Memang sulit untuk terlepas dari pandangan yang sudah ditanamkan 
sudah lama, kadang ada orang yang menganggap Ajaran Buddha sebagai 
isme tertentu, ada yang menganggap sebagai ilmu Psikologi, ada lagi 
yang menganggap sebagai filsafat.

Yang parah terkadang orang yang memperdebatkan itu sendiri tidak 
melakukan apa-apa terhadap Ajaran Tersebut (mempraktekannya). Malah 
sibuk memperdebatkan, yang akhirnya hanya mencari kemenangan dari 
diri sendiri.

Mungkin kalau ada yang senang baca buku komik cari Buku yang judulnya 
Kenji, saya lupa siapa penulisnya, tapi isinya menyangkut pencarian 
diri yang dilakukan oleh anak kecil yang bernama Kenji Goh, kakeknya 
bernama Kyotaro Goh, dan ada seorang guru yang bernama Liu Syo Bun, 
kalau paham apa yang ia capai sepertinya hal ini terlalu kecil untuk 
diperdebatkan.

pis


Dananjaya

--- In [email protected], "Liem Tjien Sian \(A Heng\)" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Namo Buddhaya,
>  
> Aliran-aliran kepercayaan dan agama-agama sudah berkembang sejak 
manusia ada. Ada banyak sekali jumlahnya. Kemudian para ahli 
fisalfat/agama mencoba mempelajari, menarik garis umum, dan 
mengkategorikan agama-agama tersebut, sehingga muncul istilah-istilah 
ateisme, theisme, monotheisme, polytheisme, animisme, pantheisme, dan 
embuh apa lagi.
> 
> Jadi istilah-istilah itu digunakan sebagai alat bantu untuk 
mempelajari berbagai agama di dunia. Kalau ternyata agama buddha, 
susah di kategorikan ke dalam salah satu kelompok, ya sudahlah, no 
big deal, mungkin agama buddha emang agak lain. Mungkin para ahli 
perlu memunculkan istilah baru super-theisme kek atau buddhatheisme 
kek atau apalah, yang syukur-syukur bercitra lebih bagus dari 
theisme. Anyway itu tak penting lah. Buddhisme ya buddhisme, perkara 
tidak cocok dg salah satu istilah modern tersebut, ya sudah biarin 
aja, gak masalah. 
>  
> Saya pikir hendaknya buddhisme dipahami sebagai buddhisme, seperti 
guru zen selalu meminta kita mengosongkan cangkir, sebelum 
mempelajari agama buddha. Apabila ada teman kita yang mengomentari 
bahwa buddhisme itu atheis, penyembah berhala, mungkin itu adalah 
kesempatan kita untuk lebih mendalami ajaran buddha untuk kemudian 
menjelaskan keindahan dharma kepada sang pengkritik. Tak perlu malu 
lah. Kalo setelah anda menpelajari agama buddha lebih dalam, dan 
masih merasa malu, ya mungkin anda nggak cocok dengan ajaran 
buddhisme, dan mungkin sebaiknya anda mulai 
menilai/mencoba "kebenaran/agama" lain. Sang Buddha sangat yakin koq, 
kalo setelah mempelajari lebih dalam, kita akan merasakan kebenaran 
dharma dan nggak akan malu lagi.
>  
> Satu hal yang ingin juga saya sampaikan, hendaknya kita hati-hati 
dalam memberi statement, seperti "Agama Buddha itu tidak mengakui 
adanya Tuhan". Saya sering membacanya beberapa postingan rekan rekan 
milis dhamajala maupun smaggipala. Saya kira apakah agama buddha itu 
atheis atau tidak, perlu pengkajian lebih dalam dan hati-hati. Masih 
banyak silang pendapat mengenai hal ini. Satu hal yang pasti, di 
Indonesia Agama Buddha dikategorikan sebagai Monotheisme 
dengan "Sanghyang Adi Buddha" nya. Tapi sekali lagi, menurut saya, 
atheis atau tidak,  gak pentinglah, buddhisme ya buddhisme, tak 
kurang, tak lebih.
>  
> 
> Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  
> Rekan milis seDhamma,
>  
> Sekuntum Teratai buat Anda, seorang calon Buddha
>  
> Umat Buddha jelas menyembah patungnya Sang Buddha dalam puja 
bhaktinya.
> Karena itu ada yang menyatakan Umat Buddha menyembah berhala. 
> Apakah tuduhan, anggapan itu benar?
>  
> Tergantung batasan dari 'berhala' itu apa.
> =Kalau 'menyembah patung' aja, YA.
> =Kalau 'menyembah patung dan memohon, meminta sesuatu pada patung 
tersebut' TIDAK.
> =Kalau 'meninggikan sesuatu', ini masih teka-teki.
> =kalau (Ada yang punya kamus?)
>  
> Yang jadi point saya adalah, menurut saya nich, kita tak perlu buru-
buru menyanggah tuduhan sebagai penyembah berhala. Karena, penyembah 
berhala mungkin dinilai negatif bagi umat teis, tapi bagi Umat Buddha 
yang tidak mengenal istilah berhala, dan menghormati, menyembah 
patung Sang Buddha atau bhikkhu bukanlah sesuatu yang kita nilai 
negatif, rendah, maka tuduhan itu mestinya tidak perlu membuat kita 
tersinggung atau sakit hati.
>  
> Masalah di atas analog dengan tuduhan ateis, apa kita mesti merasa 
malu, terendahkan lalu bereaksi, menyanggah dengan menciptakan tuhan 
pencipta? Tidak perlu, kan? Nah, hal yang sama untuk tuduhan 
Penyembah berhala.
>  
> Bagi sebagian mungkin bisa tidak bereaksi, tidak terusik dengan 
tuduhan atau penilaian umat lain. Cuman masalahnya, Umat Buddha yang 
masih belum bisa memahami --seperti pendapat pribadi saya itu-- bisa 
merasa malu.... dan beralih agama.
>  
> Bagaimana menurut rekan2 milis? 
>  
> Salam metta
> Wijaya
>  
> NB:
> Sebagai masukan, saya forward sekuntum teratai, berikut:
> (Kalau pakai batasan di bawah ini, rasanya kebanyakan kita mesti 
jujur, bahwa kita memang penyembah berhala. )
>  
>  
> 
> 
> 
>  
> 
> =PENYEMBAH BERHALA=
> 
>  
> 
> [Seperti kita tahu, agama sering menjadi pemicu keributan dan 
ketegangan. Apa sebabnya? 
> 
> Dan karena istilah berhala tidak ada di Buddhisme, kita coba pinjam 
makna yang disodorkan Sdr. FreedomLover. Seorang Non Buddhis, yang 
kata-katanya patut kita petik hikmahnya. Jadi cobalah disimak dan 
KRITISI! /Red BVB.]
> 
>  
> 
> Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya, 
mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita 
mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena 
virus ini ^_^ , kita semua pernah dan masih punya virus ini, 
berpikir  aku/ego yang paling benar. Dengan mindset ini kita 
menyalahkan doktrin yang lain.
> 
>  
> 
> Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran 
agamanya, paling benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya. 
Selama seseorang punya berhala dalam hatinya, orang itu buta, 
sehingga untuk menyadarkannya, datanglah pen-deritaan, itu bila kata-
kata tidak menyadar-kannya. Penderitaan itu datang karena hukum 
menabur dan menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak 
menyadarinya, malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan 
sebagainya. Oleh karena itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati 
kita menjadi lunak, tidak lagi menganggap diri kita yang paling 
benar, dan saat itulah terang dapat masuk ke hati, membuka mata kita 
terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak lagi 
menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita. 
Dari situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya 
seperti ini, maka DERITA ADALAH BERKAH.
> 
>  
> 
> Kebanyakan kita membangun suatu konsep tentang Tuhan, sang AKU, 
bahwa Tuhan membutuhkan pujian, atau bisa menghukum berat kalau kita 
bersikap seperti anak kecil yang nakal, God who rewards and punishes. 
Kepada konsep itulah kita memuji dan kalau kita kecewa, maka kepada 
konsep itu pulalah kita mencaci. Dan kita menyangka konsep kita 
mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana Tuhan yang demikian 
bisa menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi kita 
saja. Realita nya kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu 
Tuhan. Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak tahu Tuhan itu 
apa, daripada kita menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu apa. 
Hanya yang kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tak 
dapat diisi lagi. Yang sudah berisi, maksudnya yang sudah kaya akan 
konsep-konsep, sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing 
baginya tak dapat lagi mengubah pendapatnya atau pendiriannya. 
> 
>  
> 
> Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah hasil persepsi manusia. 
Dalam tingkat absolut semuanya sama, semuanya netral, produk dari 
berbagai macam tingkat kesadaran. Persepsi manusia yang membuatnya 
menjadi tidak netral dengan melekatkan suatu nilai kepada objek 
pengamatannya, meninggikan yang satu, merendahkan yang lain. Persepsi 
manusia tergantung tingkat kesadarannya, tingkat keterbukaan matanya. 
> 
>  
> 
> Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai 
mulia dan keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran 
berdasarkan sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk 
atau dikondisikan oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua, 
didikan sekolah, lingkungan hidup, ajaran agama, dan segala macam 
pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara berpikir seseorang. 
Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned mind).
> 
>  
> 
> Semua orang memiliki pikiran terkondisi seperti ini, hanya sebagian 
kecil orang yang menyadari dan mengendalikannya, kebanyakan manusia 
tidak menyadarinya dan dikendalikan olehnya. Yang tidak menyadarinya 
atau yang sering disebut dalam kitab-kitab suci sebagai orang yang 
TERTIDUR, selalu memandang dunia dari kacamata pikiran terkondisinya 
dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau cara pandangnya itu. 
Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai mulia jika 
sesuatu itu sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang 
tidak sesuai, dianggap hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok, 
kelompokku benar kelompokmu salah. Cara berpikir demikian senantiasa 
membutuhkan kontras, artinya membutuhkan sisi berseberangan: gelap - 
terang, mulia - hina, baik - jahat. Dengan menilai suatu keadaan 
sebagai mulia, maka secara otomatis akan muncul keadaan yang dinilai 
hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan yang diang-gap mulia 
tak punya referensi pengukuran. Demikianlah
>  kontras atau dualisme yang mewarnai cara pandang manusia yang 
pikirannya terkondisi. Keadaan hina dan mulia itu pada dasarnya 
adalah hasil persepsi penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang 
yang berbeda punya pandangan hina dan mulia yang berbeda pula, 
tergantung bagaimana pikirannya dikondisikan. 
> 
>  
> 
> Melihat melalui kacamata benar-salah atau kontras, merupakan cara 
sebagian besar manusia untuk mewujudkan apa yang didambakannya, yaitu 
perasaan mulia, perasaan benar. Ketika sebagian manusia memandang 
dirinya selamat dan meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat, 
maka terjadi peninggian dan perendahan. Dengan menempatkan diri para 
posisi selamat, maka seseorang dapat menghibur dirinya bahwa dirinya 
berada pada posisi yang benar, layak atau diberkati Tuhannya. Ini 
semua tak lain tak bukan merupakan permainan atau trik-trik pikiran 
terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk memuaskan 
kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak 
dapat dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan 
kemuliaan itu adalah semacam state of being, tingkat kesadaran. 
> 
>  
> 
> Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing. 
Pemberhalaan terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang 
menyebabkan seseorang tersinggung kalau apa yang ditinggikannya 
dipertanyakan atau dikritik. Sebab mereka menyamakan tindakan-
tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat Tuhan-nya. 
Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain  hanyalah 
konsep bukan Tuhan. 
> 
>  
> 
> Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki 
berhala dalam bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego 
terhadap apa yang disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan 
benda/jimat hanyalah pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap 
miliknya, yang dinilai lebih mulia dari hal-hal lain yang dianggapnya 
lebih  rendah. Bagi yang memahaminya atau menyadarinya, ini hanyalah 
semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak menyadarinya, yang 
tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini seakan-akan nyata 
dan membelanya mati-matian.
> 
> 
> 
>  
> 
> Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara 
pasti tau apa yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung 
lagi, sebab dia tau orang yang mengkritik atau mencela itu tidak tau 
apa-apa, paling dia hanya sedih melihat ketidak-tahuan orang tersebut.
> 
>  
> 
> Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya 
jawab berikut.
> 
>  
> 
> Yaaa... tapi tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili 
simbol tersebut.
> 
> Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang 
mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa? 
Bukankah itu hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng-
asosiasikan, maka pikiran dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini 
permainan pikiran.
> 
>  
> 
> Penghinaan terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca: 
mematerialkan) penghinaan ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol 
tersebut. .
> 
> Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan 
bagi yang orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan 
substansi. Apa yang diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula 
diinterpretasikan sebagai kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda.
> 
>  
> 
> Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda hina simbol 
dan anda kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek 
pada perasaan manusia yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya 
dengan simbol itu, seakan-akan simbol itu kepanjangan tangan dari 
organ tubuhnya. Simbol dilukai, hatinya pun ikut terluka, karena 
pikirannya yang kaku (terkondisi) sudah menjadikan simbol itu bagian 
dari identitas jiwanya. Ada istilahnya untuk keterkondisian ini, 
namanya kemelekatan. Setiap keme-lekatan adalah penyembahan berhala, 
itu kalau anda dapat pahami. 
> 
>  
> 
> Mengapa membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala, 
bukankah ini memang sesuatu hal yang manusiawi?
> 
> Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk 
dari manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya 
ada kemelekatan pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep 
adalah pengagungan konsep itu. Mengagungkan suatu konsep itu adalah 
penyembahan berhala. 
> 
>  
> 
> Apakah mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk 
kategori penyembah berhala?! 
> 
> Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep 
pribadinya karena tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan 
bertambahnya hikmat. Mengagungkan konsep membuat manusia sulit 
berubah karena tidak lagi berani mempertanyakan atau mengubah konsep 
tersebut, biasanya karena takut kuwalat, masuk neraka, atau terlalu 
dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b berkata, jangan 
ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n 
menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah 
sesungguhnya 'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh 
dipertanyakan lagi. 
> 
>  
> 
> Justru karena simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap 
sebuah simbol berdampak pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai 
konsekwensi logis dari terkoyaknya prinsip kebenar-an tertinggi yang 
notabene dijiwai oleh orang tersebut. 
> 
> Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan simbol dengan 
substansi adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu dan 
perasaan terluka yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an 
pikiran dimana manusia sudah terdidik/ terbiasakan seperti itu. 
Karena mindset anda sudah terkondisi, anda tak kan memahami bahwa ada 
persepsi lain dalam melihat suatu kejadian yang anda nilai sebagai 
penghinaan. Bila anda bisa melihat dari persepsi lain ini, maka tentu 
anda tak perlu mengalami perasaan terluka. 
> 
>  
> 
> Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe. 
Prinsip kebenaran itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip 
kebenaran, maka itu adalah TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang 
dilakukan manusia terhadapnya. Seseorang menginjak-injak dan merobek 
Kitabmu. Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu terkoyak? Yang 
terkoyak itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap berlaku 
selamanya karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena 
pikiranmu sudah terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip 
kebenaran MILIKMU, maka ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu. 
Prinsip kebenaran itu sendiri masih utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu 
terhadap prinsip kebenar-an itulah yang terkoyak. 
> 
>  
> 
> Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program 
kaku yang tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa 
dirimu adalah manusia yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu 
ditentukan oleh satu program saja, maka anda bebas memilih emosi apa 
yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih untuk menolak 
tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang 
merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan 
bahwa buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip 
kebenaran. Kalau anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka 
anda dapat tertawa, bukan tersinggung.
> 
>  
> 
> Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara 
tidak sadar) oleh mayoritas manusia: 
> 
> IF/BILA simbol-simbolku/egoku dihina
> 
> THEN/MAKA aku marah, tersinggung bin terluka.
> 
>  
> 
> Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang 
stress, sakit jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG 
TERTAWAN oleh "penjara" bikinan sendiri, program alternatifnya banyak 
dan dirinya dapat bebas memilih mau menjalankan program yang mana. 
Contoh salah satu program alternatif yang menyehatkan jiwa: 
> 
>  
> 
> IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang 
menghina mirip kuda lumping kesurupan.
> 
>  
> 
> Atau, IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang 
menghina melakukan karena keluguannya, ketertidurannya. 
> 
>  
> 
> Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu 
program secara mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang 
menyebabkan banyak konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri 
sendiri, keluarga, sampai peperangan antar negara. 
> 
>  
> 
> Reaksi pedih yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari 
pemberhalaan akan simbol, melain-kan TERJADI KARENA terlukanya 
prinsip kebenaran yang dijiwai seseorang akan sesuatu yang diwakili 
oleh simbol tersebut. 
> 
> Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau 
pemberhalaan simbol. Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah 
dapat terluka. Yang merasa pedih itu manusianya yang urat emosinya me-
lekat pada simbolnya. Dan melekat atau tidak-melekat itu adalah soal 
pilihan. Adalah pilihan bebas dari sang manusia untuk melekat pada 
simbolnya atau memilih tidak melekat. Kebebasan sejati adalah 
melepaskan diri dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian, 
terbebas pulalah dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun 
yang dapat menyebabkan dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu 
sendirilah yang dapat memilih mau tetap terluka atau tidak. 
> 
>  
> 
> Mengapa Anda sebut sebagai  suatu kemelekatan? 
> 
> Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang 
dipanas-kan perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai 
suatu bahaya karena suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga 
si kodok terbiasa. Kata kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian 
juga kebanyakan manusia tidak melihat kemelekatan itu sebagai 
kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti kalau sudah puas 
bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya. 
> 
>  
> 
> Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina. 
Saya cuman mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka 
kalau simbolnya dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan 
jiwa cukup besar, kalau dapat mencapai taraf persepsi seperti ini. 
> 
>  
> 
> Hak masing-masing orang, mau tetap menyembah berhala atau tidak. 
Saya cuman kemukakan ciri-cirinya serta alasannya serta 
konsekuensinya/ resiko-nya. Selanjutnya terserah anda. Mau terima, 
mau tolak, mau berbeda pendapat dll. 
> 
> a h ] g b
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> 
> 
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
> 
>    To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
>   
>    To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>   
>    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Yahoo! Small Business - Try our new resources site! 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke