Namo Buddhaya,

Benar sekali, pendapat dari 'dh4rm4duta' dan 'flyaway_withlove'. 
Menurut saya, seseorang yg telah mencapai Arahat atau sudah menjadi 
Buddha (mencapai Nibanna), tidak akan merasakan dukha, maksudnya pada 
saat Mereka merasakan sakit / penyakit, Mereka hanya menyadari bahwa 
fisik Mereka -lah yang sedang mengalami proses dan menimbulkan rasa 
sakit, bathin / pikiran Mereka tetap tidak merasakan penderitaan.
Seorang Sammasam Budhha, adalah Bodhisatta yg terlahir di alam 
manusia sebelum mencapai Nibanna, dimana Mereka memiliki tubuh fisik 
sebagaimana manusia lainnya. 
Dan pada saat mencapai Pembebasan Abadi Nibanna, yg terbebas itu 
adalah kesadaraannya, dimana tidak ada lagi keinginan utk terlahir 
kembali, tiada nafsu rendah, bathin nya sangat tenang dan tentram, 
karena telah mengetahui / memahami dgn benar 'misteri' kehidupan ini 
yang sesungguhnya, memahami kebenaran (Dharma) yang sejati. 
Akan tetapi tubuh manusia-Nya itu tetap tubuh manusia biasa, yang 
terbuat dari daging, tulang dan darah. Menurut Hukum Alam, segala yg 
tercipta maka akan mengalami kehancuran, tiada sesuatu yg kekal. 
Sehingga tidak perduli apakah manusia itu manusia biasa ataukah telah 
mencapai Nibanna, tubuh manusia mereka itu harus lah mengalami 
ketuaan, penyakit dan kematian.
Maka dari itu, bila kita mendengar mengenai proses sakitnya Sang 
Tathagatha menjelang wafatnya Beliau, hal itu adalah hal yang sangat 
wajar. 
Tidak ada 1 alasan pun yg dapat membuat Kemuliaan-Nya, kesucian-Nya 
berkurang. Begitupun rasa hormat dan kekaguman kita terhadap pengikut-
Nya, tidak ada alasan utk berkurang sedikit pun.

Mungkin bisa saja Hyang Buddha, tidak hanya hidup 80 tahun saja, 
mungkin bila Beliau menghendakinya bisa saja hidup sampai ratusan 
tahun. Tetapi hal ini bertentangan dengan Hukum Alam dimana manusia 
normalnya hidup secara relative, tidak ada yang mencapai usia ratusan 
tahun, dan berusia panjang pun bukan berarti lenyapnya penderitaan.

Inti ajaran Sang Buddha, adalah untuk memahami apa sebenarnya 
kehidupan ini, apa sebenarnya Kebenaran itu, serta untuk mengakhiri 
penderitaan dan mencapai pembebasan abadi Nibanna. Jadi kita belajar 
Dharma yg diajarkan Sang Buddha utk memahami Kebenaran tsb, bukan utk 
mendapatkan 'Keajaiban2'. 

Mungkin Sang Buddha berpikir, kalo saat itu adalah saat yang tepat 
untuk membiarkan tubuh manusianya mati, maka Beliau membiarkannya. 
Ditambah lagi usia Beliau yang telah cukup tua (utk ukuran manusia).
Dharma telah dibabarkan dengan sempurna, maka tugas seorang Buddha 
juga telah selesai. Beliau mencari penerangan sempurna bukan utk 
hidup abadi atau membuat orang kagum akan kekuatan2 bathinnya, 
mempercayainya lalu mengikutinya, Tapi utk mengakhiri duka akibat 
kelahiran yg berulang2, dan mengajarkan kepada mahluk lainnya.
Maka dari itulah Sang Buddha membiarkan tubuh manusianya sakit dan 
mati.
Pengertian yg benar akan Dharma harus kita miliki. 

demikian pendapat saya, semoga bermanfaat.


swati hotu,

CFR




--- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Namo Buddhaya,
> 
> Benar sekali, pencapaian nibanna bukanlah penghapusan kamma atau 
> pengampunan dosa. Seorang Buddha atau Arahat tinggal menghabiskan 
> kammanya saja, sehingga tetap saja artikel Bhante Mettanando itu 
> tidak menggoyahkan keyakinan atau "keimanan" Buddhisme sama sekali. 
> Malah kita harus semakin menyadari keagungan jiwa Sang Buddha.
> 
> Metta,
> 
> Tan
> 
> --- In [email protected], "flyaway_withlove" 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Pada saat seseorang sudah menjadi arahat/buddha, dia sudah bebas 
> dari
> > hukum karma. Inilah Kebahagiaan Sejati. Jadi tindakan yang dia 
> lakukan
> > setelah mencapai pencerahan tidak akan menghasilkan buah karma. 
Dia
> > tinggal menghabiskan sisa-sisa karmanya. Walaupun begitu, dia yang
> > sudah mencapai pencerahan sebagian ada yang 
karena "love/compassion"
> > berusaha menunjukkan jalan menuju pencerahan kepada umat manusia
> > seperti yang dilakukan oleh Siddharta walaupun tindakan itu tidak 
> akan
> > menghasilkan karma. Luar biasa!!!
> > 
> > Nah, mengenai tragisnya kematian Siddharta ( karena diracun???? 
maaf
> > ketinggalan kereta ), itu kan dari pandangan kita sebagai manusia 
> yang
> > masih dipengaruhi suka dan duka. Siddharta sendiri sudah tidak
> > terpengaruhi oleh "duka", yaitu diracun. Malah ada cerita yang
> > menggambarkan Siddharta senyum2 saja saat tahu dirinya diracun
> > walaupun sebagian muridnya kesal "banget" dengan yang meracuninya.
> > Siddharta malah pernah bilang, "Aku adalah makhluk yang paling
> > berbahagia!". :) 
> > 
> > --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Dear bro JL dan rekan2 Dharmajala,
> > > 
> > > Saya berterima kasih atas artikel2 yang bro JL kirimkan, semua 
> itu telah
> > > menambah wawasan saya mengenai Buddha Dhamma.
> > > Terutama mengenai Kelahiran dan Kematian Buddha yang terakhir 
> diposting,
> > > itu telah membuka mata saya mengenai kehidupan sang Buddha dari 
> sudut
> > > pandang manusia biasa (yang lahir, tua, sakit, dan mati).
> > > Selama ini yang saya belum menemukan di buku2 atau artikel2 
> mengenai
> > > Kematian Buddha secara "membumi" (tidak ada unsur2 supranatural
> > > didalamnya.)
> > > 
> > > Namun ada satu hal yang mengganjal di benak saya, semoga rekan2 
> ada yang
> > > bisa menjawabnya.
> > > Seperti yang banyak kita dengar dari ceramah2 di vihara, bahwa 
> orang
> > yang
> > > menanam karma baik akan menuai hasilnya (misal: menyelamatkan 
> mahluk
> > hidup
> > > akan diberi umur panjang dan bahagia). Begitu pula dengan orang 
> yang
> > > menanam karma buruk akan menuai hasilnya. (membunuh/menyakiti 
> mahluk
> > hidup
> > > akan menderita)
> > > 
> > > Dan seperti yang kita ketahui bahwa Sang Buddha merupakan 
seorang
> > yang luar
> > > biasa, beliau telah memberikan warisan Dhamma yang tak ternilai 
> kepada
> > > kita. Kalau dilihat dari sukum sebab akibat, tentunya beliau
> > memiliki karma
> > > baik yang luar biasa.
> > > Namun dalam artikel Kematian Buddha mengapa kematian Buddha 
> terkesan
> > > tragis? (ini kesan yang saya tangkap)
> > > Apakah dikehidupan sebelum terlahir sebagai Buddha Gautama 
beliau 
> telah
> > > melakukan karma buruk sehingga harus meninggal dengan cukup 
> tragis?
> > > Apakah ada kisah yang menceritakan perbuatan buruk Sang Buddha?
> > > Atau apakah hukum karma tidak berlaku atau kondisinya tidak
> > memungkinkan?
> > > 
> > > Mungkin ini yang ditakutkan oleh sebagian orang yang kurang 
setuju
> > dengan
> > > artikel ini, takut kalau apa yang diyakininya selama ini 
ternyata 
> salah.
> > > Dan mungkin kebanyakan umat Buddha (termasuk saya sendiri) 
lebih 
> nyaman
> > > apabila Sang Buddha diceritakan meninggal dengan tenang (tidak 
> menderita
> > > sakit sebelum meninggal) yang akan menambah keyakinan bahwa
> > perbuatan baik
> > > pasti berbuah baik. (Maksudnya Sang Buddha yang menjadi 
junjungan 
> kita
> > > karena telah menjadi guru dewa dan manusia saja bisa menderita 
> demikian
> > > hebat sebelum kematiannya, apalagi kita sebagai umat awam)
> > > 
> > > 
> > > Anumodana,
> > > Mulyadi
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > 
> 
>                                                                    
> >        
> > 
> 
>              "pelayan_buddha"                                      
> >        
> > >              
> <[EMAIL PROTECTED]                                     
> >        
> > >              
> ahoo.com>                                             
> >     To 
> > >              Sent by:                  
> [email protected]  
> >        
> > >              
> [EMAIL PROTECTED]                                     
> >     cc 
> > >              
> roups.com                                             
> >        
> > 
>                                                                   
> > Subject 
> > >                                        [Dharmajala] Re: 
Kelahiran
> > Buddha - 
> > >              04/29/2005 02:49          mitos atau 
> manipulasi?      
> >        
> > >              
> PM                                                    
> >        
> > 
> 
>                                                                    
> >        
> > 
> 
>                                                                    
> >        
> > >              Please respond 
> to                                     
> >        
> > >              
> [EMAIL PROTECTED]                                     
> >        
> > >                  
> roups.com                                         
> >        
> > 
> 
>                                                                    
> >        
> > 
> 
>                                                                    
> >        
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Dear Bros n Sis,
> > > 
> > > Sekuntum teratai untuk anda semua, para calon Buddha.
> > > 
> > > Untuk menghemat band width, maaf, tanggapan untuk beberapa 
orang 
> akan
> > > saya jadikan satu.
> > > 
> > > 1. Bro Chingik:
> > > 
> > > "Seharusnya juga orang yang mem-posting topik ini harus secara 
> aktif
> > > dalam diskusi itu, jangan hanya memposting dan membiarkan orang 
> lain
> > > berargument begitu saja seperti angin berlalu."
> > > 
> > > JL:
> > > 
> > > Sampai saat ini saya sangat senang dan bersyukur membaca 
> tanggapan2 yg
> > > diberikan Bro. Chingik. Banyak hal yang saya pribadi 
sependapat. 
> Jadi
> > > saya tidak akan menanggapi apa yang saya anggap sudah sangat 
> bagus.
> > > 
> > > Saya hanya mau mengklarifikasi himbauan Bro. Chingik, terkutip 
di 
> atas:
> > > 
> > > a. Saya hanya sharing informasi yg saya "yakini" akan membawa 
> manfaat.
> > > 
> > > b. Waktu saya seringkali tidak mengijinkan untuk berinteraksi.
> > > 
> > > c. Pro dan kontra dalam menanggapi suatu permasalahan adalah 
> realitas
> > > kehidupan ini. Kita punya kebebasan untuk memilih:
> > > 
> > > c1. Mensensor sehingga yg muncul hanyalah apa yg kita masing2 
> pribadi
> > > "anggap" baik saja. Tapi ini tidak mencerminkan kehidupan nyata.
> > > 
> > > c2. Bebaskan saja. Tidak usah disensor. Masing2 orang bebas dan 
> berhak
> > > mengungkapkan apa yg ada di benaknya dan juga bebas mengungkap 
> sesuai
> > > gaya masing2. Bahkan gaya yg tidak umum sekalipun dan yg dirasa 
> sangat
> > > melecehkan orang lain. Kalau begini, jelas bisa kacau balau.
> > > 
> > > c3. Jalan tengah: bagaimana kita berusaha memberikan kebebasan 
> serta
> > > dorongan pada orang lain agar berkesempatan untuk mengungkapkan 
> apa yg
> > > ada di benaknya dgn gayanya masing2 tapi masih dalam batas2 
> kewajaran
> > >   sehingga lebih mendekati kenyataan hidup ini.
> > > 
> > > #Saya berdiri di atas landasan poin c3#
> > > 
> > > 
> > > Melalui media milis ini kita sama2 belajar:
> > > 
> > > -Bagaimana mendengarkan pendapat orang lain secara MENDALAM.
> > > 
> > > -Bagaimana menghargai pendapat orang lain yang belum tentu 
sesuai
> > > dengan pendapat kita.
> > > 
> > > -Bagaimana mengamati gejolak batin kita yg muncul karena 
perbedaan
> > > tersebut.
> > > 
> > > -Bagaimana menghormati diri sendiri dan orang lain sehingga 
ketika
> > > memberikan tanggapan tidak asal nulis.
> > > 
> > > -Bagaimana belajar, berlatih, dan berbagi Buddha Dharma.
> > > 
> > > -Dsbnya.
> > > 
> > > 2. Himbauan Sis widiawati pada Bro. Huang Di agar menggunakan 
cara
> > > penyampaian yg lebih "familiar" dan tanggapan dari Bro/Sis
> > > caofurong_77 dan Sis Jusnita, lebih merupakan diskusi yg 
menjurus 
> ke
> > > pribadi ketimbang mendiskusikan topik. Bagi saya, itu 
mencerminkan
> > > realitas kehidupan ini. Yg penting adalah apakah pihak2 yg 
> terlibat
> > > dalam diskusi tadi dan juga kita2 ini memperoleh manfaat 
> transformasi
> > > diri atau malah ngotot mempertontonkan "Ini lho gaya aku 
menulis,
> > > tidak bisa berubah." Kalau begitu, jelas ini omong kosong 
karena 
> kita
> > > sama2 tahu, manusia bisa berubah. Tidak kekal. Kalau bisa 
> menghasilkan
> > > yg lebih baik kenapa tidak? Kita semua lagi sama2 belajar. Ya, 
> saling
> > > dukunglah.
> > > 
> > > 3. Bro. Kong Ming Indo:
> > > 
> > > "Sy rasa posting mengenai kelahiran dan kematian Buddha yang 
> begitu
> > > "membumi" kurang arif bijaksana, karena yang mengakses 
Dharmajala
> > > bukan hanya orang buddhis yang telah commit, tapi juga umat 
buddha
> > > yang masih belum yakin betul terhadap buddhadharma sendiri, 
bahkan
> > > mungkin umat agama lain yang akan menggunakan terjemahan tulisan
> > > bhikkhu Mettanando sebagai "senjata" untuk melakukan 
diskriminasi 
> dan
> > > provokasi, tanpa adanya kesempatan pembelaan di lapangan. Kalo 
di
> > > posting di milis yang membernya peneliti atau "by invitation 
> only",
> > > maka sah-sah saja penulisan bhikkhu mettanando dimuat."
> > > 
> > > JL:
> > > 
> > > Y, itu adalah pandangan Bro. Kong Mingdo. Saya hargai pendapat 
itu
> > > walaupun tidak sependapat.
> > > 
> > > Tanggapan saya:
> > > 
> > > a. Dalam hal ini, saya sependapat dgn Bro. Surya:
> > > 
> > > "yeeee, itu mah namanya maksa bang!lho bukannya upaya kausalya 
itu
> > > mencakup segala cara, kalo gitu termasuk cara pandang 
> secara 'membumi'
> > > donk! itu kan termasuk upaya kausalya! kumaha sih kang kong 
> ming???"
> > > 
> > > 
> > > b. Apa sih definisi dari seorang Umat Buddha?
> > > 
> > > -Di KTP tercantum beragama Buddha?
> > > -Di mulut selalu terucap "Aku Buddhis lho."
> > > -Sudah ditisarana?
> > > -Setiap minggu pasti ke wihara?
> > > -Hafal dan mampu mengutip sutta/sutra?
> > > -Mampu duduk ber"meditasi" berjam2?
> > > -Sabar, toleransi, mawas diri, peduli lingkungan, ringan 
tangan, 
> mampu
> > > mendengar pendapat orang lain, tidak diskriminatif, dsbnya?
> > > 
> > > Ketika kita bicara tentang "Umat Buddha", definisi manakah yang 
> kita
> > > pakai?
> > > 
> > > c. Kalau "agama Buddha" dipelintir oleh oknum-oknum beragama 
lain 
> yang
> > > merasa dirinya "Buddhis" ... ya bangkit dong, berilah 
klarifikasi.
> > > Jangan jadi jagoan kandang dan doyan cakar-cakaran doang.
> > > 
> > > d. Jika kita memilih melepaskan informasi yg "aman2" 
> saja "menurut"
> > > kita "pribadi" agar "Umat Buddha" Indonesia menjadi "kuat" dulu
> > > "keyakinannya", kog jadi mirip2 praktik cencorship kaum 
diktator 
> yg
> > > berujung pada pembodohan rakyatnya.
> > > 
> > > Nah kurang lebih inilah tanggapan saya. Untuk diskusi lebih 
> lanjut,
> > > lebih baik copy paste aja...upsss...sori...copy darat 
> aja...Peaceeee.
> > > 
> > > 
> > > Anumodana
> > > Let us try to be mindful
> > > Salam Perjuangan
> > > 
> > > JL
> > > 
> > > 
> > > 
> > > --- In [email protected], "bodhimanggala"
> > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > yeeee, itu mah namanya maksa bang!
> > > > lho bukannya upaya kausalya itu mencakup segala cara, kalo 
gitu
> > > > termasuk cara pandang secara 'membumi' donk!
> > > > itu kan termasuk upaya kausalya!
> > > > kumaha sih kang kong ming???
> > > >
> > > >
> > > > yg lagi boring marking students scripts
> > > > ============================
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > --- In [email protected], Kong Ming 
<[EMAIL PROTECTED]>
> > > > wrote:
> > > > > Dear sdr chingik,
> > > > >
> > > > > sy happy membaca email anda yang melihat kisah kelahiran 
> maupun
> > > > kematian Buddha dari konteks yang lebih makro. thks for that.
> > > > >
> > > > > banyak sekali upaya kausalya yang dipraktekkan oleh para 
> buddha
> > > > dan bodhisattva, seperti yang tertera dalam kitab mahayana.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
> > diri saya
> > > maupun di luar diri saya.
> > > 
> > > Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
> > > tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
> > > serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
> > > Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
> > > latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
> > > agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> > > sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
> > > Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi 
> penuh
> > welas
> > > asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun 
> sore
> > hari,
> > > membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama 
> melepaskan
> > > kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan
> > orang tua,
> > > para guru, serta sahabat-sahabat kami.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Yahoo! Groups Links
> > >       To visit your group on the web, go to:
> > >       http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
> > > 
> > >       To unsubscribe from this group, send an email to:
> > >       [EMAIL PROTECTED]
> > > 
> > >       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms 
of
> > Service.








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke