Sekuntum teratai buat Anda, para calon Buddha,

Sepertinya, cuaca cerah, nggak ada mendung nggak ada geledek, tapi hujan
sering turun membasahi Theravadin.  Kaisar Hujan, kurang kerjaan barangkali.
Ga ada musuh, adik sendiri jadi bulan-bulanan dan dikeroyok ....he he he

Walau Theravadin ngaku moerni, tapi kan ajarannya Hina(yana), ngurusin
pencerahan diri sendiri, nggak mikiran orang lain. Buktinya bisa kita lihat
di Saddharmapundarika Sutra, lho! Jadi Mahayanin bukan asal omong doang.

Dan--konon--Hinayana  paling pol cuman mampu menghantar ke 1.
"Arahatship"(Lihat 'REFERENSI' sesepuh Vajrayana di bawah).  Dimana menurut
Romo AD, diantara 3 yana itu, Vajra lah yang PALING CEPAT ke Nirvana.

Saran saya, no problem membahas klaim KEMOERNIAN satu kelompok, tapi ingat
juga dong klaim MAHA-HINA nya, Klaim MAHA TERCEPAT-nya.
Apa KLAIM-KLAIM itu tak perlu dibahas dan dipermasalahkan? Cukup hanya
membahas KLAIM KEMOERNIAN doang?


Dan coba renungkan,
apa yang di sekte Buddhis lain adalah MUSUH atau SAUDARA SEPERJUANGAN dalam
mencapai Nirvana?

Lebih jauh apa UMAT LAIN adalah MUSUH atau SAUDARA SEPERJUANGAN dalam
MENGIKIS EGO?

Kalau MEREKA adalah SAUDARA SEPERJUANGAN, bagaimana sikap kita pada Saudara
sendiri? Ngga urusan, yang penting emosi terlampiaskan?

Apa kita punya kemampuan MENYADARKAN 'kekeliruan' mereka atau CUMAN bisa
menghukum, mengadili mereka saja?

Itu TANTANGANNYA. he he he

Salam metta
Wijaya


----- Original Message -----
From: "flyaway_withlove" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, May 13, 2005 6:02 PM
Subject: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis?


> --- In [email protected], "Huangdi_98" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > Mbok ya THERAVADIN nyang ngerasa MURNI mestinye BOEKA KACAMATA KUDA
> > jgn tereak2 MURNI TERCEMAR WAE
> > Liat bae2 INTI AJARAN PARA BUDDHA jgn kejebak ame paradigma MURNI
> > TERCEMAR.
>
> Saudara Huangdi... ini adalah tambahan informasi yang menarik. Cuma
> saya tidak tahu kenapa Saudara Huangdi mengkritik aliran Theravada di
> thread "berdoa secara buddhis". Kalau Saudara Huang Di mengkritik
> Theravada dengan tujuan memberi informasi, itu baik adanya. Tapi jika
> Saudara Huang Di mengkritk aliran Theravada karena posting saya yang
> mungkin menunjukkan "kesombongan Theravada", maka pertimbangkan hal ini:

[delete by wijaya]
=======================================


At 05:03 PM 4/12/2004 +0700, "ad2000" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   ----- Original Message -----
>   From: Hudoyo Hupudio
>
>
>>   Apakah kedua jalan itu pada hakikatnya berbeda? Apakah arahatship dan
>>   buddhahood pada hakikatnya berbeda? Apakah Theravada, Mahayana dan
>>   Vajrayana pada hakikatnya berbeda? Mengapa masih ada sikap
>> membeda-bedakan?
>
>   AD reply :
>   ya. berbeda sekali. coba lihat "Yoga tie  Che Luen" dalam bahasa
> Mandarin Kuno, sejenis Visuddhi Magga Mahayana by Maitreya( yang mengupas
> berbagai cara meditasi Sravaka, pacceka, Bodhisattva, 6 jenis Buddha,
> tingkatan pencerahan, berbagai jenis Nirbana ) .
>
>   Tips. Dalam vipasana pali/Satipathana....cuma perlu "tingkat cuek"
> terhadap panca skanda (5 akar), batin hanya sekedarnya diolah ? ....dan
> sudah lulus untuk mencapai kesadaran Benar(arahatship). mohon koreksi
> Romo Hudoyo.
>
>   Dalam Chan (teknik Kuan Sin) harus lebih mendalam lagi, seseorang harus
> memasuki Jhana/samadhi untuk mengamati timbul tenggelamnya pikiran,
> dan..........aha.......itulah Buddhahood.
>
>   dalam Dzogchen, "memperpanjang "interval" antara pikiran
> timbul-tenggelam, dimana bisa mengenali Great Light atau rigpa kalau
> sudah......dan mengenali the mature of Mind, juga belum menjadi Buddha,
> baru mirip Buddha.
>   Beberapa kitab Sutra Mahayana (Suranggama, Ta Tu Che Luen dll)
> menjelaskankannya, Kaum Tien Tai bahkan membuatkan tabel peta kilesa dan
> tingkat pencerahan,  dimana juga menjelaskan perbedaan antara tingkat
> Arahat dan Kilesa yang telah dibebaskan, begitu juga Bodhisattva tingkat
> 1 - 10 dan ciri2 Kilesa yang telah dibebaskan, juga terdapat 6 jenis
> Buddha(Tien tai).
>
>   mohon dimaafkan, forum Mubi bukan forum yang pas untuk menjelaskan
> secara panjang lebar untuk itu, disamping itu aku juga baru belajar dari
> satelite TV mengenai itu. maka topik itu tidak perlu didiskusikan di
> forum Mubi, karena kuatir meledak polemik tidak produktif antara
> Theravada vs Mahayana vs Vajrayana.
>
>   Perbedaan terletak kepada jumlah Kilesa yang ditaklukannya tidak sama,
> kalau tidak salah ingat : (mohon dikoreksi)
>   1. Arahatship telah menaklukan 41 Kilesa Moha (mohon koreksi ),
> Pencerahannya Pien Chen Niban (Mirip Nirwana), Aku telah kosong, tetapi
> kemelekatan terhadap Buddha dharma masih ada, masih timbul pikiran
> impure. Kesadaran yang dicapai  Chen Chie atau Pandangan Terang.
>   2. Bodhisattva tingkat 1 - 10 telah menaklukan 80 an Kilesa,
> Pencerahannya Ju Ie Niban(Nirwana belum lengkap), aku telah kosong,
> Buddha dharma juga sudah kosong, masih timbul pikiran impure. Kesadaran
> yang dicapai : Chen Ten Chen cie (Sama Sambodhi).
>   3. 6 jenis Kebuddhaan menurut Tien tai, dimana Tibetan Buddha masih
> dikatagorikan sebagai "mirip buddha' = Samathabadra, dll. kilesa yang
> harus ditaklukan sebanyak 91 jenis.(Anutara Samyak Sambodhi)
>
>   Bapak Romo Hudoyo adalah praktisi Vipasana Pali Senior, kalau ada jodoh
> dan dapat menemukan terjemahan text meditasi Mahayana "Kuan Sin" dari
> aliran Chan atau Dzogchen dari Vajrayana, selamat untuk menjadi
> Bodhisattva dan Buddha dalam kehidupan ini juga.
>
>
>   Amitoufu
============================
HUDOYO:

Terima kasih banyak, atas uraian Romo yang panjang lebar. Sudah saya duga
semula, "perbedaan" yang Romo tampilkan itu ternyata berasal dari
kitab-kitab suci Buddhis (Theravada, Mahayana, Vajrayana) yang Romo
sandingkan dan banding-bandingkan satu sama lain. Dan ternyata dalam
membanding-bandingkan itu, Romo menggunakan kacamata (paradigma) Vajrayana
(Sravaka -> Bodhisattva -> Buddha), sehingga tampak seolah-olah jalan
Theravada "kurang lengkap", dan jalan Mahayana atau Vajrayana "lebih
lengkap".

Izinkanlah saya melakukan "pembelaan" terhadap paradigma Theravada:

Mungkin perlu Romo AD sadari, bahwa sekalipun sama-sama sekte Agama Buddha,
paradigma Vajrayana/Mahayana berbeda dengan paradigma Theravada, karena
dalam paradigma Theravada tidak ada pembebasan yang bertingkat-tingkat,
tidak ada nirwana yang bertingkat-tingkat. Paradigma Theravada terungkap
secara ringkas dalam kata-kata para Arahat sebagai berikut:

(1) "Khinajaati, vusitam brahmacariyam, katam karaniyam, na param
itthataya'ti." ("Berakhirlah sudah roda kelahiran ini, sempurna sudah
kehidupan suci, selesai sudah segala yang perlu dilakukan, tak ada lagi
yang masih harus dilakukan.")

(2) "Untuk selamanya aku terbebaskan. Inilah kelahiranku yang terakhir;
tiada kehidupan/eksistensi baru menungguku." (Majjhima Nikaya, 26)

(3) "Inilah sesungguhnya kearifan (pa~n~naa) yang tertinggi, tersuci:
mengetahui bahwa semua dukkha telah berakhir. Inilah sesungguhnya kedamaian
yang tertinggi, tersuci: mengetahui bahwa loba, dosa dan moha [semua
kilesa/hudoyo] telah berakhir." (Majjhima Nikaya, 140)

Menurut paradigma Theravada, PEMBEBASAN seorang arahat dan seorang Buddha
adalah SAMA; kedua-duanya tidak akan terlahir kembali, tidak eksis lagi.
(Yang berbeda hanyalah sejumlah kemampuan selagi masih hidup, termasuk
kemampuan untuk mengajar.) Buddha disebut juga "arahato".

Jadi, menurut paradigma Theravada, seorang Arahat sudah sempurna
PEMBEBASANNYA; tidak perlu lagi ia melakukan sesuatu untuk mencapai
"tingkat-tingkat pembebasan yang lebih tinggi" sebagaimana digambarkan oleh
Romo AD menurut paradigma Mahayana/Vajrayana.

KESIMPULAN:
(1) Paradigma Theravada tentang pembebasan sangat sederhana (tapi betapa
sukar mencapainya); sedangkan paradigma Mahayana/Vajrayana tentang
pembebasan sangat rumit.

(2) Berhati-hatilah dalam membanding-bandingkan ajaran berbagai sekte
Buddhis; sebaiknya nyatakan dulu paradigma mana yang digunakan dalam
membanding-bandingkan, agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran dalam diskusi.

(Kepada para pembaca, harap berhati-hati juga dalam membanding-bandingkan
agama-agama yang berbeda, seperti agama Buddha dan agama Kristen, karena
paradigma Buddhis jauh berbeda dengan paradigma Kristen. Kalau
dicampuradukkan, tidak akan memberikan pencerahan apa-apa terhadap ajaran
masing-masing agama itu; yang terjadi hanyalah kesimpangsiuran dan
kesalahpahaman, entah disengaja entah tidak, seperti saya lihat dalam
beberapa thread akhir-akhir ini di milis Mubi.)

*****
Itu tadi "pembelaan" saya terhadap paradigma Theravada, mengimbangi
paradigma Vajrayana/Mahayana yang ditampilkan oleh Romo AD.

Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, bagaimana dengan sudut pandang
saya sendiri?

Di sini perlu saya tegaskan, bahwa Romo AD keliru ketika memberi label
"praktisi Vipassana Pali" kepada saya. Kenapa? Oleh karena dalam mengajar
vipassana-bhavana saya tidak menggunakan kitab suci Pali (Theravada), atau
kitab suci lain, atau kitab apa pun juga. Bagi saya, semua yang tercantum
dalam buku apa pun tidak lain adalah bentuk-bentuk pikiran, konsep-konsep
dan teori-teori, dan dalam praktek vipassana-bhavana HARUS DISADARI SEBAGAI
BENTUK PIKIRAN (yang tidak kekal).

Oleh karena itu, selalu pesan pertama saya kepada para peserta pelatihan
Meditasi Mengenal Diri (MMD) yang saya bimbing adalah agar mereka
"mengesampingkan dan tidak mengingat-ingat kitab [suci] apa pun selama
berlatih, karena kitab, ajaran, kepercayaan apa pun akan menjadi penghalang
yang amat halus tapi kuat apabila tidak disadari sebagai bentuk pikiran
yang tidak kekal."


[..dibusek/wijaya]

Salam,
Hudoyo










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke