Kalo menurut saya harus diperdebatkan dulu. Apalagi bagi yang belum kenal. Susah loh menghilangkan pandangan salah tentang tuhan terutama bagi ex kristen. Lebih susah lagi kalo mau belajar dharma. Jadi perdebatan ada sisi positifnya. :D
Saya sih hobby debat...ha..ha..ha mungkin karna saya belum mendalami Buddhist ya? Atau maih terbawa kebiasaan lama. Nga tau ah So bagi saya Buddhist dan atheist sejalan. Walaupun saya tau Buddhist berada ditengah2 theist dan atheist tapi saya lebih condong Buddhist adalah atheist. :D karna saya Atheist-buddhist...ha..ha..ha Abdi -----Original Message----- From: Dananjaya [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 28 Maret 2005 20:09 To: [email protected] Subject: [Dharmajala] Re: Ketuhanan dalam Buddhisme_1-Penyembah Berhala Memang sulit untuk terlepas dari pandangan yang sudah ditanamkan sudah lama, kadang ada orang yang menganggap Ajaran Buddha sebagai isme tertentu, ada yang menganggap sebagai ilmu Psikologi, ada lagi yang menganggap sebagai filsafat. Yang parah terkadang orang yang memperdebatkan itu sendiri tidak melakukan apa-apa terhadap Ajaran Tersebut (mempraktekannya). Malah sibuk memperdebatkan, yang akhirnya hanya mencari kemenangan dari diri sendiri. Mungkin kalau ada yang senang baca buku komik cari Buku yang judulnya Kenji, saya lupa siapa penulisnya, tapi isinya menyangkut pencarian diri yang dilakukan oleh anak kecil yang bernama Kenji Goh, kakeknya bernama Kyotaro Goh, dan ada seorang guru yang bernama Liu Syo Bun, kalau paham apa yang ia capai sepertinya hal ini terlalu kecil untuk diperdebatkan. pis Dananjaya --- In [email protected], "Liem Tjien Sian \(A Heng\)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Aliran-aliran kepercayaan dan agama-agama sudah berkembang sejak manusia ada. Ada banyak sekali jumlahnya. Kemudian para ahli fisalfat/agama mencoba mempelajari, menarik garis umum, dan mengkategorikan agama-agama tersebut, sehingga muncul istilah-istilah ateisme, theisme, monotheisme, polytheisme, animisme, pantheisme, dan embuh apa lagi. > > Jadi istilah-istilah itu digunakan sebagai alat bantu untuk mempelajari berbagai agama di dunia. Kalau ternyata agama buddha, susah di kategorikan ke dalam salah satu kelompok, ya sudahlah, no big deal, mungkin agama buddha emang agak lain. Mungkin para ahli perlu memunculkan istilah baru super-theisme kek atau buddhatheisme kek atau apalah, yang syukur-syukur bercitra lebih bagus dari theisme. Anyway itu tak penting lah. Buddhisme ya buddhisme, perkara tidak cocok dg salah satu istilah modern tersebut, ya sudah biarin aja, gak masalah. > > Saya pikir hendaknya buddhisme dipahami sebagai buddhisme, seperti guru zen selalu meminta kita mengosongkan cangkir, sebelum mempelajari agama buddha. Apabila ada teman kita yang mengomentari bahwa buddhisme itu atheis, penyembah berhala, mungkin itu adalah kesempatan kita untuk lebih mendalami ajaran buddha untuk kemudian menjelaskan keindahan dharma kepada sang pengkritik. Tak perlu malu lah. Kalo setelah anda menpelajari agama buddha lebih dalam, dan masih merasa malu, ya mungkin anda nggak cocok dengan ajaran buddhisme, dan mungkin sebaiknya anda mulai menilai/mencoba "kebenaran/agama" lain. Sang Buddha sangat yakin koq, kalo setelah mempelajari lebih dalam, kita akan merasakan kebenaran dharma dan nggak akan malu lagi. > > Satu hal yang ingin juga saya sampaikan, hendaknya kita hati-hati dalam memberi statement, seperti "Agama Buddha itu tidak mengakui adanya Tuhan". Saya sering membacanya beberapa postingan rekan rekan milis dhamajala maupun smaggipala. Saya kira apakah agama buddha itu atheis atau tidak, perlu pengkajian lebih dalam dan hati-hati. Masih banyak silang pendapat mengenai hal ini. Satu hal yang pasti, di Indonesia Agama Buddha dikategorikan sebagai Monotheisme dengan "Sanghyang Adi Buddha" nya. Tapi sekali lagi, menurut saya, atheis atau tidak, gak pentinglah, buddhisme ya buddhisme, tak kurang, tak lebih. > > > Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rekan milis seDhamma, > > Sekuntum Teratai buat Anda, seorang calon Buddha > > Umat Buddha jelas menyembah patungnya Sang Buddha dalam puja bhaktinya. > Karena itu ada yang menyatakan Umat Buddha menyembah berhala. > Apakah tuduhan, anggapan itu benar? > > Tergantung batasan dari 'berhala' itu apa. > =Kalau 'menyembah patung' aja, YA. > =Kalau 'menyembah patung dan memohon, meminta sesuatu pada patung tersebut' TIDAK. > =Kalau 'meninggikan sesuatu', ini masih teka-teki. > =kalau (Ada yang punya kamus?) > > Yang jadi point saya adalah, menurut saya nich, kita tak perlu buru- buru menyanggah tuduhan sebagai penyembah berhala. Karena, penyembah berhala mungkin dinilai negatif bagi umat teis, tapi bagi Umat Buddha yang tidak mengenal istilah berhala, dan menghormati, menyembah patung Sang Buddha atau bhikkhu bukanlah sesuatu yang kita nilai negatif, rendah, maka tuduhan itu mestinya tidak perlu membuat kita tersinggung atau sakit hati. > > Masalah di atas analog dengan tuduhan ateis, apa kita mesti merasa malu, terendahkan lalu bereaksi, menyanggah dengan menciptakan tuhan pencipta? Tidak perlu, kan? Nah, hal yang sama untuk tuduhan Penyembah berhala. > > Bagi sebagian mungkin bisa tidak bereaksi, tidak terusik dengan tuduhan atau penilaian umat lain. Cuman masalahnya, Umat Buddha yang masih belum bisa memahami --seperti pendapat pribadi saya itu-- bisa merasa malu.... dan beralih agama. > > Bagaimana menurut rekan2 milis? > > Salam metta > Wijaya > > NB: > Sebagai masukan, saya forward sekuntum teratai, berikut: > (Kalau pakai batasan di bawah ini, rasanya kebanyakan kita mesti jujur, bahwa kita memang penyembah berhala. ) > > > > > > > > =PENYEMBAH BERHALA= > > > > [Seperti kita tahu, agama sering menjadi pemicu keributan dan ketegangan. Apa sebabnya? > > Dan karena istilah berhala tidak ada di Buddhisme, kita coba pinjam makna yang disodorkan Sdr. FreedomLover. Seorang Non Buddhis, yang kata-katanya patut kita petik hikmahnya. Jadi cobalah disimak dan KRITISI! /Red BVB.] > > > > Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya, mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena virus ini ^_^ , kita semua pernah dan masih punya virus ini, berpikir aku/ego yang paling benar. Dengan mindset ini kita menyalahkan doktrin yang lain. > > > > Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran agamanya, paling benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya. Selama seseorang punya berhala dalam hatinya, orang itu buta, sehingga untuk menyadarkannya, datanglah pen-deritaan, itu bila kata- kata tidak menyadar-kannya. Penderitaan itu datang karena hukum menabur dan menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak menyadarinya, malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan sebagainya. Oleh karena itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati kita menjadi lunak, tidak lagi menganggap diri kita yang paling benar, dan saat itulah terang dapat masuk ke hati, membuka mata kita terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak lagi menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita. Dari situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya seperti ini, maka DERITA ADALAH BERKAH. > > > > Kebanyakan kita membangun suatu konsep tentang Tuhan, sang AKU, bahwa Tuhan membutuhkan pujian, atau bisa menghukum berat kalau kita bersikap seperti anak kecil yang nakal, God who rewards and punishes. Kepada konsep itulah kita memuji dan kalau kita kecewa, maka kepada konsep itu pulalah kita mencaci. Dan kita menyangka konsep kita mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana Tuhan yang demikian bisa menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi kita saja. Realita nya kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu Tuhan. Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak tahu Tuhan itu apa, daripada kita menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu apa. Hanya yang kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tak dapat diisi lagi. Yang sudah berisi, maksudnya yang sudah kaya akan konsep-konsep, sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing baginya tak dapat lagi mengubah pendapatnya atau pendiriannya. > > > > Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah hasil persepsi manusia. Dalam tingkat absolut semuanya sama, semuanya netral, produk dari berbagai macam tingkat kesadaran. Persepsi manusia yang membuatnya menjadi tidak netral dengan melekatkan suatu nilai kepada objek pengamatannya, meninggikan yang satu, merendahkan yang lain. Persepsi manusia tergantung tingkat kesadarannya, tingkat keterbukaan matanya. > > > > Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai mulia dan keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran berdasarkan sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk atau dikondisikan oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua, didikan sekolah, lingkungan hidup, ajaran agama, dan segala macam pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara berpikir seseorang. Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned mind). > > > > Semua orang memiliki pikiran terkondisi seperti ini, hanya sebagian kecil orang yang menyadari dan mengendalikannya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya dan dikendalikan olehnya. Yang tidak menyadarinya atau yang sering disebut dalam kitab-kitab suci sebagai orang yang TERTIDUR, selalu memandang dunia dari kacamata pikiran terkondisinya dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau cara pandangnya itu. Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai mulia jika sesuatu itu sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang tidak sesuai, dianggap hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok, kelompokku benar kelompokmu salah. Cara berpikir demikian senantiasa membutuhkan kontras, artinya membutuhkan sisi berseberangan: gelap - terang, mulia - hina, baik - jahat. Dengan menilai suatu keadaan sebagai mulia, maka secara otomatis akan muncul keadaan yang dinilai hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan yang diang-gap mulia tak punya referensi pengukuran. Demikianlah > kontras atau dualisme yang mewarnai cara pandang manusia yang pikirannya terkondisi. Keadaan hina dan mulia itu pada dasarnya adalah hasil persepsi penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang yang berbeda punya pandangan hina dan mulia yang berbeda pula, tergantung bagaimana pikirannya dikondisikan. > > > > Melihat melalui kacamata benar-salah atau kontras, merupakan cara sebagian besar manusia untuk mewujudkan apa yang didambakannya, yaitu perasaan mulia, perasaan benar. Ketika sebagian manusia memandang dirinya selamat dan meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat, maka terjadi peninggian dan perendahan. Dengan menempatkan diri para posisi selamat, maka seseorang dapat menghibur dirinya bahwa dirinya berada pada posisi yang benar, layak atau diberkati Tuhannya. Ini semua tak lain tak bukan merupakan permainan atau trik-trik pikiran terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk memuaskan kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak dapat dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan kemuliaan itu adalah semacam state of being, tingkat kesadaran. > > > > Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing. Pemberhalaan terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang menyebabkan seseorang tersinggung kalau apa yang ditinggikannya dipertanyakan atau dikritik. Sebab mereka menyamakan tindakan- tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat Tuhan-nya. Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain hanyalah konsep bukan Tuhan. > > > > Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki berhala dalam bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego terhadap apa yang disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan benda/jimat hanyalah pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap miliknya, yang dinilai lebih mulia dari hal-hal lain yang dianggapnya lebih rendah. Bagi yang memahaminya atau menyadarinya, ini hanyalah semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak menyadarinya, yang tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini seakan-akan nyata dan membelanya mati-matian. > > > > > > Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara pasti tau apa yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung lagi, sebab dia tau orang yang mengkritik atau mencela itu tidak tau apa-apa, paling dia hanya sedih melihat ketidak-tahuan orang tersebut. > > > > Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya jawab berikut. > > > > Yaaa... tapi tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili simbol tersebut. > > Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa? Bukankah itu hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng- asosiasikan, maka pikiran dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini permainan pikiran. > > > > Penghinaan terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca: mematerialkan) penghinaan ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. . > > Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan bagi yang orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan substansi. Apa yang diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula diinterpretasikan sebagai kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda. > > > > Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda hina simbol dan anda kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek pada perasaan manusia yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya dengan simbol itu, seakan-akan simbol itu kepanjangan tangan dari organ tubuhnya. Simbol dilukai, hatinya pun ikut terluka, karena pikirannya yang kaku (terkondisi) sudah menjadikan simbol itu bagian dari identitas jiwanya. Ada istilahnya untuk keterkondisian ini, namanya kemelekatan. Setiap keme-lekatan adalah penyembahan berhala, itu kalau anda dapat pahami. > > > > Mengapa membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala, bukankah ini memang sesuatu hal yang manusiawi? > > Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk dari manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya ada kemelekatan pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep adalah pengagungan konsep itu. Mengagungkan suatu konsep itu adalah penyembahan berhala. > > > > Apakah mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk kategori penyembah berhala?! > > Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep pribadinya karena tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan bertambahnya hikmat. Mengagungkan konsep membuat manusia sulit berubah karena tidak lagi berani mempertanyakan atau mengubah konsep tersebut, biasanya karena takut kuwalat, masuk neraka, atau terlalu dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b berkata, jangan ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah sesungguhnya 'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh dipertanyakan lagi. > > > > Justru karena simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap sebuah simbol berdampak pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai konsekwensi logis dari terkoyaknya prinsip kebenar-an tertinggi yang notabene dijiwai oleh orang tersebut. > > Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan simbol dengan substansi adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu dan perasaan terluka yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an pikiran dimana manusia sudah terdidik/ terbiasakan seperti itu. Karena mindset anda sudah terkondisi, anda tak kan memahami bahwa ada persepsi lain dalam melihat suatu kejadian yang anda nilai sebagai penghinaan. Bila anda bisa melihat dari persepsi lain ini, maka tentu anda tak perlu mengalami perasaan terluka. > > > > Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe. Prinsip kebenaran itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip kebenaran, maka itu adalah TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang dilakukan manusia terhadapnya. Seseorang menginjak-injak dan merobek Kitabmu. Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu terkoyak? Yang terkoyak itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap berlaku selamanya karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena pikiranmu sudah terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip kebenaran MILIKMU, maka ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu. Prinsip kebenaran itu sendiri masih utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu terhadap prinsip kebenar-an itulah yang terkoyak. > > > > Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program kaku yang tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa dirimu adalah manusia yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu ditentukan oleh satu program saja, maka anda bebas memilih emosi apa yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih untuk menolak tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan bahwa buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip kebenaran. Kalau anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka anda dapat tertawa, bukan tersinggung. > > > > Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara tidak sadar) oleh mayoritas manusia: > > IF/BILA simbol-simbolku/egoku dihina > > THEN/MAKA aku marah, tersinggung bin terluka. > > > > Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang stress, sakit jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG TERTAWAN oleh "penjara" bikinan sendiri, program alternatifnya banyak dan dirinya dapat bebas memilih mau menjalankan program yang mana. Contoh salah satu program alternatif yang menyehatkan jiwa: > > > > IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang menghina mirip kuda lumping kesurupan. > > > > Atau, IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang menghina melakukan karena keluguannya, ketertidurannya. > > > > Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu program secara mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang menyebabkan banyak konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri sendiri, keluarga, sampai peperangan antar negara. > > > > Reaksi pedih yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari pemberhalaan akan simbol, melain-kan TERJADI KARENA terlukanya prinsip kebenaran yang dijiwai seseorang akan sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. > > Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau pemberhalaan simbol. Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah dapat terluka. Yang merasa pedih itu manusianya yang urat emosinya me- lekat pada simbolnya. Dan melekat atau tidak-melekat itu adalah soal pilihan. Adalah pilihan bebas dari sang manusia untuk melekat pada simbolnya atau memilih tidak melekat. Kebebasan sejati adalah melepaskan diri dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian, terbebas pulalah dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun yang dapat menyebabkan dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu sendirilah yang dapat memilih mau tetap terluka atau tidak. > > > > Mengapa Anda sebut sebagai suatu kemelekatan? > > Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang dipanas-kan perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai suatu bahaya karena suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga si kodok terbiasa. Kata kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian juga kebanyakan manusia tidak melihat kemelekatan itu sebagai kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti kalau sudah puas bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya. > > > > Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina. Saya cuman mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka kalau simbolnya dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan jiwa cukup besar, kalau dapat mencapai taraf persepsi seperti ini. > > > > Hak masing-masing orang, mau tetap menyembah berhala atau tidak. Saya cuman kemukakan ciri-cirinya serta alasannya serta konsekuensinya/ resiko-nya. Selanjutnya terserah anda. Mau terima, mau tolak, mau berbeda pendapat dll. > > a h ] g b > > > > > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Yahoo! Small Business - Try our new resources site! > > [Non-text portions of this message have been removed] Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
