Dear all members,

Kayaknya ada yang saya ingin tambahkan mungkin bisa benar atau 
tidak, tapi sejauh pengetahuan saya buku komentar Visudhi Magga 
karya Bhikkhu Buddhaghosa bukanlah komentar dari Kitab suci 
Tipitaka, melainkan Komentar dari kitab komentar Vimutti yang 
penulisnya saya sendiri tidak tahu.

Coba baca dan bandingkan sendiri dengan Vimutti

terimakasih

Dananjaya

--- In [email protected], Chen Kuang <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> http://www.pesantrenonline.com/agama/detailAgama.php3?
idAgama=18&list=1
> 
> Agama  Buddha - Mazhab Theravada      
> 
> Aliran dalam mazhab Theravada. 
> 
> Sebagai kelanjutan pembahasan tentang nirvana itu, bahwa segala-
galanya
> melenyapkan diri ke dalam ketiadaan, maka timbul persoalan tentang 
dharmas
> (unsur-unsur) dan tenang ego (aku) dari setiap diri : "Apakah 
unsur-unsur
> itu dan aku itu punya realitas ataukah tidak?" 
> 
> Di dalam hal itu terkenal dua aliran yang berpengaruh amat kuat 
dalam mazhab
> Theravada, yaitu : 
> 
> 1.    Aliran Vaibashika, berasal dari penapsiran mahaguru- 
mahaguru di
> Kashmir pada masa pemerintahan Raja Kanishka (78--96 M) dari 
dinasti Kushana
> (78-178 M) terhadap salahsatu kitab didalam Abhidhamma-Pitaka. 
Aliran itu
> mencapai puncaknya ditangan Vasubandhu (300-350 M), seorang ahli 
pikir
> terkenal, dengan buahtangannya bernama Abhidhammakosa Sutra. Disitu
> dibahasnya dan disarikannya ajaran dari aliran Vaibashika itu 
bahwa "dharmas
> dan ego itu punya Realitas." 
> 
> 
> 2.    Aliran Sautrantika, dibangun oleh Kumaralabdha (150-200 M) 
dan
> dilanjutkan dan diperkembang oleh Harivarman (250-350 M) dengan 
buah
> tangannya yang terkenal itu bemakna Satyasiddhi Sutra. Sari ajaran 
dari
> aliran Sautrantika itu bahwa "dharmas dan ego itu tidak punya 
Realitas".
> Dengan arti bahwa "segala-galanya maya belaka." 
> 
> Buahtangan Vasubandhu dan Harivannan itu disalin pada masa 
belakangan ke
> dalam bahasa Tionghoa oleh Kumafajiva (344 -413 M) hingga kedua 
aliran itu
> berkembang di Tiongkok, sebelum datang dan berpengaruh disitu 
aliran-aliran
> mazhab Mahayana. 
> 
> Tokoh penapsir terbesar dalam mazhab Theravada itu ialah 
Buddhaghosa.
> Tadinya seorang Brahmin dan kemudian memeluk agama Buddha, la 
hidup pada
> awal abad ke-5 masehi. Buah- tangannya bernama Visuddhimagga 
(Jalan kepada
> Kesucian) terpandang karya terbesar. Di dalam bukunya itu dia 
menyarikan dan
> menyusun secara tertib terhadap seluruh doktrin di dalam mazhab 
Theravada. 
> 
> Literatur mazhab Theravada. 
> 
> Sutta paling populer dalam mazhab Theravada ialah Majjhima---
Nikava, tentang
> masalah-masalah metafisika; dan Sutta- Nipata, tentang kebenaran 
itu
> mengatasi paham-paham sekta; dan Maha-Vagga, yang isinya diantara 
lainnya
> tentang bagaimana Buddha Gautama menanggapi selisih paham diantara 
muridnya;
> dan Anguttara-Suttanta, yang diantara lain berisikan kisah-kisah 
kiasan
> bahwa setiap Ada itu berada dalam Perobahan dan Peralihan; dan
> Mahaparinibbhana-Suttanta, yang diantara lain berisikan kotbah 
perpisahan
> dari Buddha Gautama; dan Dhammapada, yang diantara lain berisikan
> doktrin-doktrin tentang kebenaran, dan Theragatha beserta 
Therigatha,
> berisikan himpunan nyanyian keagamaan bagi rahib lelaki (bikkhu) 
dan rahib
> wanita (bikkhuni). 
> 
> Pada masa belakangan berkembang penapsiran terhadap berbagai 
doktrin dan hal
> itu menjelma dalam literatur mazhab Theravada yang disusun 
kemudian.
> Diantaranya terkenal-kisah Jataka, berisikan kisah-kisah kelahiran 
dan kehid
> Buddha Gautama penuh oleh berbagai keajaiban, yang di di Birma 
dikenal
> dengan kisah-kisah Dzannecka. Selanjutnya Sammanaphala-Suttanta, 
yang
> diantara lain berisikan tentang paedah menyisihkan diri dari dunia 
dan
> menjadi rahib; dan Sigalovc Suttanta, yang diantara lain berisikan 
tentang
> kewajiban kalangan awwam penganut mazhab Theravada; dan Samyutta-
Nikaya yang
> diantara lain berisikan pembahasan tentang Nirvana. 
> 
> Theravada di Sailan. 
> 
> Mazhab Theravada di Sailan pada masa kita sekarang ini terpandang 
masih agak
> murni terbanding kepada di Birma Muangthai dan Indochina. 
Sekalipun begitu
> paham-paham Mahayana sedikit banyaknya telah diserap. 
> 
> Missi Buddha yang pertama-tama ke Sailan itu ialah pada masa 
pemerintahan
> Kaisar Asoka (274-232 sM) pada masa dinasti Maurya (321 -184 sM), 
dibawah
> pimpinan Bikkhu Mahinda. Dia berhasil menarik King Tissa disitu, 
saudara
> Kaisar As, memeluk agama Buddha. 
> 
> King Tisa membangun sebuah biara pada ibukota Anuradhapura, dan 
pagoda
> Tuparama yang megah untuk menyimpan sebuah gigi Buddha Gautama pada
> puncaknya, yang disebut Stupa. Juga ditanam cangkokan pohon-Hikmat
> (Bodhi-Tree) yang dibawa Bikkhu Mahinda dari kota-suci Goya. Pohon 
itu, pada
> bekas mntuhan ibukota Anuradhapura itu, masih tumbuh sampai kini 
hingga
> termasuk salahsatu pohon tertua di dunia yang telah berusia lebih 
2.200
> tahun. 
> 
> Pada abad ke-16 masehi, sewaktu Sailan dikuasai pihak Portugis 
maka gigi
> Buddha yang dipandang suci itu dibakar oleh pihak katolik - 
Portugis. Tetapi
> pihak pemeluk agama Buddha di Sailan itu membantah dan menyatakan 
bahwa yang
> diserahkan dan dibakar pihak Katolik - Portugis itu adalah gigi 
palsu. 
> 
> Theravada di Birma 
> 
> Kaisar Asoka mengirimkan missi--Buddha ke Suvannabhumi (tanah 
Keemasan),
> dimaksudkan Birma. Tetapi di Birma sendiri berkembang pendapat 
bahwa agama
> Buddha itu mulai tersiar di Birma semenjak kedatangan Bikkhu 
Buddagosa, jadi
> pada abad ke-5 masehi. 
> 
> Pengaruh tokoh itu tamak amat besar. Bahasa Pali telah di- 
gantikan oleh
> bahasa Sanskrit di dalam upacara kebaktian. Pemujaan terhadap nats
> (kodrat-kodrat gaib) di Birma, seperti juga halnya dengan pemujaan 
terhadap
> devatas di Sailan, memperlihatkan pengaruh paham Mahayana. 
> 
> Tokoh terutama di dalam agama Buddha di Birma itu ialah King 
Anarwahta
> (1044-1077 M). Pada masa pemerintahannya itu ia mendirikan ribuan 
pagoda,
> termasuk Shwe Dagon Pagoda yang terkenal itu. 
> 
> Theravada di Muangthai. 
> 
> Perpindahan suku-suku Thai dari daerah Nan Chao, yakni wilayah 
Yunnan
> sekarang ini, arah ke selatan telah benrmula sejak abad pertama 
masehi. Tapi
> kerajaan suku Thai yang pertama-tama barulah berdiri pada tahun 
1219 M
> dengan ibukota Sukhothai, terletak, sebelah tenggara Chiengmai, 
dibangun
> oleh raja Sri Indradit. Gelaran raja itu menunjukkan pengaruh 
agama Hindu. 
> 
> Tapi sejarah mencatat bahwa pada abad ke-14 Masehi raja Thai 
mengirim utusan
> ke Sailan mengundang para bikkhu Theravada. Raja menyambutnya 
dengan segala
> kehormatan di ibukota Sukhothai dan lalu membangun biara 
Sangharaja.
> Peristiwa itu mungkin pada masa pemerintahan Rama Khambeng (1175-
1317 M),
> putera Sri Indradit, ataupun penggantinya. 
> 
> Belakangan terbentuk kerajaan Ayudhia pada tahun 1350, dibangun 
oleh raja
> Ramadhipati, dan di dalam kerajaan itu berlaku Hukum Manu dari 
agama Hindu.
> Raja Baromoraja II pada tahun 1432 M mulai meluaskan kekuasaannya 
ke
> berbagai wilayah sekitarnya, menaklukkan kerajaan Angker di 
Kamboja pada
> tahun tersebut, kemudian menaklukkan kerajaan Sukhothai pada tahun 
1438 M. 
> 
> Dengan begitu agama Hindu dengan agama Buddha berkembang sejajar 
akan tetapi
> lambatlaun agama Hindu itu terdesak dan akhirnya disingkirkan 
sepenuhnya
> oleh mazhab Theravada. 
> 
> Akan tetapi pengaruh agama Hindu itu meninggalkan jejak- nya pada 
mazhab
> Theravada di Muangthai itu. Seperti juga halnya di Birma dan di 
Sailan, maka
> pemujaan terhadap phi (kodrat-kodrat gaib) memperlihatkan pengaruh 
agama
> Hindu. 
> 
> Theravada di berbagai negeri. 
> 
> Sedangkan kerajaan Srivijaya di Sumatra, sejak abad ke-6 masehi, 
merupakan
> pusat pelajaran agama Buddha dari mazhab Theravada. Rahib-rahib 
dari
> Tiongkok, sebelum melanjutkan studinya pada perguruan tinggi 
Nalanda di
> lndia,biasanya singgah dan menetap di Srivijaya lebih dahulu. 
Begitupun
> rahib-rahib Tionghoa yang pulang melalui laut dari anakbenua 
India. 
> 
> Mazhab Theravada di Srivijaya itu tidak meninggalkan bekas, 
Berbeda halnya
> dengan mazhab Mahayana di pulau Jawa mewariskan suatu peninggalan, 
yaitu
> candi Borobudur. Hal itu disebabkan mazhab Theravada yang masih 
murni tidak
> menggunakan patung-patung di da1am upacara kebaktian karena upacara
> kebaktian yang paling azasi adalah Samadhi.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke