Namo Buddhaya,

Rekan-rekan yang terkasih dalam Dhamma,

Ternyata saya melihat bahwa artikel dari Bhante Mettanando itu telah 
menimbulkan polemik di milis ini. Sebenarnya menurut saya artikel ini 
memang cukup menarik. Hanya sayangnya menimbulkan dua efek negatif 
sebagai berikut:

1.Perpecahan dan pertengkaran di kalangan umat Buddha sendiri, terutama 
di milis ini. Sebagai sesama saudara sedharma tentu saja hal ini tidak 
perlu terjadi.
2.Terjadi sedikit "pelecehan" terhadap pribadi Buddha Gotama.

Untuk memecahkan hal ini, izinkanlah saya yang bodoh ini untuk sedikit 
urun rembug. Apa yang saya baca dari artikel Bhante itu tidaklah 
menggoyahkan sedikitpun keyakinan saya akan Dhamma atau kepada pribadi 
Buddha Gotama. Malahan setelah saya baca artikel yang berusaha 
membumikan pribadi Guru Junjungan kita itu, hati saya menjadi terenyuh.
Saya membayangkan seorang kakek tua yang telah sakit tetapi demi 
kasihNya masih terus berkelana ke sana kemari demi memberikan 
kebahagiaan kepada semua makhluk. Senyum kedamaian terpancar di 
wajahNya yang agung. Meskipun gurat ketuaan dan penyakit terpancar dari 
wajahNya tetapi Beliau tetaplah mencintai semua makhluk dan tanpa kenal 
lelah berpuluh-puluh tahun membabarkan Dhamma. Sungguh pengabdian yang 
luar biasa. Kekaguman dan rasa cinta saya terhadap Guru Buddha justru 
makin bebertambah setelah membaca apa yang ditulis oleh Bhante.  
Mettanando.
Coba bayangkan kita sakit perut saja sudah malas keluar dan memasang 
tampang masam. Namun tidak demikian halnya dengan seorang Tathagata. 
BAhkan di tengah sakitnya, Beliau masih sempat teringat pada orang 
lain, seperti misalnya Cunda. Ini sekali lagi beda dengan kita yang 
hanya ingat diri sendiri saja tatkala sakit dan susah. Jadi sakit 
apapun Sang Buddha tetap saja Beliau lebih dari sekedar manusia biasa. 
Saya pernah dengar pendapat rekan-rekan yang baru pulang dari ziarah di 
India. Ternyata India pada saat sekarangpun masih jorok dan kotor. Coba 
bayangkan India 2500 tahun yang lalu. jalan2 tentu masih belum sebanyak 
dan sebagus sekarang. Bayangkan ada seorang kakek tua penyakitan yang 
berkelana dengan pengikutnya pada masa itu demi menyebarkan cinta 
kasih. Apakah orang semacam itu bukan orang mulia?
Sebenarnya pandangan mengenai sakitnya Sang Buddha ini bukan barang 
baru dalam Buddhisme. Kita toh sudah tahu bahwa Sang Buddha memang 
sakit sebelum memasuki mahaparinibanna. Ini semua kita tahu dari 
Mahaparinibanna Sutta. Jadi tidak ada yang baru sama sekali. Hanya saja 
kini ada seorang Bhante yang coba merekonstruksi hal ini. 
Tindakan rekonstruksi semacam ini sebenarnya telah ada pula pada agama-
agama lain, seperti misalnya Kristen. Hanya saja ini tidak menggoyahkan 
keyakinan mereka sama sekali. Malah kita lihat Kristen semakin pesat. 
Jadi tentu saja pendapat ini hendaknya tidak menggoyahkan keyakinan 
kita sebagai umat Buddha. 
Ada beberapa hal yang perlu kita ingat. Sakit apapun Buddha, ini tidak 
berarti bahwa Beliau tidak mampu untuk menyembuhkan sakitNya itu. Ada 
banyak pelajaran berharga yang bisa kita tarik di sini.

1. Seorang mencari pencerahan hendaknya jangan karena ia takut akan 
kelahiran, penyakit, usia tua, dan kematian. Jadi meskipun orang yang 
tercerahi mungkin bisa membebaskan dirinya dari semua penderitaan, 
tetapi ini bukanlah motivasi utama seorang mencapai pencerahan. SEorang 
mencari pencerahan bukanlah karena takut akan balasan retribusi kamma. 
Nibanna bukanlah tempat pelarian. Justru orang yang cerah tidak akan 
lari dari semua kewajaran. Sakit, usia tua dan kematian adalah ciri 
khas samsara dan seorang yang tercerahi tidaklah bermotivasi untuk lari 
dari semua itu. Orang tercerahi justru akan menanggung buah kammanya 
dengan sadar dan tidak lari, karena cetana telah padam.

2. Ada pertanyaan mengapa Buddha masih mengalami penyakit sebelum 
kematiannya. Apakah kamma Beliau kurang baik? Sesungguhnya ada banyak 
pelajaran berharga di sini. Hal ini justru seharusnya memacu kita untuk 
menghindarkan diri dari kejahatan. Kalau dahulu kita banyak berbuat 
jahat, maka kini seharusnya kita makin menyadari bahwa orang sesuci 
Buddha saja masih harus menerima balasan kamma, apalagi kita? Kita 
hendaknya menyadari bahwa balasan kamma itu sungguh mengerikan dan 
tidak dapat hilang. Tidak ada tempat bagi seseorang untuk melarikan 
diri. Apa yang dialami Buddha ini sesungguhnya merupakan pelajaran 
Dhamma berharga bagi kita dan bukan menunjukkan bahwa berbuat baik itu 
tak ada gunanya. Meskipun seseorang telah mencapai tingkat kesucian, 
tetapi kamma itu tetap ada, karena Buddha tidak mengenal konsep 
pengampunan dosa. Pencapaian tingkatan kesucian BUKAN pengampunan dosa 
apalagi pengampunan kamma. Kita melihat Kujuttara yang telah mencapai 
tingkatan kesucian tetapi tetap harus mati terbakar karena balasan 
kammanya (lihat Dhammapadaatthakata).

3.Buddha mengajarkan untuk menanggung semua penderitaan dengan sabar. 
Hidup ini adalah dukkha. Tetapi sekali lagi pencerahan tidak berarti 
lari dari dukkha. Bila seseorang telah sampai di pantai seberang, maka 
ia akan menyadari bahwa pantai sini dan pantai seberang sesungguhnya 
adalah non dualitas. Inilah mengapa Yang Arya Nagarjuna mengatakan 
bahwa samsara adalah nirvana dan nirvana adalah samsara. Saya yakin 
bahwa Buddha tentu saja dapat menyembuhkan penyakitnya bila ia mau. 
Master Xun Hua suatu kali pernah melemparkan tongkatnya dan mengatakan 
bahwa kalau mau ia dapat saja berjalan tanpa tongkat. Namun seorang 
Buddhis sejati bukanlah lari dari konsekuensi kamma.

Menimbang beberapa hal tersebut di atas, maka meskipun penyakit Sang 
Buddha dapat didiagnosa secara ilmiahpun maka hal ini tidak ada 
pengaruhnya terhadap keagungan Beliau ataupun Dhamma yang diajarkanNya. 
Sang Buddha menderita penyakit A sebelum meninggal. So what gitu lho...?
Sang Buddha menderita penyakit B sebelum wafat. So what gitu lho....
Selain itu apa yang dikemukakan Bhante Mettanando hanya sekedar wacana 
dan tentu saja tidak ada bukti bahwa apa yang dikatakan adalah 100 % 
benar. Untuk membuktikan benar dan tidaknya tentu saja seseorang harus 
melakukan time travelling (perjalanan waktu) ke 2500 tahun lalu di 
bawah Pohon Sala di Kusinara. Selain itu tentu saja jangan lupa membawa 
alat2 kedokteran modern.

Sebagai penutup saya ingin mengajak rekan-rekan sekalian untuk makin 
yakin akan kebenaran Buddhadhamma.

Metta,

Tan

PS: Untuk kakek Buddha terima kasih atas jasaMu, yang tanpa peduli 
lelah, sakit penyakit menyebarkan Dhamma. Sungguh beruntung aku 
mengenal ajaranMu.











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke