=Memaafkan=

 

Mengingatkan teman�yang kita anggap keliru, salah--, adalah baik. Tapi untuk menghukum orang lain, itu bukanlah hak kita. Karena, tidak ada yang mengangkat atau melantik siapapun untuk menjadi wakil �Tuhan� ataupun wakil dari Hukum Karma.

 

Adil dan benar menurut pandangan kita, belum tentu adil dan benar bagi orang lain. Kita mesti lebih berhati-hati dan bisa memilah-milah antara tujuan menegakkan keadilan, memaksakan pendapat sendiri ataupun sekedar melampiaskan emosi dan kebencian kita belaka.

 

Kita boleh dan PATUT mengingatkan teman kita [dengan pikiran, ucapan dan tindakan yang dilandasi Metta, Cinta Kasih] yang disertai dengan argumentasi bahwa pendapat, ucapan atau sikapnya kurang baik. tapi jangan meminta atau mengharap apalagi menuntut orang lain berubah, kalau diri sendiri tidak mau kecewa, sakit hati, jengkel, marah, timbul konflik, dlsb.

 

Karena, untuk merubah sifat buruk diri sendiri saja sangat susah sekali, bagaimana mungkin kita memaksa agar orang lain berubah? Untuk berubah butuh proses dan latihan diri yang sungguh tidak mudah. Jadi, tugas kita: �Mengingatkan teman, dengan disertai ARGUMENTASI bahwa itu keliru, salah.� Cukup. Jangan terpancing, untuk menghukum teman sendiri atau siapapun. Lebih baik lagi kalau kita bisa membantu memaksimalkan kemampuannya, sehingga teman kita bisa bekerja lebih sempurna.

 

Vihara adalah tempat buat kita BELAJAR � BERLATIH dan BERBAGI Ajaran Sang Buddha. CARA Memperbaiki diri. So, berarti Vihara lebih dibutuhkan oleh mereka yang masih belum sempurna. Mereka yang sudah baik dan sempurna tentu tidak butuh Vihara sebagai tempat untuk BELAJAR � BERLATIH dan BERBAGI. Dan, teman sevihara kita adalah TEMAN SEPERJUANGAN dalam meningkatkan kualitas diri kita. Jadi, mestinya kita saling mendukung, bukan saling menyalahkan. Apalagi saling menghukum. Baik hukuman lewat kata-kata, sikap apalagi fisik.

 

Kita mungkin tidak senang, tidak nyaman atau merasa terganggu dengan kekurangan, atau cara kerja salah satu teman kita, tapi apakah ucapan dan sikap kita sudah demikian sempurna sehingga tidak mengganggu teman lain, juga? Ini perlu kita renungkan.

 

Kalau kita masih belum sempurna, maka adalah hal yang wajar kalau pendapat, ucapan dan sikap serta tindakan kita menjadi tidak sempurna, menjengkelkan, mengganggu teman yang lain.

 

Kita bukan tenaga professional, jadi wajar kalau hasil pekerjaan kita-kita mungkin kurang sempurna.

 

Tentunya tidak bijaksana, dan menyakiti diri sendiri saja, membuat diri sendiri stress, kalau kita menuntut agar orang yang tidak sempurna agar mampu berpikir, berkata dan berbuat serta bekerja dengan sempurna.

 

Lalu sikap apa yang mesti kita ambil untuk teman kita yang telah membuat kita tidak nyaman?

 

Mengampuni orang lain adalah perbuatan baik yang terbesar yang dapat kita lakukan - bagi diri kita sendiri. Dengan memaafkan, maka konflik, emosi, kebencian yang ada pada kita akan reda lebih cepat.

 

Memang tidak mudah memaafkan mereka yang sudah kita ANGGAP mengganggu atau menyakiti kita. Namun sudut pandang berikut semoga bisa membantu.

 

Kalau kita bisa memahami diri sendiri,  kita akan mampu memaafkan diri kita sendiri. Dengan memahami diri sendiri maka kita juga akan mampu memahami dan memaafkan orang lain dengan mudah dan ikhlas.

 

Pertama. Tahu diri sendiri punya kelemahan, ketidakmampuan agar selalu berpikir, berbicara, bertindak dengan sempurna. Kita sadari, bahwa apa yang menjadi kelemahan kita, tidak mudah kita perbaiki. Masing2 orang punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Tidak bijaksana kalau kita lebih di bagian "AAA�, lemah dibagian "BBB", lalu kita menuntut agar orang lain juga, lebih di bagian "AAA", lemah di bagian "BBB".

 

Kedua, sikon, pengalaman, pendidikan kita berbeda-beda. Kita mungkin lebih baik di bagian "WWW", karena sikon dan kesempatan kita mendukung, tapi orang lain yang tidak berkesempatan sama, bagaimana kita menuntut agar orang lain harus baik di bagian "WWW", juga?

 

Ketiga, kemampuan, bakat, kecerdasan EQ, IQ, SQ, dlsb. kita berbeda-beda. Jadi, janganlah menuntut orang lain yang memang kemampuan, bakat dan kecerdasannya kurang.

 

Dengan memahami sudut pandang di atas,  maka kita akan lebih mudah memahami kesalahan, kebodohan bathin, kekeliruan, keserakahan, kebencian yang ada pada diri kita sendiri. Dan bisa memaafkan diri sendiri. Lebih jauh, kitapun akan bisa memahami kekurangan orang lain dan memafkannya. Lebih lanjut, alih-alih ingin menghukum kesalahan orang lain, kita justru kasihan atas kebelum mampuan orang lain berbuat baik.

 

Lebih jauh, bathin kita bebas dari emosi, stress, konflik, sehingga kita  menjadi lebih tenang dan lebih damai. Bahagia, harapan kita semua.

 

Sesungguhnya, bukan hanya orang lain yang perlu dan patut dimaafkan, diri sendiripun patut kita maafkan. Bhante Thita pernah berceramah,�Lewat Vipassana, kita bisa menjadi orang yang toleran, semuanya hanyalah wajar, sehingga segala bentuk penyesalan atas karma lampau adalah sesuatu yang tidak perlu�.

 

Namun perlu diingatkan, dengan sesama kita bisa saling memaafkan, kita bisa memaafkan diri sendiri, tapi hukum karma, hukum menabur dan menuai, tetap berjalan tanpa kompromi. Ini menuntut kita untuk berusaha menjadi lebih baik. Baik pikiran, ucapan dan perbuatan kita.

 

Bersatu kita teguh

Bercerai kita runtuh

 

Confucius : 'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'.

 

"Ketika orang gila menyerang orang yang waras, maka orang yang waras itu tidak boleh berbalik menyakitinya. Ia seharusnya berseru, 'Sungguh kasihan'. Setiap orang yang menyakitimu itu juga tidak waras, dikuasai oleh kekuatan nafsu-nafsu yang menjerat. Karena itu berpikirlah, 'Sungguh kasihan�'�

 

a h ] g b



Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

<<clip_image001.gif>>

Kirim email ke