Topik-topik dalam Lamrim
Topik-topik dalam Lamrim terdiri dari 14 topik besar yang disusun 
berdasarkan gerak maju yang logis.-. Urutan topic-topik yang harus 
dipelajari, direnungkan dan dimeditasikan ini disusun sedemikian rupa 
oleh para Guru besar Buddhisme India dan Tibet, dipelopori oleh YM 
Atisha dan diteruskan oleh YM Jey Tsongkhapa, sehingga.dapat membawa 
kemajuan batin bagi mereka yang mempraktikkannya. Setiap meditasi 
hendaknya dilakukan secara berurutan, langkah demi langkah. Namun 
tidak tertutup kemungkinan untuk memeditasikan topic-topik ini secara 
terpisah, bagian-bagian tertentu saja, ataupun berulang-ulang, 
setelah satu rangkaian meditasi dari awal sampai akhir, diulang dari 
awal lagi.

Topik ini dibagi berdasarkan motivasi dari para praktisinya, yaitu 
motivasi awal, motivasi, menengah, motivasi tertinggi.
 
Jalan yang mendasar adalah

1.      Berbakti (bertumpu) kepada Guru. 
Kita telah banyak belajar dari banyak guru di masa lampau, baik guru 
untuk urusan duniawi (guru matematika, guru fisika) maupun hal 
spiritual. Kita belajar dari mereka yang kita hormati dan kita 
junjung tinggi. Hal ini muncul karena kita mengenali dan menyadari 
kualitas agung dari guru-guru tersebut. Namun karena kekotoran batin 
kita, kadang kala kita gagal mengenali kualitas seorang guru. Seorang 
guru yang berkualitas dan cocok bagi kita sangatlah jarang dan 
sungguh berharga. Jika kita cukup beruntung untuk mendapatkannya, 
kita akan dapat belajar dan mendapatkan realisasi dengan cepat jika 
kita mentaati dan melaksanakan instruksi mereka dengan sungguh-
sungguh.

Dalam sutra 'Ornament of Mahayana' disebutkan tentang kriteria 
seorang guru Dharma (baik dalam hal sutra maupun tantra)

"bertumpu kepada seorang sahabat (maksudnya guru) yang mempunyai 
pengendalian diri (terlatih dalam Sila), tenang (telah menghilangkan 
semua gangguan mental melalui meditasi), diam (ini berhubungan dgn 
Panna/prajna alias wisdom). Mempunyai leibh banyak kebajikan, 
energik, terpelajar dalam kitab suci (tipitaka). Telah merealisasikan 
kesunyataan, diberkahi dgn kemampuan mengajar yang baik, mempunyai 
sifat welas asih, dan mengabaikan kelelahan/kelesuan.

2. Kelahiran Sebagai Manusia yang Berharga
Terlahir sebagai manusia adalah sesuatu yang sangat jarang dan sangat 
berharga. Hal tersebut tidak terjadi secara kebetulan belaka. Selain 
itu, tidak semua manusia seberuntung kita, dapat belajar dan praktik 
Dharma. Kita memiliki kesempatan untuk mengikuti jalan spiritual yang 
akan membawa kita menuju pembebasan sejati dan menjadi Buddha. 

Dikatakan dalam Lamrim, terlahir sebagai manusia, kita mempunyai 8 
kebebasan, yang dijelaskan oleh Nagarjuna sebagai berikut:

Menganut pandangan-pandangan yang salah, menjadi seekor binatang,
Setan kelaparan, atau terlahir dineraka, 
Terlahir tanpa ajaran seorang Pemenang (Buddha) 
Terlahir di suatu tempat yang jauh, atau sebagai seorang bar-bar, 
Sebagai seorang idiot atau bisu � sebagai seorang dewa yang berumur 
panjang
Yang manapun dari kelahiran-kelahiran ini adalah satu dari kedelapan 
Keadaan yang cacat dan tidak menguntungkan.
Karena Anda telah memperoleh suatu keadaan yang menguntungkan 
Terbebas dari kelahiran-kelahirang tersebut, berusahalah untuk 
mencegah dirimu 
Dari pernah terlahir lagi dalam keadaan-keadaan tersebut.

Kita juga memiliki 5 anugerah pribadi, yang dikatakan dalam teks 
Tingkatan-tingkatan Shravaka
:
Menjadi seorang manusia dan terlahir di tempat Buddhis;
Mempunyai semua organ tubuh yang lengkap; tidak tersesatkan 
Oleh kejahatan-kejahatan yang sangat keji; dan memiliki keyakinan

Serta 5 anugerah yang berkaitan dengan orang lain.
Seorang Buddha telah datang dan mengajarkan Dharma;
Ajaran-ajaran masih ada dan diikuti;
Dan orang-orang lain secara umum memiliki cinta kasih dalam hati 
mereka.

Jalan yang ditempuh para mahkluk dengan motivasi awal adalah

3.      Kematian dan Ketidakkekalan. (Death and Impermanence)
Kelahiran kita sebagai manusia yang sungguh bermanfaat ini adalah 
tidak kekal (impermanent). Hal ini dapat berakhir setiap saat. 
Memeditasikan hal ini akan mencegah kita menghambur-hamburkan waktu 
untuk menikmati kenikmatan duniawi yang bersifat sementara dalam 
kehidupan ini saja dan sebaliknya menyebabkan kita akan mengabdikan 
waktu kita untuk kepentingan kehidupan mendatang. Kita seharusnya 
memeditasikan tiga aspek tentang kematian, yaitu bahwa kematian itu 
pasti, waktu kematian tidaklah pasti, tidak ada yang dapat membantu 
kita, kecuali Dharma, ketika kita mati. Familiarisasi dengan kematian 
(mengenali dan mempelajari proses kematian) akan menyebabkan kita 
lebih mudah dalam menghadapi kematian.

4.      Penderitaan di Alam-Alam Rendah
Setelah kita meninggal, kita tidak dapat memastikan di mana kita akan 
dilahirkan kembali. Dalam Buddhisme Tibetan dikenal 6 alam samsara, 3 
alam tinggi dan 3 alam rendah. Ketiga alam rendah tersebut adalah 
alam neraka, alam hantu kelaparan, dan alam binatang. Di alam-alam 
tersebut kita akan mengalami penderitaan yang luar biasa, yang 
terberat tentulah penderitaan di alam neraka. Mungkin lebih mudah 
jika kita membayangkan penderitaan terlahir sebagai binatang, namun 
terlahir di neraka, kita akan mengalami penderitaan yang jauh lebih 
besar! Jika kita terlahir di alam-alam tersebut, hampir mustahil bagi 
kita untuk belajar Dharma, apalagi mempraktikkannya! Meditasi ini 
akan menyebabkan kita berusaha menghindari perbuatan-perbuatan buruk 
yang akan menyebabkan kita terlahir di alam-alam rendah ini.

5.      Praktik berlindung kepada Triratna.
Meditasi akan kematian dan alam-alam rendah akan menyebabkan kita 
berpikir lebih lanjut. Bagaimana kita mengatasi penderitaan-
penderitaan tersebut? Sebuah cara yang sangat kuat adalah dengan 
berlindung kepada Triratna. Dalam poin ini, Lamrim menjelaskan 
mengapa Triratna pantas menjadi objek perlindungan bagi kita, juga 
menjelaskan bagaimana cara berlindung yang sesungguhnya (secara aktif 
dan bukan pasif). Dengan bantuan ketiga unsur dalam Triratna inilah, 
kita akan dapat mencapai ke-Buddha-an- sehingga kita tidak akan 
mengalami penderitaan lagi dan sebaliknya dapat menolong makhluk lain 
secara efektif dan efisien.

6.      Hukum Tindakan dan Hasil (Karma)
Untuk mengakhiri penderitaan, kita harus mengerti penyebabnya. Hal 
ini dapat dipahami jika kita mempelajari dan mengerti tentang Hukum 
Sebab Akibat. Karena itu Karma adalah sebuah topik yang sangat 
penting dan menjadi salah satu ciri khas agama Buddha dalam tradisi 
manapun .. Hukum karma hanya dapat dipahami secara menyeluruh oleh 
para Buddha. Namun, setidaknya kita dapat memahami bahwa ada 4 
karateristik hukum karma. Pertama adalah bahwa karma itu pasti 
(akibat dari suatu tindakan sama dengan penyebabnya, jika berbuat 
baik, kita akan memperoleh kebahagiaan, dan sebaliknya). Yang kedua, 
karma itu dapat berlipat ganda-hasilnya lebih besar daripada 
penyebabnya, (seperti bunga bank!). Yang ketiga, kita tidak akan 
mengalami akibat dari suatu perbuatan yang tidak kita lakukan, dengan 
kata lain, akibat tidak akan terjadi tanpa penyebab yang berkaitan. 
Yang keempat adalah kita tidak mungkin terhindari dari akibat dari 
perbuatan yang kita telah lakukan, atau akibat tidak akan hilang 
begitu saja.

Sebuah `karma sederhana' jika tidak merupakan jalan karma yang 
lengkap dapat mempunyai akibat yang lebih kecil dibandingkan dengan 
jalan karma lengkap, yang mempunyai akibat yang lebih serius. Ada 4 
hal yang menyebabkan [karma] menjadi lengkap, yaitu Basis (landasan), 
proses pemikiran, perbuatan itu sendiri, penyelesaiannya.
Juga dikenal ada 10 `perbuatan buruk' dan 10 `perbuatan baik'. 
Kesepuluh hal utama yang dapat menyebabkan kita terlahir di alam-alam 
rendah adalah membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong, berkata-
kata yang dapat memecah belah suatu hubungan, berkata-kata kasar, 
gossip, bersifat serakah, mempunyai keinginan jahat, serta pandangan 
keliru. Kesepuluh perbuatan baik adalah `lawan' dari 10 hal di atas.

Jalan yang dilalui para makhluk dengan motivasi menengah.

7.      Penderitaan Alam-alam tinggi
Pada poin ini, Lamrim akan menyadarkan kita bahwa tidak saja di alam-
alam rendah saja kita akan mengalami penderitaan. Sesungguhnya di 
alam-alam tinggi pun kita akan mengalami penderitaan. Kita tentu 
akrab dengan penderitaan di alam manusia. Di setiap alam tinggi pun 
(alam dewa, alam setengah dewa, dan alam manusia), terdapat berbagai 
penderitaan, sesuai dengan alam yang bersangkutan. Dengan 
memeditasikan penderitaan di alam tinggi ini, kita dapat 
membangkitkan suatu penolakan terhadap samsara secara keseluruhan 
atau renunsiasi (renunciation)-kita tidak akan mencari kebahagian 
semu di alam samsara, sebab semua itu tidaklah kekal

8. Proses Samsara dan Pembebasan.
Bagaimana proses Samsara ini berlangsung secara terus menerus? Ada 12 
mata rantai di dalam satu siklus kehidupan: ketidaktahuan, faktor-
faktor pembentuk, kesadaran, nama dan rupa, enam indriya, kontak, 
perasaan, kemelekatan, keserakahan, eksistensi, kelahiran kembali, 
penuaan, dan kematian. Hubungan di antara elemen-elemen ini rumit 
tetapi hubungan tersebut harus dipatahkan untuk mencapai pembebasan. 
Secara khusus, kita harus mengatasi ketidaktahuan/kebodohan kita 
akan `diri'. Kita harus mengatasi kemelekatan ketika mereka timbul 
sebelum kemelekatan tersebut menjadi bertambah kuat.

9. Pengembangan Bodhicitta
Semua umat Budddha berusaha untuk menghindari menyakiti makhluk lain 
dan memiliki welas asih terutama kepada mereka yang menderita. 
Praktisi Mahayana mengambil tanggung jawab untuk membebaskan semua 
makhluk dari penderitaan. Kaum Mahayanis berusaha mencapai pemcerahan 
karena hal tersebut merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai 
tujuan tersebut. Inilah motivasi Bodhicitta, yaitu berusaha mencapai 
pencerahan yang lengkap dan sempurna demi menolong semua makhluk 
mengatasi penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan.sejati. bodhicitta 
adalah gabungan yang sempurna dari welas asih dan kebijksanaan. Ada 
banyak metode untuk membangkitkan bodhicitta, seperti Latihan Batin 
Tujuh Poin dan Menukar diri dengan Makhluk Lain.

10. Enam Paramita. 
Kita perlu menumbuhkembangkan keenam paramita dalam diri kita, yaitu 
Kemurah-hatian, sila, kesabaran, usaha yang bersemangat, konsentrasi, 
dan kebijaksanaan. Inilah poin-poin utama yang harus dimiliki oleh 
seorang bodhisattva dalam usahanya mencapai ke-Buddha-an.

11. Empat cara untuk `menarik perhatian'
Empat hal ini berhubungan dengan enam paramita dan biasanya dianggap 
sebagai sifat dari seorang guru yang baik, yaitu bersifat murah hati 
(misalnya memberikan barang-barang yang dibutuhkan), berkata-kata 
yang menyenangkan/sopan (juga memberi semangat), mengajar sang jalan, 
dan memberikan contoh yang baik (melaksanakan sendiri apa yang 
diajarkan). Hal-hal ini merupakan basis untuk membawakan Dharma 
kepada orang lain dan merupakan pelengkap dari enam paramita dalam 
poin sebelumnya

12.Meditasi ketenangan (Samatha)
Batin kita biasanya penuh dengan pikiran-pikiran yang liar yang 
menghalangi persepsi kita akan hal-hal yang sebenarnya terjadi. Kita 
berusaha untuk mendapatkan batin yang tenang melalui berbagai tahapan 
di antaranya: memfokuskan batin pada suatu objek, mendisplinkan 
batin, menjadi damai dan tentram/tenang, dan akhirnya mencapai 
konsentrasi satu titik dan absorpsi. Dua halangan utama yang harus 
diatasi adalah kemalasan dan `kegiuran' mental

13. Meditasi Pandangan Mendalam (Vippasyana)
Dengan batin yang jernih, terbebas dari pola-pola pikiran 
yang `palsu', kita dapat membangun pandangan yang mendalam. Kita 
memeditasikan tentang sifat dari `diri' dan memastika ketidak-
eksistensi-an nya sebagai sebuah entitas yang independent. Kita 
memeditasikan tentang kesunyataan dari fenomena-bahwa tidak ada 
sesuatu esistensi yang berdiri sendiri, yang murni, independent. 
Realisasi atas kesunyataan ini adalah penawar (antidote) bagi semua 
kekotoran batin kita


14. Kendaraan Kilat (Vajrayana)
Poin terakhir dalam Lamrim ini berkaitan dengan ajaran Tantra. 
Praktik ini adalah praktik khusus dan special di mana sebelum 
mempraktikkan, kita membutuhkan inisiasi dan juga harus mendapatkan 
bimbingan dari seorang guru yang kompeten ketika kita 
mempraktikkannya.

Daftar Pustaka:
1.      Liberation In Our Hands � Part I : The Pleminaries. Pabongka 
Rinpoche. A series of oral discourses by Pabongka Rinpoche Jampa 
Tenzin Trinley Gyatso. Transcribed and edited by Yongzin Trijang 
Rinpoche Losang Yeshe Tenzin Gyatso. Translated by Sera Mey Geshe 
Lobsang Tharchin with Artemus B. Engle. Mahayana Sutra and Tantra 
Press; 1994
2.      Liberation in Our Hands. Commentary by Venerable Dagpo 
Rinpoche at Mon Dore-France August 2000. Revised edition, August 2003.
3.      Liberation in the Palm of Your Hand: A Concise Discourse on 
the Path to Enlightenment. by Pha-Bon-Kha-Pa Byams-Pa-Bstan-Dzin-
Phrin-Las-Rgya-Mtsho (Pabongka Rinpoche), Trijang Rinpoche (Editor), 
Michael Richards (Translator). Wisdom Publications. 1993
4.       The basics of Buddhism. An Introduction to the Lam Rim, Lam 
Rim Buddhist Centre South Africa

By Losang Nyima Surya Wijaya, Singapore, May 2004
copyright @kadamchoelingbandung
Jika ingin mengutip artikel di atas, cantumkan sumber yg jelas





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke