Sdr Fabian,

Maaf ikut nimbrung.

Memang benar, kisah kelahiran Pangeran Sidhatta terdapat pada Acchariyabbutadhamma Sutta (Majjhima Nikaya II, 118). Kita juga bisa membaca kisah yang sangat mirip pada kelahiran Buddha Vipassin di Mahapadana Sutta (Digha Nikaya II, 12).

 

Yang ingin saya tanyakan: apakah menurut Anda seluruh peristiwa/kisah yang terdapat pada Tipitaka adalah fakta sejarah? Apakah peristiwa/kisah pada Tipitaka tidak mendapat 'tambahan' dongeng/mitos?

 

Menurut saya, mengkritisi 'dongeng' yang terdapat pada kitab suci (Tipitaka) bukanlah hal yang buruk, apalagi bermaksud menjelek-jelekkan sang Buddha. Prinsip ehipassiko itu harus diterapkan pada semua hal termasuk kitab suci Tipitaka, bukan hanya pada ucapan/tulisan seorang bhikkhu.

 

Saya setuju dengan pernyataan Anda bahwa kita jangan menilai seseorang karena gelarnya. Anda memberikan contoh bahwa seorang dokter tidak bisa berdiskusi masalah teknik dengan seorang insinyur sipil. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa para bhikkhu itu berbeda dalam pemahaman/pengetahuannya. Menurut saya, bukanlah masalah besar jika seorang bhikkhu yang tidak bisa ingat (hafal??) Pancasila, yang penting ia sendiri bisa melaksanakan kebhikkhuannya (tidak perlu ingat/hafal). Kesimpulan Anda bahwa "Bhikkhu luar negeri belum tentu benar ", harus ditambahkan "Bhikkhu luar negeri belum tentu salah".

 

Mungkin perlu saya tandaskan bahwa jangan lah menilai seseorang
pasti tahu karena memiliki sederet gelar dan berbagai jabatan,
karena sederet gelar dalam kedokteran tidak ada gunanya bagi
masyarakat tehnik sipil (maksudnya ilmu sang dokter tak berguna jika
berdiskusi dalam forum tehnik sipil mengenai beton misalnya karena
bidangnya beda), walau dokter dengan sederet gelar itu bisa
menghidupkan orang mati sekalipun.

mettacittena,

KH

 

--- In [EMAIL PROTECTED], "chandrafabian"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saudara Jimmy yang baik,
Apakah topik mengenai terjemahan mengenai mitos atau manipulasi
menarik Sekali sehingga anda sengaja mempostingnya?
Sangat disayangkan Apabila transcript Bhikkhu Mettanando dimuat,
(bila memang benar tidak di distorsi) karena dengan lantang
mengatakan bahwa kisah kelahiran sang Buddha mengada-ada (tidak ada
di Tipitaka?). Dan juga sangat disayangkan penterjemah tidak memilah-
milah naskah yang benar atau naskah yang tidak benar, saya memberi
saran untuk mengetahui mengenai kelahiran pangeran Sidhatta coba
baca Acchariya-Abbhuta sutta no 123 dari Majjhima Nikaya, yang
merupakan bagian dari Uparipannasapali, yaitu lima puluh bagian
sutta terakhir dari rangkaian koleksi majjima Nikaya,mudah-mudahan
anda juga mengerti apa itu Majjhima Nikaya, yaitu bagian Dari Sutta
Pitaka. Bila ingin membaca lebih lengkap secara umum baca
Buddhavamsa, bagian dari Khudaka nikaya.

Kemudian mengenai Penerangan sempurna mungkin dikatakan bahwa kisah
Brahma Sahampati memohon agar Sang Buddha mengajarkan Dhamma mengada-
ada lagi, coba baca Ariya Pariyesana Sutta Majjhima Nikaya no:26,
atau bila menganggap bahwa kisah mengenai Sang Buddha bermeditasi
berminggu-minggu setelah pencapaian Boddhi adalah karangan orang-
orang jaman sekarang dan tak ada dalam Tipitaka, anda coba baca
Mahavagga dari Vinaya Pitaka.

Saudara Jimmy, perlu saya beritahukan bahwa menjelek-jelekkan Sang
Buddha tidak baik, bila anda memiliki keraguan karena kurang
mengerti terhadap ajaran Sang Buddha itu wajar-wajar saja, tetapi
harap  keraguan itu disimpan lebih dahulu, teliti apakah benar, bila
telah diperiksa dengan baik baru diungkapkan karena merendahkan Sang
Buddha bisa menyebabkan terlahir dialam yang rendah atau menjadi
sulit menemukan Dhamma yang benar dan hal itu juga berlaku pada
mereka yang ikut ikutan. 

Mungkin perlu saya tandaskan bahwa jangan lah menilai seseorang
pasti tahu karena memiliki sederet gelar dan berbagai jabatan,
karena sederet gelar dalam kedokteran tidak ada gunanya bagi
masyarakat tehnik sipil (maksudnya ilmu sang dokter tak berguna jika
berdiskusi dalam forum tehnik sipil mengenai beton misalnya karena
bidangnya beda), walau dokter dengan sederet gelar itu bisa
menghidupkan orang mati sekalipun.

Juga jangan diterima begitu saja hanya karena orang itu adalah
Bhikkhu, terimalah suatu pendapat berdasarkan kebenaran yang
terkandung di dalamnya, bukan berdasarkan siapa yang mengemukakan.
Sebagai informasi bagi anda, dahulu di tahun 80'an ada seorang
bhikkhu Indonesia yang ditahbiskan di Thailand yang bahkan Pancasila
saja tidak ingat, bekas Bhikkhu ini masih hidup sampai sekarang,
kesimpulannya pendapat Bhikkhu dari luar negeri belum tentu benar.

Ehipassiko adalah membuktikan pendapat yang anda dapatkan dari
siapapun walaupun dari bhikkhu apakah benar atau tidak? itulah
ehipassiko yang sesungguhnya. Saya ingin tahu apakah anda memposting
dengan melakukan ehipassiko lebih dahulu atau tidak? atau karena ada
sebab lainnya?



Semoga keterangan saya berguna.

Fabian

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke