru Mengedepankan PRAJNA. 
> Dalam permulaan Sutra, dikatakan beliau 'At ease', dan 
> Beliau 'melihat' Pancaskandha adalah Sunya. 
> Dalam hal ini aku melihat Beliau justru memiliki MAHA WELAS ASIH 
> karena didukung oleh Maha Prajna yang dalam ini, yg kalau mau 
> ditambahkan, disuburkan oleh Maha Samadhi yg dalam dan kalau mau 
> dilengkapi, diperkaya dengan Maha Upaya (skillfull means) yang Luas.
> Buatku ini juga 'simply' pesan yang dibawa oleh Sang Buddha.
> Dalam hubungannya dengan Dharmajala, aku yakin, paling tidak 
versiku 
> sendiri, tujuan akhirnya adalah tidak berbeda dengan ide 
Bodhisattva, 
> yakni: bukan 'melulu mencapai Samadhi sedalam2nya atau Menarik diri 
> dari peredaran duniawi' tetapi ujung2nya bagaimana menempatkan diri 
> untuk bisa bermanfaat sebesar2nya untuk komunitas. 
> Tetapi dalam proses, keahlian dalam Samadhi, Prajna dan Skillfull 
> Means mau tidak mau menjadi support yang sangat penting. 
> Menurutku, Welas Asih tidak akan pernah efektif tanpa didukung 
> Prajna,Samadhi dan Skillfull Means.
> Memang pernah juga aku menemukan pembahasan bahwa bisa juga dengan 
> merendam sepenuhnya pada praktik welas asih, seseorang bisa 
bergerak 
> menuju ke arah Samadhi, Prajna dan pada akhirnya Skillfull Means, 
> walau begitu menurutku - ini mestinya sulit dilakukan.  
> Yg ideal, kesemuanya mesti serentak dilakukan. 
> Sudah agak lama, aku pernah membaca riwayat Sister Chan Kong, 
seorang 
> Bhiksuni- siswa Thich Nhat Hanh. Sebelum bertemu Thay, Sister Chan 
> Kong pertama2 menemui seorang Bhiksu lain- dari tradisi Thien - 
yang 
> kebetulan jelas sekali-'Super Strict' dalam Tradisi Zen. Sister 
Chan 
> Kong berkata ingin menolong orang banyak. Sang Bhiksu semerta2 
> menjawab - kira2, 'Jika anda tidak bisa menolong diri anda sendiri, 
> bagaimana anda ingin menolong orang lain?' Ini adalah pendekatan 
> radikal Zen. Menekan sebesar2nya pada realisasi sebelum berkarya 
> untuk komunitas.(Tetapi kenyataanya Zen itu mestinya jauh dari 
> radikalisme. Ada banyak Zen Master yang juga memberi tauladan untuk 
> berkarya untuk komunitas. Dan Thay sendiri mestinya juga dibesarkan 
> dalam tradisi Zen).
> Ini memang dilema klasik untuk orang yang melatih diri dalam Jalan 
> Bodhisattva. 
> Akhir kata, Topik tentang Avalokitesvara mudah2an bisa menjadi 
bahan 
> renungan untuk diri kita masing2 dalam praktik.
> Apakah kita bercita2 seperti Avalokitesvara? 
> Apakah kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan Welas Asih?
> Seberapa Murni Welas Asih kita? Apakah ia masih ternoda dengan Ego?
> Apakah Welas Asih itu Selalu Identik dengan Manfaat?
> Apakah kita bermanfaat untuk komunitas?
> Apakah kita memiliki kemampuan 'at ease' setiap saat untuk 
> bisa 'readily' memberi manfaat?
> Skill apa yang kita miliki untuk membawa manfaat untuk komunitas?
> Aspek Apa yang bisa dilatih dalam diri kita?
> Aspek Apa yang sangat sulit dilatih dalam diri kita?
> Dengan awal sekaligus tujuan 'memberi manfaat sebanyak mungkin 
untuk 
> komunitas', bagaimana kita mendefinisikan 'prosesnya' secara detil 
> dan spesifik? 
> 
> Mudah2an Bermanfaat,
> Junarto.
> 
> --- In [email protected], "Huangdi_98" <[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
> > 
> > PUYENK PUYENK
> > 
> > nape GUAN YIN diributin seh THERA VS MAHA ??????
> > TUH LIAT DEWA NAT kok gak diributin ame THERA ????
> > 
> > DUDUT KABEH SIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
> > 
> > WELAS ASIH ITU NYANG UTAMA





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/WwRTUD/SOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke