Rekan-rekan Dharmajala,
Kelahiran dan Parinibana Sang Budha,Mithos atau realitas?
1) Dalam milling ini telah muncul diskusi tentang sejarah kelahiran dan parinibana Sang Budha Gautama.Pro dan kontra sudah terjadi. Saya pernah membaca buku �Sejarah Kebudayaan� (saya agak lupa-lupa ingat karena sudah lama sekali) yang berisi keterangan sangat singkat bahwa di Persia ada Agama yang disebut Zoroaster atau Zarathustha, hidup kira-kira 570-500 atau 660-583 sbM yang ajarannya mirip dengan ajaran agama Budha, bahkan dibuku itu diberi gambar patungnya yang sedang duduk sambil tangannya membentuk semacam mudra. Saya pernah ketemu seorang Iran yang mengatakan bahwa agama Budha mirip dengan agama Zoroaster. Dua peristiwa yang berlainan ini mendorong saya menduga bahwa informasi ini betul, tapi waktu saya membuka �Ensiklopedi Umum terbitan Jajasan Kanisius tahun 1973 dalam �The American Encyclopedia� tahun 1993(?) maupun �Kamus Filsafat� karangan Lorens Bagus terbitan Gramedia tahun 1996, agama Zoroaster ini tidak mirip dengan agama Budha, jadi informasi yang pertama kelihatannya salah. Mengapa informasi ini penting ditelusuri kebenarannya ?. Kalau agama ini sama dengan agama Budha sedangkan usianya lebih tua dari agama Budha maka sebagian orang akan berpikir bahwa agama Budha itu sebetulnya sebuah proses penceritaan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga lama-lama terbentuk suatu ajaran yang mantap, seperti yang terjadi pada agama Hindu.
2) Saya mendapat impresi bahwa sumber berita tentang agama Budha dan Sang Budha berasal dari peninggalan raja Asoka, saya harapkan kalau dari peserta milling ini ada yang mendapat informasi lain sudi kiranya bersedia memberitahu saya supaya informasi di saya dapat diperbarui. Akibat dari hal ini sumber-sumber yang bisa diperoleh hanya dari cerita-cerita di kitab-kitab suci agama Budha, yang sebetulnya ingin juga kita verifikasi untuk mencari kebenarannya. Menghadapi hal semacam ini kita harus berpegang pada metoda ilmuwan dalam menelusuri kebenaran, selama belum ada petunjuk baru maka apa yang ada kita anggap benar (walaupun mungkin ada yang disangsikan kebenarannya karena tidak sesuai dengan pengalaman manusia sampai sekarang) sampai diperoleh informasi baru. Peninggalan-peninggalan yang langsung berasal dari Sang Budha pastilah sulit didapat karena orang cendrung mengkeramatkan peninggalan-peninggalan ini sehingga tidak bisa dikaji secara ilmiah, peninggalannya pastilah sedikit sekali dan jarak waktunya sangat lama sehingga hilang dimakan waktu atau ada informasi tambahan yang tidak relevan dengan cerita aslinya kemungkinan besar ikut masuk.
3) Tapi kita patut berbangga hati karena agama Budha tidak berdasarkan kepercayaan melainkan pengalaman riel dari Sang Budha, hasil dari pengalam transcendental Sang Budha (D.J. Kalupahana,�Filsafat Budha� diterjemahkan oleh Hudaya Kandahjaya,Erlangga, 1986). Kalau agama Budha didasarkan pada kepercayaan maka ajaran yang disampaikan akan makin jauh dari aslinya setelah rentang waktu kian lama, bisa-bisa berbeda dengan maksud semula. Kalau berdasarkan rialita maka ajaran tersebut dapat digali lagi setiap saat,tambahan-tambahan belakangan bisa dikonfermasi lagi.
4) Tentang derita yang dialami Sang Budha menjelang Parinibana. Salah satu konskuensinya orang mempertanyakan apakah ada perbuatan Sang Budha dahulu yang menyebabkan begitu ?. Saya lebih cendrung melihatnya begini: apakah hukum karma yang kita tangkap dari kitab-kitab yang ada tidak mengalami distorsi pemahaman, karma ditafsirkan mirip dengan nasib?. Saya sudah lama merasakan adanya penafsiran yang tidak pas akan hukum karma ini , kalau ditafsirkan seperti itu maka banyak peristiwa yang sulit diterangkan dengan hukum karma !. Pada suatu saat saya mendapatkan buku�Kamma Anatta� karangan Bhante Sayadaw U Silananda, terbitan Karaniya, yang menafsirkan cetana menimbulkan potensi bukan hasil ! Dengan penafsiran yang baru ini maka banyak peristiwa bisa diterangkan dengan hukum karma. Misalnya kemajuan kedokteran telah menyebabkan pengidap penyakit kencing manis bisa berumur panjang, penyakit kanker yang jaman dulu pasti mematikan sekarang masih mungkin ditolong. Hasil karma adalah proses sebab-akibat yang terus bergulir dari agregat potensi-potensi karma yang ada dan usaha sekarang ini, tak seorangpun dapat meramalkan apa yang akan terjadi kecuali untuk hal-hal yang sangat kuat potensinya atau kondisi-kondisi yang melingkupinya saling bersinergi, dalam hal semacam ini karma hampir mirip dengan nasib. Dengan demikian apa yang dialami Sang Budha sebetulnya hal yang biasa, proses hukum sebab-akibat yang dipunyai Sang Budha pada saat itu.
5) Bukankah cerita ini justru membenarkan hukum anica, ada kelahiran tentunya ada kematian, hidup didunia ini tidak lepas dari dukha. Kalau Sang Budha bisa lepas dari hukum ini bukankah berarti ada cara lain untuk bisa menghindar dari apa yang disampaikan Sang Budha tentang dunia ini?.
6) Ada seorang miliing yang bergembira karena cerita ini menggambarkan Sang Budha tidak melebihi Tuhan.Saya sendiri menjadi bingung kapan kita umat Budha menganggap Sang Budha sebagai Tuhan ?.Bukankah Sang Budha diberi gelar oleh umatnya Guru Agung, predikatnya Guru bukan Tuhan. Sang Budha tidak pernah menciptakan manusia atau mahluk hidup lainnya, Beliau menyampaikan apa yang Beliau Lihat tentang Alam Semesta ini dan kemudian menyampaikan bagaimana menghindar dari cycles di alam semesta ini.
Kreshna
29-4-05
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
