Rekan-rekan Dharmajala,
Apakah Agama harus ikut memecahkan masalah kemasyarakatan? Dalam milling yang lalu ada tuduhan bahwa Sang Budha tidak berbuat apa-apa untuk masyarakat ini. Secara lebih umum di sementara kalangan agamawan timbul keinginan peranan agama dalam menghadapi kepincangan masyarakat. Secara lebih spesifik mereka melontarkan keluh kesah apakah agama diam saja menghadapi kemiskinan dalam masyarakat ini ?. Beberapa agama sudah mendahului mengadakan manufre-manufre yang katanya untuk mengentaskan kemiskinan bahkan sengaja dengan simbul agama dikedepankan supaya orang menjadi bersimpati pada agama tersebut. Dilihat secara sepintas hal ini kelihatan sangatlah terpuji. Untuk masyarakat yang terrepresif memang hal ini sangat menolong pada si miskin. Bantuan mereka bagaikan setitik air di padang pasir yang terik. Kalau saya mendapat musibah, apakah harus mengobati diri, keluarga atau keperluan lain yang sangat mendesak dan segera maka bantuan dari luar sangatlah dihargai, semua orang akan berpikir begini. Karena itu pekerjaan sosial semacam ini mendapat pujian yang tinggi. Ada kelompok orang yang berpikir begini: mengapa mereka menjadi miskin ?. Apakah karena nasibnya yang begitu jelek sehingga bekerja apapun hasilnya nihil?. Kemudian mereka merenung apa sesungguhnya yang terjadi di masyarakat ini dalam kaitan dengan pendapatan yang diperoleh seseorang setelah mereka bekerja ?.Kalau dia misalnya menjadi pemborong, ada proyek, dia selalu kalah dengan anak pejabat itu walaupun pekerjaan dia jauh lebih baik dari. Kalau dia pegawai, dia selalu tidak pernah dipromosikan atau dikirim keluar negeri walaupun dia rajin, pekerja keras dan pandai, sebaliknya temannya yang jauh lebih jelek, rada malas, gak ada kreatifitas dll, selalu mendapat kesempatan emas, sedangkan promosi, kesempatan ke luar negeri berarti mendapat tambahan gaji yang besar. Toko dia laris tapi semenjak hipermarket didirikan di dekatnya, dia kekurangan pembeli, terjadi penurunan pendapatan yang drastis sekali. Ada seribu macam contoh yang dapat disimpulkan, penyebab kemiskinan dia adalah karena sistimnya yang gak benar. Jadi kalau ingin memperbaiki nasib orang maka sistimnya yang harus dirubah, inilah kunci pemecahan ketimpangan masyarakat. Kalau sistimnya benar maka gak perlu ada orang yang dibelaskasihani karena kemiskinannya, harga diri orang naik karena gak pernah menerima hutang budi dari orang lain. Kelihatannya penghalang orang menang dalam persaingan, maju dalam usaha adalah lapisan atas masyarakat ini yang tentunya adalah pemilik modal. Semangklin besar modal yang dipunyai orang semangkin mudah dia menekan orang lain. modal adalah sesuatu yang pasif, kerja oranglah, kreatifitas oranglah yang menyebabkan keuntungan, yang menciptakan nilai tambah pada barang, jadi tidak fairlah kalau pemilik modal menjadi bertambah kaya berlipat-lipat hanya karena dia mempunyai modal. Kalau penggerak produksi itu bisa menjadi milik bersama maka tingkat hidup orang akan naik, orang gak akan jatuh miskin, gak perlu ada usaha untuk membantu si miskin. Bagi kelompok orang berpandangan semacam ini, pertolongan pada orang miskin tanpa menyinggung pengubahan sistim dianggap sebagai menina bobokan orang yang termarginkan, suatu usaha yang patut ditentang, dilawan karena secara gak langsung menyokong lapisan pencipta ketidak adilan di dalam masyarakat. Pandangan kelompok ini memang bisa diterapkan dengan aman karena di negaranya demokrasi sangat dijunjung tinggi, supresi pada perorangan sangatlah ditentang, yang menentang termasuk lapisan atasnya. Idaklah demikian di negara dengan sistim yang otoriter (hal semacam ini masih terjadi di pertengahan abad 19 di Eropa!!). Para penentang sistim bisa dianggap pembrontak yang boleh diciduk, diculik, distrom, di injek kakinya dengan kursi, dilenyapkan dengan berbagai cara dan lain cara penyiksaan. Untuk mengubah sistim semacam ini perlu waktu yang lama, mungkin puluhan tahun, orang miskin yang memerlukan bantuan akan mati sebelum sistim yang lebih baik terlaksana. celakanya bantuan pada si miskin justru akan memperpanjang kesadaran akan ketimpangan dalam masyarakat, yang berarti semangkin memperlama proses pengubahan, suatu dilema. Organisasi agama yang bisa menolong orang miskin mendapat dana dari anggotanya yang berasal dari lapisan atas,lapisan yang menentang pengubahan sistim sosial. Karena itu membantu si miskin tanpa menganjurkan pengubahan sistim sosial akan mudah dituduh menjadi kepanjangan tangan si penguasa oleh kelompok ini. Organisasi agama tidak akan bebas dari kepemihakan. Untuk sekarang mungkin dipandang paling bagus tapi nanti bila sistim berganti maka usaha sekarang akan dianggap paling buruk. Hukum ini kelihatannya bersifat universal. Sesuatu yang berkaitan dengan duniawi tidak lepas dari ketergantungannya pada kondisi, karena itu bila agama ingin menjadi pelita yang berumur tanpa batas waktu, haruslah hanya membahas prinsip-prinsipnya saja bukan petunjuk teknis. Contohnya bisa diberikan pada sejarah agama Kristen. Pada waktu belum ada gerakan protestan, apakah langkah-langkah gereja waktu itu tidak dipandanga benar?, pastilah dianggap benar dan logisnya memang begitu, langkah-langkah itu sesuai dengan ajaran yang ada, langkah itu adil. Belakangan setelah kelompok Protestan menang, orang melihat kebelakang, barulah disadari bahwa apa yang dilakukan adalah salah. Kalau seandainya gerakan Protestan itu kalah, tentunya orang harus menunggu timbulnya gerakan lain atau langkah-langkah gereja masih dipandang benar sampai sekarang. Bagaimana sebaiknya untuk agama Budha ?. Memang serba repot, Sang Budha di Dhammapada Athakata sering berkata: Untung Aku sudah tidak begitu, jadi tidak repot-repot harus memecahkan masalah duniawai, bila beliau melihat ada muridnya yang masih harus berjuang mengatasi problem dirinya. Barangkali cara yang dibawah ini boleh dipikirkan untuk exercise: Para pengikut agama Budha seharusnya didorang untuk terjun ke persoalan masyarakat, janganlah mengucilkan diri bagaikan duduk di menara gading. Bagaimana menyelesaikan ketimpangan masyarakat diserahkan pada masing-masing orang untuk memilihnya dan memikirkannya. Hanya kalau membentuk sistim kemasyarakatan (yang dianggap benar) hendaknya tidak membawa-bawa nama agama Budha atau suta-suta agama Budha. Biarlah itu disebut sebagai sistim X atau sistim si X walaupun sebenarnya terinspirasi dari ajaran Sang Budha. Cara ini dimaksudkan untuk melindungi para bikhu dari urusan politik dan juga untuk membebaskan agama Budha dari masalah politik, yang pasti akan bersifat berkondisi. Pada saat sekarang dengan pengikut yang masih tidur lelap, masih mandek tak bergerak dalam menghadapi problem kemasyarakatan, kita termasuk para bikhunya untuk membunyikan kentongan supaya para budhis ini bangun, bila perlu memberikan cuplikan-cuplikan suta, landasan ajaran yang mendukung aksi ini. Nanti setelah para budhis bangun hendaknya cara-cara semacam ini dikurangi dan kemudian dihapus. Pengalaman sejarah di Eropa pada abad pertengahan, timbulnya terorisme belakangan ini serta runtuhnya komunisme hendaknya dipakai sebagai pelajaran yang berharga. Jaman kegelapan di Eropa itu berlangsung 600-an tahun bahkan Galilleo itu baru diampuni 1-2 tahun yang lalu, hal ini karena langkah sosial yang dikaitkan dengan agama akan susah dihapus kalau terjadi kesalahan/ketidak sesuaian lagi; siapa yang berani menentang perintah Tuhan ?. Lihatlah dengan komunisme, begitu sistim ini tidak jalan maka langsung bisa diubah dan yang mengubah tidak kepalang tanggung, pemimpin tertingginya sendiri, Amerika tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk maksud ini, sedangkan dahulu untuk membendung komunisme Amerika mengeluarkan miliartan dolar untuk maksud ini. Semoga diskusi ini bermanfaat. Kreshna ________________________________________________________________________ Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
