http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/23/utama/1767481.htm
Berita Utama Senin, 23 Mei 2005 Renungan Waisak 2549/2005 Genta Waisak Membangunkan Kesadaran Oleh Mahastavira Aryamaitri BAGI orang yang sadar, selalu ada kebaikan; baginya kebahagiaan bertambah; baginya esok adalah hari yang lebih baik; walaupun ia belum sepenuhnya terbebas dari ketidaksenangan. Bagi orang yang baik siang maupun malam mendapatkan kegembiraan tanpa kekerasan, membagi cinta kasih dengan semua yang hidup, ia tidak menemukan permusuhan dengan siapa pun." (Samyutta Nikaya 1,208) Untuk ke-2.549 kalinya hari Waisak dirayakan. Genta Waisak kembali bertalu membangunkan kesadaran, menumbuhkan kebijaksanaan dan kasih sayang. Ada tiga peristiwa penting yang dikenang dalam satu detik saat purnama sidi di hari Waisak. Ketiga peristiwa itu adalah kelahiran, penerangan Sempurna, dan parinirwana-nya Buddha Gautama. Meski Buddha bisa hidup sepanjang masa dunia (kalpa), Ia memutuskan untuk meninggal dunia sesuai dengan waktu yang ditetapkan-Nya sendiri, menunjukkan bahwa hidup di dunia itu tidak kekal. Lahir dan mati merupakan peristiwa biasa yang pasti dialami setiap manusia. Yang penting, apa yang telah dilakukan seseorang sepanjang hidupnya. Apa artinya kelahiran seorang Siddharta Gautama jika Ia hanya bersenang-senang di istana? Apa pedulinya dunia pada kematian sesosok Gautama jika Ia tak membuat bahagia orang banyak? Buddha tidak hanya sekadar tokoh sejarah. Ia bukan hanya milik masa silam. Kehadiran-Nya di dunia masih dirasakan hingga kini. Siapa Ia sebenarnya? Dona, seorang pertapa, bertanya kepada Buddha Gautama, "Yang Mulia tentu adalah seorang Dewa." "Bukan, pertapa, Aku bukanlah Dewa," jawab Buddha. Dona bertanya dan bertanya lagi, dan Buddha menjawab bahwa Ia juga bukan gandarwa, bukan yaksa. Dona pun berkata, "Yang Mulia tentu seorang manusia?" Buddha menjawab, "Tentu saja bukan, Aku bukan manusia." Ia menyebut diri-Nya Buddha, Yang Bangun. Buddha bangun atas sadar di saat seluruh dunia tertidur lelap dan menunjukkan Jalan kepada manusia di bumi, segala makhluk di berbagai alam, termasuk dewa di surga- surga, untuk mencapai keselamatan. Apa yang dimaksud dengan keselamatan adalah kebebasan mutlak, bebas dari segala bentuk penderitaan. Membangun kesadaran Buddha menyatakan, hidup berkesadaran adalah satu-satunya Jalan untuk mengakhiri penderitaan. Hidup yang merupakan kenyataan adalah pada saat ini, di tempat ini. Memiliki kesadaran berarti benar-benar hadir sekarang ini di sini. Masa lalu telah lewat dan masa depan belum datang. Kita dapat belajar dari masa lalu dan merencanakan masa depan dengan kesadaran masa sekarang. Karena masa depan ditentukan oleh masa sekarang, menjaga masa sekarang adalah hal yang terbaik yang dapat dilakukan untuk memastikan masa depan yang baik. Dengan adanya kesadaran, kita memusatkan perhatian pada apa yang terjadi. Pengalaman sehari-hari menunjukkan, orang yang sukses melakukan pekerjaannya dengan penuh kesadaran dan konsentrasi. Kesadaran dan konsentrasi menghasilkan pengertian mendalam. Pengertian mendalam membantu kita untuk menjadi bijaksana dan membebaskan kita dari persepsi yang salah. Hal ini membuat kita berhenti menderita. Saat kita menderita, acap kali kita berpikir bahwa kita adalah korban orang lain dan hanya kita saja yang menderita. Hal ini tidak benar, orang lain juga menderita. Semua orang mempunyai kesulitan dan kecemasan sendiri. Jika kita melihat penderitaan pada diri kita, kita dapat memahami orang lain. Saat pengertian itu hadir, kasih sayang muncul. Karena itulah, kita tergerak untuk membantu orang-orang yang mengalami bencana alam dan berbagai musibah. Kita juga menempatkan diri dalam diri makhluk lain, tidak melakukan sesuatu yang tak kita inginkan diperbuat orang lain terhadap kita. Diri yang luas Hadirnya kesadaran sama artinya dengan hadirnya kehidupan. Napas adalah jembatan yang menghubungkan kehidupan dengan kesadaran, menyatukan tubuh dan pikiran. Segala macam benda di jagat ini mengambil bagian dalam hidup yang bernapas. Lewat bernapas, hidup terus diberikan kepada manusia dan oleh napasnya manusia menukar daya hidupnya dengan kosmos. Karena itu, sudah seharusnya manusia merasa bersatu dengan alam semesta. Manusia adalah bagian integral dari keseluruhan masyarakat dan jagat raya. Biksu Thich Nhat Hanh mempertanyakan mengapa kita memisahkan aku dan bukan aku? Apa yang kita sebut sebagai aku berasal dari unsur yang bukan aku. Orang yang penuh kesadaran saat melihat setangkai bunga mengerti bahwa segala unsur di kosmos ini menembus atau ada di dalam bunga. Tanpa seluruh unsur yang bukan bunga, seperti sinar matahari, awan, tanah, mineral, sungai, panas, dan kesadaran, bunga itu tidak akan muncul. Pandangan ini menjelaskan pernyataan dalam Avatamsaka-sutra mengenai hubungan interpenetrasi antara kita dalam lingkungan. Seluruh dunia memengaruhi sebuah pori dan sebuah pori memengaruhi seluruh dunia. (Bandingkan dengan kesalinghubungan partikel sub-atomik dalam dinamika satu kesatuan yang utuh). Begitu pula seluruh makhluk memengaruhi satu tubuh dan satu tubuh memengaruhi seluruh makhluk. Bumi adalah tubuh kita. Karena itu, untuk melindungi makhluk hidup, kita harus melindungi batu, tanah, dan samudra. Ada kontinuitas dari dunia dalam dan dunia luar. Artinya, dunia adalah large self, "diri luas" kita. Kita harus menjadi "diri luas" itu dan peduli terhadapnya. Pohon-pohon, misalnya, ada dalam tali- temali dengan manusia. Karena itu, kita adalah pohon dan udara, belukar, dan awan. Bila pepohonan tak dapat hidup, manusia juga tak dapat hidup. Saya ada, maka Anda ada. Anda ada, maka saya ada. Kita saling tali-temali. Itulah tatanan antarmakhluk. Menghadirkan surga Dengan membangunkan kesadaran, menumbuhkan kebijaksanaan dan kasih sayang, kita bisa menghadirkan surga di sini sekarang ini. Kita tidak perlu mati untuk masuk ke surga. Seorang prajurit menemui seorang biksu. Katanya, "Ajari aku tentang surga dan neraka!" Biksu itu menatapnya dan menjawab dengan angkuh, "Mengajarimu tentang surga dan neraka? Aku tak mau mengajarimu tentang apa pun. Engkau kotor, engkau bau, pedangmu berkarat. Engkau membawa aib, memalukan kelas kesatria saja. Menyingkirlah dariku. Aku tak tahan denganmu." Prajurit itu menjadi marah. Ia mengacungkan pedangnya kepada biksu itu, siap memenggalnya. Lalu kata sang biksu dengan lembut, "Itulah neraka." Si prajurit tertegun. Ia merasakan kepasrahan dan belas kasih biksu yang memberinya ajaran, menunjukkan kepadanya apa itu neraka. Perlahan ia menurunkan pedangnya dengan perasaan damai. "Nah, itulah surga," kata biksu dengan ramah. Tentu saja kesadaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang tak cukup hanya untuk dimiliki, tetapi perlu dipraktikkan dalam interaksi dengan segala makhluk dan alam semesta. Mereka yang sepenuhnya hidup berkesadaran dan mempraktikkan Dharma akan merasakan kehadiran Buddha di dalam hidupnya. Selamat Hari Waisak. Semoga semua makhluk bahagia. Mahastavira Aryamaitri Biksu, Anu Mahanayaka (Wakil Ketua Umum) Sangha Agung Indonesia; Pembina Majelis Buddhayana Indonesia ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
