--- In [email protected], Rinto Jiang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yah, cukup bagi saya kalau anda sudah mengakui "ada" yang melenceng
dari
> pemahaman anda. Saya juga gak bilang saya yang paling benar, saya kan
> cuma menyampaikan satu kenyataan yang saya temui dalam kehidupan
sehari2
> setelah bertukar pikiran dengan banyak orang.
>
> Namun, pengakuan anda itu tidak menutup kasus segelintir umat Theravada
> mengaku mereka sebagai yang paling murni. Terus terang saja muak saya
> mendengar dikotomi murni tak murni ditarik ke sana kemari antar umat
> Buddhis sendiri.
>
> Kritik saya tetap valid karena kenyataan tidak dapat dirubah oleh
> seorang saya atau seorang anda. U got it?
Got it. Maaf, maksud dari kalimat saya pada posting sebelumnya kritik
Anda terhadap theravada itu tidak valid untuk thread ini ( berdoa
secara buddhis ) karena tidak ada tulisan yang menggambarkan klaim
"murni" dari theravada dalam thread berdoa secara buddhis. Mungkin
kalimat itu harus diganti menjadi kritik Anda terhadap theravada tidak
pada tempatnya di thread ini. Tapi kritik itu pun merupakan informasi
yang baik.
Setahu saya ada 2 kalimat saya yang bermasalah:
1. Buddhism yang murni dari Siddharta bla bla bla
Itu terjadi karena kenaifan saya yang lupa pemahaman saya berbeda
dengan orang lain. Buddhism yang murni bagi saya belum tentu murni
bagi orang lain. Kehidupan Siddharta cuma satu. Tapi tafsiran antar
orang bisa berbeda-beda karena orang memilik karakteristik mind,
lingkungan hidup yang berbeda. Saya lupa saya melihat Siddharta juga
lewat kacamata yang pasti beda dengan orang lain.
Jadi kalimat itu seharusnya diganti:
Menurut pemahaman saya yang pasti berbeda dengan orang lain, Siddharta
sendiri bla bla bla bla.
2. Tapi berdoa kepada dewa-dewi bukanlah buddhism....
Selama ini saya mengenal buddhism dari banyak pihak ( bukan cuma dari
theravada ).
Ini adalah cuplikan dari tulisan Anand Krishna dari buku Reinkarnasi:
"Bukankah tadi kau minta pesanku yang terakhir? Dengarkan dengan
baik: JADILAH PELITA BAGI DIRIMU SENDIRI. Jangan bersandar pada siapa
pun. Tidak ada yang dapat membantumu. Kau harus membantu dirimu sendiri."
Itu adalah ucapan Siddharta pada saat2 terakhir hidupNya.
Ini adalah cuplikan dari Krishnamurti dari Meditasi:
Meditasi tak pernah berarti berdoa. Doa dan permohonan lahir dari
rasa iba diri. Anda meminta apabila anda dalam kesulitan. Anda memohon
bila ada kesedihan. Apabila ada kegembiraan dan kebahagiaan tak ada
permohonan.
<snip>
Dari kebingungan dan kepedihan itu orang menangis, mengiba-iba
memohon kepada surga, atau kepada sesuatu dewa buatan akal manusia.
Permohonan ini mungkin akan mendapatkan jawaban tetapi jawaban itu tak
lain adalah gaung dari perasaan iba diri, dalam keterpisahannya.
DAri Lama Surya Das:
Dalam agama-agama ayng bersifat ketuhanan, doa2 dipanjatkan
kepada yang maha kuasa atau kepada kekuatan yang paling tinggi. Di
dalam ajaran Buddha yang non-ketuhanan, ketika kita berdoa, kita tidak
menuntut untuk mendapatkan sesuatu sekuat kita meyakinkan kembali
kehendak kita atau menguatkan janji-janji kita. Bla bla bla.
DAn masih banyak pihak yang mempengaruhi pandangan saya yang akhirnya
menulis seperti itu, yang merasa buddhism mengajarkan kemandirian.
Saya lupa sesaat kebenaran bagi saya belum tentu kebenaran bagi orang
lain. Kacamata saya berbeda dengan orang lain.
Jadi kalimat itu harusnya diubah menjadi:
berdoa kepada dewa-dewi bukanlah praktik dari buddhism yang pas buat
saya ( menurut pemahaman saya yang pasti berbeda dengan orang lain ).
tapi itu adalah praktik buddhism yang pas buat sebagian orang.
Demikian juga dengan praktik yang saya lakukan belum tentu cocok
dengan orang lain. Saya tidak bisa menemukan nilai kemandirian dari
praktik berdoa kepada dewa-dewi tapi itu tidak berarti orang lain
tidak bisa menemukan nilai kemandirian dari praktik berdoa kepada
dewa-dewi. Buddhism memiliki banyak sisi. Saya hanya melihat dari satu
sisi saja.
Jadi menyalahkan theravada karena posting saya itu tidak pada
tempatnya karena banyak pihak yang mempengaruhi saya. Kritik yang adil
adalah:
ditujukan kepada pemahaman pribadi saya.
ditujukan kepada semua pihak yang mempengaruhi saya ( dalai lama, lama
surya das, anand krishna, krishna murti, deepak chopra, eknath
easwaran, theravada dan masih banyak lagi yang lain. )
DAn saya cuma bilang berdoa kepada dewa-dewi yang tidak perlu
diperpanjang menjadi hal-hal lain seperti bakar kertas, amithaba, dan
lain-lain.
semoga ini meluruskan banyak hal.
Terima kasih.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/hjtSRD/3MnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta
sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/