|
Namo Buddhaya, Mau ikut sumbang pendapat J rasanya sumber “cognitive
conflict” dari Bro/Sis Memandang Laut (sori… saya gak tau, beliau
ini bro apa sis…) bukan di pengertian dari “berdana” seperti
yang sudah diuraikan dengan baik sekali oleh Bro Awi and Bro Siutarno. Tapi
menurut saya, sumbernya lebih ke “persepsi
beliau tentang kenyataan kalau kegiatan Buddhis tuh ujung2nya selalu minta
sumbangan”. Jadi, keliatannya sih… mau dijelaskan
bagaimana pun tentang pengertian “Berdana”, tidak akan menjawab
pertanyaan beliau. Bagaimana kalau kita hargai pandangan dan
kesimpulan beliau seperti yang beliau bilang di email sebelum ini: “Yah udah lha, lagian gue boleh dong punya pandangan dan
kesimpulan sendiri, itu khan hak gue” Nah, boleh juga donk kita minta beliau
untuk menghargai padangan dan kesimpulan dari Bro Awi, Bro Siutarno, Sis Jenty,
Bro Surya, dan Bro & Sis yang laen tentang “Berdana” dalam kegiatan
Buddhis J adem dan nyaman kan kalau kita saling menghargai pendapat masing2
hehehe, kan pendapat boleh berbeda J Nah, sekarang giliran saya punya
pertanyaan nich J yang mudah2an sih Bro/Sis Memandang Laut mau share lagi
pandangannya. “Bisa gak sich sekali-kali mandiri, gue sampe
malu deh dikatain ama Bisa kasih saran gak yang dimaksud “mandiri”
di sini itu seperti apa? Atau bentuk kegiatannya seperti apa supaya jadi “mandiri”
ini. Ini mungkin bisa jadi masukan buat kita semua, terutama organisatoris
Buddhis, supaya bisa lebih maju dalam kegiatan2 sosialnya. Ditunggu lho saran n
penjelasannya J Thanks yach! Mettacittena, Luis Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links
|
RE: [Dharmajala] YOU MUST BE SMART DON'T BE STUPIDTelesinema Budd his Pertama "Mutiara Jingga"
Luis Tirtasanjaya LIOE (CRPP) Wed, 11 May 2005 20:45:43 -0700
- RE: [Dharmajala] YOU MUST BE SMART DON'T BE ... Luis Tirtasanjaya LIOE (CRPP)
- [Dharmajala] Re: YOU MUST BE SMART DON'... bodhimanggala
- RE: [Dharmajala] YOU MUST BE SMART DON'... Kresno
- RE: [Dharmajala] YOU MUST BE SMART DON'... Suherman Lim
- RE: [Dharmajala] YOU MUST BE SMART DON'... Januar Kwan
