Memang sulit untuk terlepas dari pandangan yang sudah ditanamkan
sudah lama, kadang ada orang yang menganggap Ajaran Buddha sebagai
isme tertentu, ada yang menganggap sebagai ilmu Psikologi, ada lagi
yang menganggap sebagai filsafat.
Yang parah terkadang orang yang memperdebatkan itu sendiri tidak
melakukan apa-apa terhadap Ajaran Tersebut (mempraktekannya). Malah
sibuk memperdebatkan, yang akhirnya hanya mencari kemenangan dari
diri sendiri.
Mungkin kalau ada yang senang baca buku komik cari Buku yang judulnya
Kenji, saya lupa siapa penulisnya, tapi isinya menyangkut pencarian
diri yang dilakukan oleh anak kecil yang bernama Kenji Goh, kakeknya
bernama Kyotaro Goh, dan ada seorang guru yang bernama Liu Syo Bun,
kalau paham apa yang ia capai sepertinya hal ini terlalu kecil untuk
diperdebatkan.
pis
Dananjaya
--- In [email protected], "Liem Tjien Sian \(A Heng\)"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Namo Buddhaya,
>
> Aliran-aliran kepercayaan dan agama-agama sudah berkembang sejak
manusia ada. Ada banyak sekali jumlahnya. Kemudian para ahli
fisalfat/agama mencoba mempelajari, menarik garis umum, dan
mengkategorikan agama-agama tersebut, sehingga muncul istilah-istilah
ateisme, theisme, monotheisme, polytheisme, animisme, pantheisme, dan
embuh apa lagi.
>
> Jadi istilah-istilah itu digunakan sebagai alat bantu untuk
mempelajari berbagai agama di dunia. Kalau ternyata agama buddha,
susah di kategorikan ke dalam salah satu kelompok, ya sudahlah, no
big deal, mungkin agama buddha emang agak lain. Mungkin para ahli
perlu memunculkan istilah baru super-theisme kek atau buddhatheisme
kek atau apalah, yang syukur-syukur bercitra lebih bagus dari
theisme. Anyway itu tak penting lah. Buddhisme ya buddhisme, perkara
tidak cocok dg salah satu istilah modern tersebut, ya sudah biarin
aja, gak masalah.
>
> Saya pikir hendaknya buddhisme dipahami sebagai buddhisme, seperti
guru zen selalu meminta kita mengosongkan cangkir, sebelum
mempelajari agama buddha. Apabila ada teman kita yang mengomentari
bahwa buddhisme itu atheis, penyembah berhala, mungkin itu adalah
kesempatan kita untuk lebih mendalami ajaran buddha untuk kemudian
menjelaskan keindahan dharma kepada sang pengkritik. Tak perlu malu
lah. Kalo setelah anda menpelajari agama buddha lebih dalam, dan
masih merasa malu, ya mungkin anda nggak cocok dengan ajaran
buddhisme, dan mungkin sebaiknya anda mulai
menilai/mencoba "kebenaran/agama" lain. Sang Buddha sangat yakin koq,
kalo setelah mempelajari lebih dalam, kita akan merasakan kebenaran
dharma dan nggak akan malu lagi.
>
> Satu hal yang ingin juga saya sampaikan, hendaknya kita hati-hati
dalam memberi statement, seperti "Agama Buddha itu tidak mengakui
adanya Tuhan". Saya sering membacanya beberapa postingan rekan rekan
milis dhamajala maupun smaggipala. Saya kira apakah agama buddha itu
atheis atau tidak, perlu pengkajian lebih dalam dan hati-hati. Masih
banyak silang pendapat mengenai hal ini. Satu hal yang pasti, di
Indonesia Agama Buddha dikategorikan sebagai Monotheisme
dengan "Sanghyang Adi Buddha" nya. Tapi sekali lagi, menurut saya,
atheis atau tidak, gak pentinglah, buddhisme ya buddhisme, tak
kurang, tak lebih.
>
>
> Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Rekan milis seDhamma,
>
> Sekuntum Teratai buat Anda, seorang calon Buddha
>
> Umat Buddha jelas menyembah patungnya Sang Buddha dalam puja
bhaktinya.
> Karena itu ada yang menyatakan Umat Buddha menyembah berhala.
> Apakah tuduhan, anggapan itu benar?
>
> Tergantung batasan dari 'berhala' itu apa.
> =Kalau 'menyembah patung' aja, YA.
> =Kalau 'menyembah patung dan memohon, meminta sesuatu pada patung
tersebut' TIDAK.
> =Kalau 'meninggikan sesuatu', ini masih teka-teki.
> =kalau (Ada yang punya kamus?)
>
> Yang jadi point saya adalah, menurut saya nich, kita tak perlu buru-
buru menyanggah tuduhan sebagai penyembah berhala. Karena, penyembah
berhala mungkin dinilai negatif bagi umat teis, tapi bagi Umat Buddha
yang tidak mengenal istilah berhala, dan menghormati, menyembah
patung Sang Buddha atau bhikkhu bukanlah sesuatu yang kita nilai
negatif, rendah, maka tuduhan itu mestinya tidak perlu membuat kita
tersinggung atau sakit hati.
>
> Masalah di atas analog dengan tuduhan ateis, apa kita mesti merasa
malu, terendahkan lalu bereaksi, menyanggah dengan menciptakan tuhan
pencipta? Tidak perlu, kan? Nah, hal yang sama untuk tuduhan
Penyembah berhala.
>
> Bagi sebagian mungkin bisa tidak bereaksi, tidak terusik dengan
tuduhan atau penilaian umat lain. Cuman masalahnya, Umat Buddha yang
masih belum bisa memahami --seperti pendapat pribadi saya itu-- bisa
merasa malu.... dan beralih agama.
>
> Bagaimana menurut rekan2 milis?
>
> Salam metta
> Wijaya
>
> NB:
> Sebagai masukan, saya forward sekuntum teratai, berikut:
> (Kalau pakai batasan di bawah ini, rasanya kebanyakan kita mesti
jujur, bahwa kita memang penyembah berhala. )
>
>
>
>
>
>
>
> =PENYEMBAH BERHALA=
>
>
>
> [Seperti kita tahu, agama sering menjadi pemicu keributan dan
ketegangan. Apa sebabnya?
>
> Dan karena istilah berhala tidak ada di Buddhisme, kita coba pinjam
makna yang disodorkan Sdr. FreedomLover. Seorang Non Buddhis, yang
kata-katanya patut kita petik hikmahnya. Jadi cobalah disimak dan
KRITISI! /Red BVB.]
>
>
>
> Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya,
mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita
mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena
virus ini ^_^ , kita semua pernah dan masih punya virus ini,
berpikir aku/ego yang paling benar. Dengan mindset ini kita
menyalahkan doktrin yang lain.
>
>
>
> Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran
agamanya, paling benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya.
Selama seseorang punya berhala dalam hatinya, orang itu buta,
sehingga untuk menyadarkannya, datanglah pen-deritaan, itu bila kata-
kata tidak menyadar-kannya. Penderitaan itu datang karena hukum
menabur dan menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak
menyadarinya, malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan
sebagainya. Oleh karena itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati
kita menjadi lunak, tidak lagi menganggap diri kita yang paling
benar, dan saat itulah terang dapat masuk ke hati, membuka mata kita
terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak lagi
menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita.
Dari situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya
seperti ini, maka DERITA ADALAH BERKAH.
>
>
>
> Kebanyakan kita membangun suatu konsep tentang Tuhan, sang AKU,
bahwa Tuhan membutuhkan pujian, atau bisa menghukum berat kalau kita
bersikap seperti anak kecil yang nakal, God who rewards and punishes.
Kepada konsep itulah kita memuji dan kalau kita kecewa, maka kepada
konsep itu pulalah kita mencaci. Dan kita menyangka konsep kita
mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana Tuhan yang demikian
bisa menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi kita
saja. Realita nya kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu
Tuhan. Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak tahu Tuhan itu
apa, daripada kita menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu apa.
Hanya yang kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tak
dapat diisi lagi. Yang sudah berisi, maksudnya yang sudah kaya akan
konsep-konsep, sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing
baginya tak dapat lagi mengubah pendapatnya atau pendiriannya.
>
>
>
> Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah hasil persepsi manusia.
Dalam tingkat absolut semuanya sama, semuanya netral, produk dari
berbagai macam tingkat kesadaran. Persepsi manusia yang membuatnya
menjadi tidak netral dengan melekatkan suatu nilai kepada objek
pengamatannya, meninggikan yang satu, merendahkan yang lain. Persepsi
manusia tergantung tingkat kesadarannya, tingkat keterbukaan matanya.
>
>
>
> Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai
mulia dan keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran
berdasarkan sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk
atau dikondisikan oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua,
didikan sekolah, lingkungan hidup, ajaran agama, dan segala macam
pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara berpikir seseorang.
Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned mind).
>
>
>
> Semua orang memiliki pikiran terkondisi seperti ini, hanya sebagian
kecil orang yang menyadari dan mengendalikannya, kebanyakan manusia
tidak menyadarinya dan dikendalikan olehnya. Yang tidak menyadarinya
atau yang sering disebut dalam kitab-kitab suci sebagai orang yang
TERTIDUR, selalu memandang dunia dari kacamata pikiran terkondisinya
dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau cara pandangnya itu.
Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai mulia jika
sesuatu itu sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang
tidak sesuai, dianggap hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok,
kelompokku benar kelompokmu salah. Cara berpikir demikian senantiasa
membutuhkan kontras, artinya membutuhkan sisi berseberangan: gelap -
terang, mulia - hina, baik - jahat. Dengan menilai suatu keadaan
sebagai mulia, maka secara otomatis akan muncul keadaan yang dinilai
hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan yang diang-gap mulia
tak punya referensi pengukuran. Demikianlah
> kontras atau dualisme yang mewarnai cara pandang manusia yang
pikirannya terkondisi. Keadaan hina dan mulia itu pada dasarnya
adalah hasil persepsi penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang
yang berbeda punya pandangan hina dan mulia yang berbeda pula,
tergantung bagaimana pikirannya dikondisikan.
>
>
>
> Melihat melalui kacamata benar-salah atau kontras, merupakan cara
sebagian besar manusia untuk mewujudkan apa yang didambakannya, yaitu
perasaan mulia, perasaan benar. Ketika sebagian manusia memandang
dirinya selamat dan meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat,
maka terjadi peninggian dan perendahan. Dengan menempatkan diri para
posisi selamat, maka seseorang dapat menghibur dirinya bahwa dirinya
berada pada posisi yang benar, layak atau diberkati Tuhannya. Ini
semua tak lain tak bukan merupakan permainan atau trik-trik pikiran
terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk memuaskan
kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak
dapat dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan
kemuliaan itu adalah semacam state of being, tingkat kesadaran.
>
>
>
> Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing.
Pemberhalaan terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang
menyebabkan seseorang tersinggung kalau apa yang ditinggikannya
dipertanyakan atau dikritik. Sebab mereka menyamakan tindakan-
tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat Tuhan-nya.
Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain hanyalah
konsep bukan Tuhan.
>
>
>
> Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki
berhala dalam bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego
terhadap apa yang disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan
benda/jimat hanyalah pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap
miliknya, yang dinilai lebih mulia dari hal-hal lain yang dianggapnya
lebih rendah. Bagi yang memahaminya atau menyadarinya, ini hanyalah
semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak menyadarinya, yang
tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini seakan-akan nyata
dan membelanya mati-matian.
>
>
>
>
>
> Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara
pasti tau apa yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung
lagi, sebab dia tau orang yang mengkritik atau mencela itu tidak tau
apa-apa, paling dia hanya sedih melihat ketidak-tahuan orang tersebut.
>
>
>
> Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya
jawab berikut.
>
>
>
> Yaaa... tapi tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili
simbol tersebut.
>
> Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang
mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa?
Bukankah itu hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng-
asosiasikan, maka pikiran dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini
permainan pikiran.
>
>
>
> Penghinaan terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca:
mematerialkan) penghinaan ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol
tersebut. .
>
> Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan
bagi yang orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan
substansi. Apa yang diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula
diinterpretasikan sebagai kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda.
>
>
>
> Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda hina simbol
dan anda kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek
pada perasaan manusia yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya
dengan simbol itu, seakan-akan simbol itu kepanjangan tangan dari
organ tubuhnya. Simbol dilukai, hatinya pun ikut terluka, karena
pikirannya yang kaku (terkondisi) sudah menjadikan simbol itu bagian
dari identitas jiwanya. Ada istilahnya untuk keterkondisian ini,
namanya kemelekatan. Setiap keme-lekatan adalah penyembahan berhala,
itu kalau anda dapat pahami.
>
>
>
> Mengapa membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala,
bukankah ini memang sesuatu hal yang manusiawi?
>
> Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk
dari manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya
ada kemelekatan pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep
adalah pengagungan konsep itu. Mengagungkan suatu konsep itu adalah
penyembahan berhala.
>
>
>
> Apakah mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk
kategori penyembah berhala?!
>
> Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep
pribadinya karena tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan
bertambahnya hikmat. Mengagungkan konsep membuat manusia sulit
berubah karena tidak lagi berani mempertanyakan atau mengubah konsep
tersebut, biasanya karena takut kuwalat, masuk neraka, atau terlalu
dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b berkata, jangan
ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n
menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah
sesungguhnya 'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh
dipertanyakan lagi.
>
>
>
> Justru karena simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap
sebuah simbol berdampak pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai
konsekwensi logis dari terkoyaknya prinsip kebenar-an tertinggi yang
notabene dijiwai oleh orang tersebut.
>
> Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan simbol dengan
substansi adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu dan
perasaan terluka yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an
pikiran dimana manusia sudah terdidik/ terbiasakan seperti itu.
Karena mindset anda sudah terkondisi, anda tak kan memahami bahwa ada
persepsi lain dalam melihat suatu kejadian yang anda nilai sebagai
penghinaan. Bila anda bisa melihat dari persepsi lain ini, maka tentu
anda tak perlu mengalami perasaan terluka.
>
>
>
> Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe.
Prinsip kebenaran itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip
kebenaran, maka itu adalah TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang
dilakukan manusia terhadapnya. Seseorang menginjak-injak dan merobek
Kitabmu. Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu terkoyak? Yang
terkoyak itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap berlaku
selamanya karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena
pikiranmu sudah terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip
kebenaran MILIKMU, maka ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu.
Prinsip kebenaran itu sendiri masih utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu
terhadap prinsip kebenar-an itulah yang terkoyak.
>
>
>
> Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program
kaku yang tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa
dirimu adalah manusia yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu
ditentukan oleh satu program saja, maka anda bebas memilih emosi apa
yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih untuk menolak
tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang
merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan
bahwa buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip
kebenaran. Kalau anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka
anda dapat tertawa, bukan tersinggung.
>
>
>
> Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara
tidak sadar) oleh mayoritas manusia:
>
> IF/BILA simbol-simbolku/egoku dihina
>
> THEN/MAKA aku marah, tersinggung bin terluka.
>
>
>
> Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang
stress, sakit jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG
TERTAWAN oleh "penjara" bikinan sendiri, program alternatifnya banyak
dan dirinya dapat bebas memilih mau menjalankan program yang mana.
Contoh salah satu program alternatif yang menyehatkan jiwa:
>
>
>
> IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang
menghina mirip kuda lumping kesurupan.
>
>
>
> Atau, IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang
menghina melakukan karena keluguannya, ketertidurannya.
>
>
>
> Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu
program secara mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang
menyebabkan banyak konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri
sendiri, keluarga, sampai peperangan antar negara.
>
>
>
> Reaksi pedih yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari
pemberhalaan akan simbol, melain-kan TERJADI KARENA terlukanya
prinsip kebenaran yang dijiwai seseorang akan sesuatu yang diwakili
oleh simbol tersebut.
>
> Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau
pemberhalaan simbol. Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah
dapat terluka. Yang merasa pedih itu manusianya yang urat emosinya me-
lekat pada simbolnya. Dan melekat atau tidak-melekat itu adalah soal
pilihan. Adalah pilihan bebas dari sang manusia untuk melekat pada
simbolnya atau memilih tidak melekat. Kebebasan sejati adalah
melepaskan diri dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian,
terbebas pulalah dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun
yang dapat menyebabkan dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu
sendirilah yang dapat memilih mau tetap terluka atau tidak.
>
>
>
> Mengapa Anda sebut sebagai suatu kemelekatan?
>
> Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang
dipanas-kan perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai
suatu bahaya karena suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga
si kodok terbiasa. Kata kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian
juga kebanyakan manusia tidak melihat kemelekatan itu sebagai
kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti kalau sudah puas
bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya.
>
>
>
> Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina.
Saya cuman mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka
kalau simbolnya dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan
jiwa cukup besar, kalau dapat mencapai taraf persepsi seperti ini.
>
>
>
> Hak masing-masing orang, mau tetap menyembah berhala atau tidak.
Saya cuman kemukakan ciri-cirinya serta alasannya serta
konsekuensinya/ resiko-nya. Selanjutnya terserah anda. Mau terima,
mau tolak, mau berbeda pendapat dll.
>
> a h ] g b
>
>
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
>
>
> ---------------------------------
> Yahoo! Groups Links
>
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
Service.
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta
sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/