Tentang sejarah agama Buddha yang mengacu ke kitab Mahavamsa, berikut ini saya copy-paste posting sdr Rinto Jiang yang bersumber dari The Lanka Daily News, 18 Maret 2003:
 

Catatan Rinto : Dari Bulletin Board System Perpita, Taiwan.

Oleh : Victory

Yang Mana Buddhis Era yang Tepat?
The Lanka Daily News, 18 Maret 2003

Colombo, Sri Lanka - Hingga Sri Lanka berada dalam kekuasaan Eropa di abad ke-16, Buddhist Era (BE - Tahun Buddhis) telah digunakan di pulau itu. Sekarang umat Buddha di seluruh dunia bersama dengan umat Hindu, Muslim dan negara-negara Komunis menggunakan penanggalan Masehi (Kristen). Sehinggaterdapat keseragaman dalam kronologi sejarah.

Para ahli sejarah tidak dapat memperoleh kesepakatan tentang Buddhis Era yang tepat. Buddhis Era dihitung sejak Buddha memasuki Mahaparinirvana (wafat). Saat ini terdapat dua tahun yang diakui sebagai tahun wafatnya Buddha, 544 SM (Sebelum Masehi) dan 483 SM. Tahun 544 SM adalah menurut kitab Mahavamsa. Menurut Mahavamsa, Raja Asoka naik tahta 218 tahun setelah Buddha parinirvana.

Mahavamsa adalah catatan sejarah dari (sekte) Mahavihara di
Anuradhapura yang merupakan pusat dari mazhab Theravada. Oleh karena itu seluruh negara Theravada mengikuti tradisi Mahavamsa tanpa kecuali. Profesor Wilhelm Geiger pada tahun 1907 melakukan penelitian terhadap Mahavamsa. Dia menemukan beberapa mitologi dan pemalsuan. Dia menemukan ketidaksesuaian selama 61 tahun dalam catatan Mahavamsa setelah masa Raja Asoka. Misalnya masa pemerintahan Raja Devanampiyatissa di Sri Lanka. Hingga dia mengurangkan 61 tahun dari tahun 544 SM dan mendapati tahun 483 SM sebagai tahun wafatnya Buddha.

The Buddhist Encyclopaedia yang diterbitkan oleh pemerintah Sri Lanka, dan para terpelajar serta ahli sejarah seperti Dr. Walpola Rahula, Dr. G.C. Mendis telah menerima tahun 483 SM sebagai tahun wafat Buddha yang sebenarnya. Jika kita menerim tahun ini, maka 2500 tahun setelah Buddha parinirvana (Buddha-Jayanthi) seharusnya diperingati pada tahun 2017. Tetapi kita telah memperingatinya pada tahun 1956, bersama-sama dengan
Burma dan Thailand karena kita berdasarkan kitab Mahavamsa.

Negara-negara Mahayana kelihatannya lebih menyukai tahun 483 SM. Dalam sejarah dunia menggunakan dua penanggalan yang berbeda sebagai Buddhis Era akan menyebabkan kebingungan.

Satu masa dalam satu Buddhis Era, akan menjadi mendahului yang lain. Dimana kejadian tersebut tidak dapat dipertemukan dengan kejadian yang kurang lebih sama didalam penanggalan Masehi. Tahun invasi dari Alexander Yang Agung ke
India menjadi kabur dalam dua Buddhis Era. Penanggalan masehi 483 SM tidak menemukan masalah setelah masa Kekaisaran Asoka dan Raja Devanampiyatissa dimana adalah sejaman dan bersahabat.

Bagaimanapun, kelebihan 61 tahun dalam Buddhis Era, 544 SM, terus menimbulkan kebingungan dari awal hingga akhirnya. Ini adalah refleksi dari kemampuan dan ketepatan dari para terpelajar Buddhis dan ahli sejarah. Mereka harus menyelesaikan kebingungan ini dahulu sebagaimana Buddhis Era yang tepat berimplikasi kepada ketepatan sejarah Buddhist dan (suku) Sinhala.

Baik tradisi Mahavamsa dan perhitungan Geiger adalah berdasarkan fakta yang diambil dari Mahavamsa, yang mencatat bahwa Raja Asoka menaiki tahta 218 tahun setelah wafatnya Buddha. G.H. de Zoysa, penulis dari 'Correct Buddhist Era' menemukan dalam penelitiannya bahwa Raja Asoka menaiki tahta 116 tahun setelah Buddha Parinirvana. Kitab Mahavamsa telah memalsukan sejarah dan para sesepuh Mahavira telah mengubah/menambahkan 100 tahun untuk mencocokkan bahwa Raja Vijaya datang ke Sri Lanka pada saat Buddha Parinirvana.

Untuk mencocokkan dengan kepercayaan ini, sejarah telah ditambahkan 100 tahun. Sehingga pemerintahan dari tiga raja di Lanka yaitu Mutasiva, Pandukhabhaya dan Devanampiyatissa telah ditambahkan bahwa mereka hidup selama 107, 120 dan 140 tahun. Tuan Zoysa menuliskan, "Menurut Buddhis Era dalam tradisi Mahavamsa, catatan sejarah yang paling absurb adalah bahwa Alexandra menginvasi
India pada masa pemerintahan Raja Asoka, dimana ia terjadi setengah abad lebih awal pada masa pemerintahan Chandra Gupta."

Teori yang dikemukan oleh G.H. de Zoysa dalam bukunya "Correct Buddhist Era" memperlihatkan bahwa tahun yang tepat adalah 384 SM dan bukan kedua tahun yang dipergunakan oleh negara-negara Buddhis. Menurutnya, penulis Mahavamsa telah mamalsukan periode antara Konsili pertama dan kedua menjadi satu abad.

Kemudian mereka menciptakan sebanyak delapan sesepuh yang berusia 120 yang menghadiri Konsili kedua dimana mereka pernah bertemu dengan Buddha secara langsung. Menurutnya Konsili kedua dilaksanakan 60 tahun sesudah Buddha Parinirvana dimana memungkinkan bagi para bikshu berusia 80 hingga 90 tahun yang pernah bertemu Buddha menghadirinya.

Semua kejadian dan tahun yang berhubungan dengan sejarah jatuh tepat dan sesuai dengan teori yang dikemukan oleh tuan Zoysa, misalnya tahun 394 SM sebagai mulainya Buddhis Era. Invasi dari Alexandra Yang Agung, tahun kedutaan Asoka dapat dihubungan dengan Ptolemy II, Philadelphus dari
Alexandria, tahun pada pilar Asoka, dan lain-lain. Masa yang tepat bagi pemerintahan Pandukabhaya, Mutasiwa dan Devanampiyatissa adalah 45, 35 dan 30 tahun.

Permasalahan ini harus dipelajari secara teliti oleh para sejarawan dan sarjana Buddhis, apakah menerima atau menolaknya.



kreshna amurwabumi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Pendekatan diatas seharusnya juga dipakai dalam mencari otentisitas ajaran agama dan agama Budha khususnya, karena itu saya cerita agak mendetail soal diatas. Untuk mencari otentisitas ajaran kalau bisa tentunya peninggalan yang di ucapkan oleh Sang Budha sendiri, jelas ini tidak ada karena waktu itu tidak dicatat (budaya catat mencatat belum ada). Katanya isi ceremah Sang Budha sendiri baru dikumpulkan pada Persamuan Pertama, dan rasanya masih berbentuk verbal. Jadi ceramah itu diturunkan dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi sampai tertulis. Jadi isi yang paling mendekati aslinya adalah yang tertulis dipertama kali itu, kita harus cukup puas dengan istilah asli semacam ini, dipers lagi supaya lebih asli gak mungkin. Rasanya yang dikatakan tertulis itu asalnya dari jaman raja Asoka yang sudah ratusan tahun kemudian. Tulisan inilah yang paling asli dari ajaran agama Budha, bisakah diketemukan tulisan ini ?. Saya pribadi sebetulnya tertarik dengan penelusuran peninggalan agama Budha, apa yang saya lakukan rasanya sangat amatiran, sebetulnya saya ingin mendengar orang profesienal, misalnya yang mengambil S3 sejarah agama Budha, bercerita masalah ini. Rasanya tulisan pertama itu tidak pernah disebutkan ( kalau saya salah harap dokoreksi) bahkan cerita asal usul sejarah semacam ini saya duga dari buku-buku yang ditulis turun temurun, artinya seseorang menulis kemudian direfer oleh orang lain demikian seterusnya, yang kita dapat sudah beberapa turunan (betulkah kesimpulan saya ini?tolong dikoreksi). Jadi apa yang kita terima itu sebetulnya harus ditambahi perkataan �katanya �. Inilah kondisi yang kita hadapi. Dengan demikian apakah bermanfaat kita membicarakan soal murni dan tidak murni ?. Sebuah buku Ringkasan Tipitaka (kalau gak salah ingat) memuat sesuatu yang saya pikir tidak mungkin karena hal itu merefer ke kejadian setelah Sang Budha Parinibana, jadi pastilah tambahan dikemudian hari. Walaupun begitu kita tidak perlu berkecil hati, agama Budha itu tidak berdasarkan kepercayaan melainkan fakta yang bisa direalisasikan setiap saat. Bahwa segala sesuatu itu berkondisi, segala sesuatu merupakan perpaduan rasanya bisa kita jumpai sampai sekarang ini, semangkin tinggi kemampuan bervipassana akan semangkin tajam kita bisa mengamati apa yang terjadi di dalam diri kita. Menurut dugaan saya (saya hanya berani menduga karena saya tidak mempunyai kemampuan akan yang saya ceritakan) Abhidama yang dikatakan sangat sulit itu sebetulnya tidak ada apa-apanya kalau kita bisa berkesadaran kontinue tanpa terputus beberapa jam. Kita akan dapat melihat proses-proses yang disebutkan dalam Abhidama tanpa harus menghafal. Kita menjadi sulit memahami Abhidhama karena ingin mengerti dengan akal sedangkan peristiwanya tidak bisa dilihat, alat pengamatnya sendiri harus diamati, semuanya menjadi serba abstrak, menjadi sulit.



Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke