Saya melihat sebuah fenomena yagn lucu pad umat Buddha
di Indonesia (terutama yagn banyak belajar dan yang
banyak baca). Umat Buddha mengklaim bahwa agama Buddha
adalah agama yang toleran terhadap agama yang lain dan
disuguhkan banyak bukti yang mendukung pernyataan
tersebut.

Memang benar umat Buddha toleran terhadap umat yang
lain, tapi ternyata tidak toleran dengan sesama umat
Buddha yang lain aliran. Hali ini terungkap oleh
ramainya perdebatan tentang agama Buddha yang murni
dan saling menjelekkan antar sekte.

Apa ini yang disebut sebagai umat yang toleran ?

Yang lebih lucunya lagi, mereka yang memperdebatkan
sebagian besar adaalh Umat Buddha yang terpelajar,
banyak membaca, banyak berdiskusi. Sedangkan pada umat
awam yang biasa2 saja, mereka tidak terlalau
mempersoalkan mana yang murni. Bagi mereka yang
penting mereka meada cocok. Dan saya pikir mereka leih
bijaksana & toleran daripada yagn sering baca buka
(notabene lebih banayak pengetahuannya)
--- Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Sekuntum teratai buat Anda, para calon Buddha,
> 
> 
> Sepertinya, cuaca cerah, nggak ada mendung nggak ada
> geledek, tapi hujan
> sering turun membasahi Theravadin.  Kaisar Hujan,
> kurang kerjaan barangkali.
> Ga ada musuh, adik sendiri jadi bulan-bulanan dan
> dikeroyok ....he he he
> 
> Walau Theravadin ngaku moerni, tapi kan ajarannya
> Hina(yana), ngurusin
> pencerahan diri sendiri, nggak mikiran orang lain.
> Buktinya bisa kita lihat
> di Saddharmapundarika Sutra, lho! Jadi Mahayanin
> bukan asal omong doang.
> 
> Dan--konon--Hinayana  paling pol cuman mampu
> menghantar ke 1.
> "Arahatship"(Lihat 'REFERENSI' sesepuh Vajrayana di
> bawah).  Dimana menurut
> Romo AD, diantara 3 yana itu, Vajra lah yang PALING
> CEPAT ke Nirvana.
> 
> Saran saya, no problem membahas klaim KEMOERNIAN
> satu kelompok, tapi ingat
> juga dong klaim MAHA-HINA nya, Klaim MAHA
> TERCEPAT-nya.
> Apa KLAIM-KLAIM itu tak perlu dibahas dan
> dipermasalahkan? Cukup hanya
> membahas KLAIM KEMOERNIAN doang?
> 
> 
> Dan coba renungkan,
> apa yang di sekte Buddhis lain adalah MUSUH atau
> SAUDARA SEPERJUANGAN dalam
> mencapai Nirvana?
> 
> Lebih jauh apa UMAT LAIN adalah MUSUH atau SAUDARA
> SEPERJUANGAN dalam
> MENGIKIS EGO?
> 
> Kalau MEREKA adalah SAUDARA SEPERJUANGAN, bagaimana
> sikap kita pada Saudara
> sendiri? Ngga urusan, yang penting emosi
> terlampiaskan?
> 
> Apa kita punya kemampuan MENYADARKAN 'kekeliruan'
> mereka atau CUMAN bisa
> menghukum, mengadili mereka saja?
> 
> Itu TANTANGANNYA. he he he
> 
> Salam metta
> Wijaya
> 
> 
> ----- Original Message -----
> From: "flyaway_withlove"
> <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Friday, May 13, 2005 6:02 PM
> Subject: [Dharmajala] Re: berdoa secara buddhis?
> 
> 
> > --- In [email protected], "Huangdi_98"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >
> > > Mbok ya THERAVADIN nyang ngerasa MURNI mestinye
> BOEKA KACAMATA KUDA
> > > jgn tereak2 MURNI TERCEMAR WAE
> > > Liat bae2 INTI AJARAN PARA BUDDHA jgn kejebak
> ame paradigma MURNI
> > > TERCEMAR.
> >
> > Saudara Huangdi... ini adalah tambahan informasi
> yang menarik. Cuma
> > saya tidak tahu kenapa Saudara Huangdi mengkritik
> aliran Theravada di
> > thread "berdoa secara buddhis". Kalau Saudara
> Huang Di mengkritik
> > Theravada dengan tujuan memberi informasi, itu
> baik adanya. Tapi jika
> > Saudara Huang Di mengkritk aliran Theravada karena
> posting saya yang
> > mungkin menunjukkan "kesombongan Theravada", maka
> pertimbangkan hal ini:
> 
> [delete by wijaya]
> =======================================
> 
> 
> At 05:03 PM 4/12/2004 +0700, "ad2000"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> >   ----- Original Message -----
> >   From: Hudoyo Hupudio
> >
> >
> >>   Apakah kedua jalan itu pada hakikatnya berbeda?
> Apakah arahatship dan
> >>   buddhahood pada hakikatnya berbeda? Apakah
> Theravada, Mahayana dan
> >>   Vajrayana pada hakikatnya berbeda? Mengapa
> masih ada sikap
> >> membeda-bedakan?
> >
> >   AD reply :
> >   ya. berbeda sekali. coba lihat "Yoga tie  Che
> Luen" dalam bahasa
> > Mandarin Kuno, sejenis Visuddhi Magga Mahayana by
> Maitreya( yang mengupas
> > berbagai cara meditasi Sravaka, pacceka,
> Bodhisattva, 6 jenis Buddha,
> > tingkatan pencerahan, berbagai jenis Nirbana ) .
> >
> >   Tips. Dalam vipasana pali/Satipathana....cuma
> perlu "tingkat cuek"
> > terhadap panca skanda (5 akar), batin hanya
> sekedarnya diolah ? ....dan
> > sudah lulus untuk mencapai kesadaran
> Benar(arahatship). mohon koreksi
> > Romo Hudoyo.
> >
> >   Dalam Chan (teknik Kuan Sin) harus lebih
> mendalam lagi, seseorang harus
> > memasuki Jhana/samadhi untuk mengamati timbul
> tenggelamnya pikiran,
> > dan..........aha.......itulah Buddhahood.
> >
> >   dalam Dzogchen, "memperpanjang "interval" antara
> pikiran
> > timbul-tenggelam, dimana bisa mengenali Great
> Light atau rigpa kalau
> > sudah......dan mengenali the mature of Mind, juga
> belum menjadi Buddha,
> > baru mirip Buddha.
> >   Beberapa kitab Sutra Mahayana (Suranggama, Ta Tu
> Che Luen dll)
> > menjelaskankannya, Kaum Tien Tai bahkan membuatkan
> tabel peta kilesa dan
> > tingkat pencerahan,  dimana juga menjelaskan
> perbedaan antara tingkat
> > Arahat dan Kilesa yang telah dibebaskan, begitu
> juga Bodhisattva tingkat
> > 1 - 10 dan ciri2 Kilesa yang telah dibebaskan,
> juga terdapat 6 jenis
> > Buddha(Tien tai).
> >
> >   mohon dimaafkan, forum Mubi bukan forum yang pas
> untuk menjelaskan
> > secara panjang lebar untuk itu, disamping itu aku
> juga baru belajar dari
> > satelite TV mengenai itu. maka topik itu tidak
> perlu didiskusikan di
> > forum Mubi, karena kuatir meledak polemik tidak
> produktif antara
> > Theravada vs Mahayana vs Vajrayana.
> >
> >   Perbedaan terletak kepada jumlah Kilesa yang
> ditaklukannya tidak sama,
> > kalau tidak salah ingat : (mohon dikoreksi)
> >   1. Arahatship telah menaklukan 41 Kilesa Moha
> (mohon koreksi ),
> > Pencerahannya Pien Chen Niban (Mirip Nirwana), Aku
> telah kosong, tetapi
> > kemelekatan terhadap Buddha dharma masih ada,
> masih timbul pikiran
> > impure. Kesadaran yang dicapai  Chen Chie atau
> Pandangan Terang.
> >   2. Bodhisattva tingkat 1 - 10 telah menaklukan
> 80 an Kilesa,
> > Pencerahannya Ju Ie Niban(Nirwana belum lengkap),
> aku telah kosong,
> > Buddha dharma juga sudah kosong, masih timbul
> pikiran impure. Kesadaran
> > yang dicapai : Chen Ten Chen cie (Sama Sambodhi).
> >   3. 6 jenis Kebuddhaan menurut Tien tai, dimana
> Tibetan Buddha masih
> > dikatagorikan sebagai "mirip buddha' =
> Samathabadra, dll. kilesa yang
> > harus ditaklukan sebanyak 91 jenis.(Anutara Samyak
> Sambodhi)
> >
> >   Bapak Romo Hudoyo adalah praktisi Vipasana Pali
> Senior, kalau ada jodoh
> > dan dapat menemukan terjemahan text meditasi
> Mahayana "Kuan Sin" dari
> > aliran Chan atau Dzogchen dari Vajrayana, selamat
> untuk menjadi
> > Bodhisattva dan Buddha dalam kehidupan ini juga.
> >
> >
> >   Amitoufu
> ============================
> HUDOYO:
> 
> Terima kasih banyak, atas uraian Romo yang panjang
> lebar. Sudah saya duga
> semula, "perbedaan" yang Romo tampilkan itu ternyata
> berasal dari
> kitab-kitab suci Buddhis (Theravada, Mahayana,
> Vajrayana) yang Romo
> sandingkan dan banding-bandingkan satu sama lain.
> Dan ternyata dalam
> membanding-bandingkan itu, Romo menggunakan kacamata
> (paradigma) Vajrayana
> (Sravaka -> Bodhisattva -> Buddha), sehingga tampak
> seolah-olah jalan
> Theravada "kurang lengkap", dan jalan Mahayana atau
> Vajrayana "lebih
> lengkap".
> 
> Izinkanlah saya melakukan "pembelaan" terhadap
> paradigma Theravada:
> 
> Mungkin perlu Romo AD sadari, bahwa sekalipun
> sama-sama sekte Agama Buddha,
> paradigma Vajrayana/Mahayana berbeda dengan
> paradigma Theravada, karena
> dalam paradigma Theravada tidak ada pembebasan yang
> bertingkat-tingkat,
> tidak ada nirwana yang bertingkat-tingkat. Paradigma
> Theravada terungkap
> secara ringkas dalam kata-kata para Arahat sebagai
> berikut:
> 
> (1) "Khinajaati, vusitam brahmacariyam, katam
> karaniyam, na param
> itthataya'ti." ("Berakhirlah sudah roda kelahiran
> ini, sempurna sudah
> kehidupan suci, selesai sudah segala yang perlu
> dilakukan, tak ada lagi
> yang masih harus dilakukan.")
> 
> (2) "Untuk selamanya aku terbebaskan. Inilah
> kelahiranku yang terakhir;
> tiada kehidupan/eksistensi baru menungguku."
> (Majjhima Nikaya, 26)
> 
> (3) "Inilah sesungguhnya kearifan (pa~n~naa) yang
> tertinggi, tersuci:
> mengetahui bahwa semua dukkha telah berakhir. Inilah
> sesungguhnya kedamaian
> yang tertinggi, tersuci: mengetahui bahwa loba, dosa
> dan moha [semua
> kilesa/hudoyo] telah berakhir." (Majjhima Nikaya,
> 140)
> 
> Menurut paradigma Theravada, PEMBEBASAN seorang
> arahat dan seorang Buddha
> adalah SAMA; kedua-duanya tidak akan terlahir
> kembali, tidak eksis lagi.
> (Yang berbeda hanyalah sejumlah kemampuan selagi
> masih hidup, termasuk
> kemampuan untuk mengajar.) Buddha disebut juga
> "arahato".
> 
> Jadi, menurut paradigma Theravada, seorang Arahat
> sudah sempurna
> PEMBEBASANNYA; tidak perlu lagi ia melakukan sesuatu
> untuk mencapai
> "tingkat-tingkat pembebasan yang lebih tinggi"
> sebagaimana digambarkan oleh
> Romo AD menurut paradigma Mahayana/Vajrayana.
> 
> KESIMPULAN:
> (1) Paradigma Theravada tentang pembebasan sangat
> sederhana (tapi betapa
> sukar mencapainya); sedangkan paradigma
> Mahayana/Vajrayana tentang
> pembebasan sangat rumit.
> 
> (2) Berhati-hatilah dalam membanding-bandingkan
> ajaran berbagai sekte
> Buddhis; sebaiknya nyatakan dulu paradigma mana yang
> digunakan dalam
> membanding-bandingkan, agar tidak menimbulkan
> kesimpangsiuran dalam diskusi.
> 
> (Kepada para pembaca, harap berhati-hati juga dalam
> membanding-bandingkan
> agama-agama yang berbeda, seperti agama Buddha dan
> agama Kristen, karena
> paradigma Buddhis jauh berbeda dengan paradigma
> Kristen. Kalau
> dicampuradukkan, tidak akan memberikan pencerahan
> apa-apa terhadap ajaran
> masing-masing agama itu; yang terjadi hanyalah
> kesimpangsiuran dan
> kesalahpahaman, entah disengaja entah tidak, seperti
> saya lihat dalam
> beberapa thread akhir-akhir ini di milis Mubi.)
> 
> *****
> Itu tadi "pembelaan" saya terhadap paradigma
> Theravada, mengimbangi
> paradigma Vajrayana/Mahayana yang ditampilkan oleh
> Romo AD.
> 
> Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, bagaimana
> dengan sudut pandang
> saya sendiri?
> 
> Di sini perlu saya tegaskan, bahwa Romo AD keliru
> ketika memberi label
> "praktisi Vipassana Pali" kepada saya. Kenapa? Oleh
> karena dalam mengajar
> vipassana-bhavana saya tidak menggunakan kitab suci
> Pali (Theravada), atau
> kitab suci lain, atau kitab apa pun juga. Bagi saya,
> semua yang tercantum
> dalam buku apa pun tidak lain adalah bentuk-bentuk
> pikiran, konsep-konsep
> dan teori-teori, dan dalam praktek vipassana-bhavana
> HARUS DISADARI SEBAGAI
> BENTUK PIKIRAN (yang tidak kekal).
> 
> Oleh karena itu, selalu pesan pertama saya kepada
> para peserta pelatihan
> Meditasi Mengenal Diri (MMD) yang saya bimbing
> adalah agar mereka
> "mengesampingkan dan tidak mengingat-ingat kitab
> [suci] apa pun selama
> berlatih, karena kitab, ajaran, kepercayaan apa pun
> akan menjadi penghalang
> yang amat halus tapi kuat apabila tidak disadari
> sebagai bentuk pikiran
> yang tidak kekal."
> 
> 
> [..dibusek/wijaya]
> 
> Salam,
> Hudoyo
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 



                
Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour:
http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke