Saya pengen ikutan nimbrung neh... hehehehe

Nama saya Yohannes, dipanggil mas Andre Wongso
Yohannes si penyusup, lho? Bukan... kata Bhante Utammo
saya ini Yohannes Gautama, wakakakakakak... ya sudah
deh, itu pengalaman lucu saya waktu mencoba bertanya
di suatu acara kebaktian malam Kathina di Vihara
Buddha Sassana Kelapa Gading. 

Begini, kesaksian-kesaksian, kebanyakan sih
dibuat-buat tuh. Kebanyakan yang ngasih kesaksian itu
orang-orang yang pindah agama (agama apa aja deh,
semua sama aje), abis itu mereka jelek-jelekin tuh
agama yang mereka tinggalin, udah gitu diikuti dengan
kata-kata: "Syukurlah gw nemuin jalan terang, jalan
yang bener, jalan ke mana gitu..." Sering deh. Tapi,
kalo orang yang bener2 pinter, cerdas, berwawasan
luar, pasti tahu, selalu ada yang nggak beres dengan
orang seperti itu. 

Mereka itu biasanya dipanggil maju kedepan dalam suatu
kebaktian atau acara pertemuan keagamaan. Jadi gantiin
khotbah pemimpin agamanya. Mulai dah mereka ngemeng
(ngomong panjang dan ditambah-tambahi). Kalau gw
disuruh memberi kesaksian, hmmm... yah, gw sih ogah
ah, kalau dipaksa, dengan berat hati gw maju, dan
palingan gw cuma bisa ngomong 20-30 kalimat doang, gak
lebih dari 15 menit lah! Tapi itu orang-orang biasanya
hebat banget soal waktu. Kalian perhatiin deh, gak ada
yang lebih sebentar dari 45 menit! Kalo gak, gak bakal
di VCD-kan dan disebarkan ke komunitas agama-agamanya.
Rugi space CD dong hehehehehe...

Nah, ini dia, karena sangking banyaknya yang mau
diomongin, jadinya mereka mulai ngawur nih...
contohnya tukang ramal yang ceritain tentang Kwa Mia
itu... kan banyak yang ngaconya kan (Coba baca postnya
Ko Huang Di)? Dulu pas masih kecil (jamanya Michael
Jackson populer), banyak orang-orang nuduh dia itu
ikutan aliran gak bener lah, macem2 lah...
hahahahahaha, katanya yang paling lucu: Pake ilmu
sesat biar kulitnya jadi putih?!?!? (Kan semua tahu
kalo itu operasi tuh...) Yah, namanya juga kesaksian
buat boongin anak kecil biat masuk agama tertentu,
biar gak sesat katanya. Ilusinya David Copperfield?
Separuhnya udah kebongkar... ternyata cuma trik-trik
alat. 

Terus, yang paling bikin gw agak jengah... gw pernah
baca di suatu Sutta. Di situ dicatat dialog antara
Buddha dengan salah satu muridNya (lupa namanya).
Muridnya nanya, bagaimana dengan ajaran guru-guru
lainnya? Seperti para Brahmana, dll... Isinya gak sama
dengan ajaran Buddha Gautama... apakah mereka sesat?
Ternyata Buddha menjawab, kalo kita gak boleh
menjelek-jelekan ajaran guru lain, karena orang itu
gak tahu kalo di setiap ajaran itu terkandung nilai
kebajikan, kebenaran, kebahagiaan, dll. Nah, terus
MuridNya nanya balik lagi, kalo ada yang jelekin kita
gimana? Buddha dengan gampang menjawab: diam saja!
Terus kita jangan ikutan membalas dengan mengejek,
soalnya itu bukan urusanmu!(katanya Banthe Utammo,
"Pada suatu waktu, diem itu emas!"). Terus kenapa kok
kita haus banget, pengen punya kesaksian dll, segala
sesuatu buat ngelawan agama lain?

Temen gw pernah bilang, "Wei, itu cuma perisai! Bukan
senjata! Palingan nggak lu gak jadi goyah kalo tiba2
harus ngadepin orang fanatik gila. Hahahahahaha..."
temen gw yang lain juga bilang, "Biasa anak muda,
masih suka konflik, sesuatu yang gak pasti"
(cieeeeh... temen gw yang satu ini emang udah dewasa
pembawaanya). Terus temen gw yang lain lagi cerita,
kalo dulu umat Buddha itu penakut banget... mereka
selalu menghindar kalo ketemu umat agama lain, apalagi
yang struktur organisasi keagamaannya sudah tertata
jelas dan rapi. Mereka-mereka itu jago berdebat, jago
ngomong, kitanya jadi penakut, selalu menghindar
sampe-sampe dianggep kita ini agama yang tersembunyi.
Jarang banget orang tau bagaimana sebenarnya agama
Buddha itu. Kesan mereka agama Buddha itu mistik, dan
"gak nyambung", karena itu  beberapa diantara mereka
ada yang merasa superior lalu dengan mudahnya
menjelek-jelekan kita setiap kali ada kesempatan. Gw
sendiri udah sering ngalamain hal itu... cuma gw cuek
aja... toh lagian mereka yang ngoceh sendiri, kalo
kita diem aja terus gak terima, kepada siapa ocehan
itu akan tertuju? Yang punyalah... hehehehehe. 

Jadi intinya, kita biasa-biasa aja, jangan pernah
merasa sombong dan merasa paling tahu. Kita hanya tahu
lebih awal dari mereka, itu saja. Kalo berbicara
dengan orang lain bukalah wawasan (istilahnya sini
pakai banyak kacamata yah? Lepas aja lah, gak enak lho
pake kacamata hehehehehe...). Maksudnya jangan selalu
ingin menghakimi orang, biarpun orang yang lu dengerin
itu begonya setengah mati, atau lebih muda, atau
kurang pengalaman, belum tentu lu tahu semua hal yang
dia tahu, jadi jangan sombong dong, ntar malu lho... 

p.s. pesan-pesan seperti "don't be stupid, be smart"
gw rasa kurang mengena yah, kurang bijak gitu. Gak ada
yang mandang dirinya stupid, gak ada yang mau dikatain
stupid. Gw memang gak tahu, tapi gw gak stupid. Jadi
alangkah lebih baik bila diganti jadi: "don't you
always see things on the negative side, but see it on
the positive side." (Yaelah... bahasa marketing).
Mungkin orang-orang perlu sedikit dikasarin, tapi
janganlah... anger leads to hate, hate leads to fear,
and fear leads to the dark side... but we're balanced
and more powerful and wiser than before. Jangan arogan
kayak ksatria Jedi, jangan nafsu kaya kaum Sith! 


--- harryson huang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Terima kasih. 
>  
> Saya yang melempar topik ini, saya juga akan
> memberikan sedikit komentar. 
>  
> "Kesaksian" dalam Kristen dan Islam adalah esensial,
> hal pokok. "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain
> Allah, dst..." 
>  
> Dalam Buddhis, "Aku pergi berlindung kepada Buddha,
> dst..." Sudah terasa sekali perbedaan pendekatannya.
> 
>  
> Ehipassiko (dan Kalama Sutta) sering digunakan untuk
> menjadi landasan untuk mengatakan umat Buddha itu
> perlu menyelidiki dan membuktikan, jangan percaya
> begitu saja. Saya setuju prinsip demikian. 
>  
> Umumnya penyelidikan dan pembuktian itu diarahkan ke
> sains dan debat publik - di titik ini saya perlu
> mengatakan untuk BERHENTI - karena ini bukanlah
> tujuan Buddha mengajar Dharma. 
>  
> Buddha TIDAK PERNAH melayani pertanyaan para pertapa
> lain yang menginginkan debat atau pemuasan intelek.
> Buddha selalu merespon dengan DIAM.  
>  
> Penyelidikan dan pembuktian harus diarahkan pada
> PRAKTEK. Di masa Buddha, bukan hanya Buddha saja
> yang berkhotbah. Banyak para siswa, sravaka dan
> bodhisattva, yang menjadi pusat sutta/sutra. Mereka
> "bersaksi" tentang Dharma dan pengalaman mereka.
> Buddha sendiri, "bersaksi" tentang Amitabha dan
> Sukhavati kepada Vaidehi, ibunda Ajatasattu demi
> menghibur beliau karena menganiayaan Ajatasattu
> terhadap ayahnya Bimbisara (ref Mahasukhavati vyuha
> sutra). 
>  
> Untuk kita, kata "bersaksi" mungkin kurang tepat,
> lebih tepat "berbagi". Apakah Dharma itu benar?
> Orang2 yang sudah melaksanakannya, apakah mereka
> betul merasakan manfaatnya? 
>  
> sarva mangalam, Harryson
> 
> Yeherdian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Semoga anda semua berbahagia.
> 
>  
> 
> Aku setuju sekali kalo adanya kesaksian yang dapat
> menguatkan keyakinan terhadap Buddha, Dharma, dan
> Sangha.
> 
> Tetapi seperti pada umumnya, umat Buddha sedikit
> antipati kayanya ama yang namanya kesaksian, entah
> ada yang bilang kesaksian jadi ajang boong2an yang
> penting iman/keyakinan meningkat, kesaksian di
> Buddhis tuh ga perlu, tar jadi latah ngikut yang
> laen, de el el.
> 
> Aku lebih setuju kalo kita mau melihat dengan
> perspektif lain yaitu umat Buddhis harus diajak
> untuk membiasakan sharing. Menurut aku kesaksian itu
> bisa dikatakan sama dengan sharing. Saat kita punya
> masalah dan masalah tersebut dapat teratasi dengan
> pemahaman Dharma, maka kita bagikan dan ceritakan
> hal tsb kepada yang lain sehingga dapat membantu
> meningkatkan keyakinan thd Dharma. Jika dapat
> mengatasi masalah dengan merenungkan/meneladani
> sikap seorang Buddha, bagikan hal itu sehingga dapat
> membantu meningkatkan keyakinan thd Buddha. Begitu
> juga jika terbantu oleh Bhikkhu Sangha, bagi dan
> ceritakan untuk mendukung keyakinan thd Sangha.
> 
> Satu2nya masalah, pada umumnya kita merasa malu atau
> enggan berbagi. Sesungguhnya coba kita pandang dari
> perspektif berbeda yaitu kita berbagi agar orang2
> lain yang mungkin mengalami masalah sama spt kita
> dapat memiliki contoh dan cara mengatasinya, walau
> Belem tentu cocok untuk semua orang. Kita berbagi
> agar orang yang belum menghadapi masalah tsb dapat
> menjadi siap sewaktu2 ia menghadapi masalah itu.
> Kita berbagi agar orang lain menjadi semakin yakin
> terhadap triratna. Kita berbagi agar orang lain
> merasa bahagia karena kita memperhatikan mereka dan
> tidak ingin mereka mengalami permasalahan yang sama
> spt kita. Kita berbagi agar orang lain tidak jatuh
> dalam masalah yang lebih dalam lg. 
> 
> Coba ingat bahwa kunci keberhasilan adalah
> kegagalan. Tetapi tidak akan cukup waktu bagi kita
> untuk harus mengalami semua kegagalan agar berhasil.
> Kita dapat belajar dari kegagalan orang lain agar
> tidak perlu bagi kita mengalami kegagalan itu, dan
> ini semua akan dapat terjadi jika kita semua mau
> saling berbagi. 
> 
>  
> 
> Yeherdian 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke