Namo Buddhaya, Yamin Prabudy: > Jadi, karma bukan sesuatu untuk kita takuti ya ? > Jadi sebenarnya kita (umat Buddhis) tidak sombong dan egois dalam > melakukan bantuan kepada orang ? apakah itu dalam bentuk dana, tenaga, > pikiran
Wijaya: Bedakan dulu antara konsep HUKUM KARMA dengan konsep DOSA yang ada di agama Samawi. Ini pemahaman saya, silahkan dikritisi. Di agama Samawi tidak ada konsep Hukum Karma, yang ada konsep DOSA. Kalau TAAT pada perintah Tuhan, dapat hadiah. Kalau TIDAK TAAT perintah Tuhan, dapat Hukuman. Maka, di sini tidak ada yang disebut perbuatan baik atau buruk, yang ada perbuatan TAAT atau TIDAK TAAT. Contohnya, kisah perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim agar mengorbankan anaknya sendiri. Ketika Nabi Ibrahim TAAT, hendak mengorbankan anaknya, apakah perbuatan tersebut--mengorbankan anak sendiri--adalah baik atau buruk, yang menentukan dan dinilai adalah TAAT atau TIDAK TAAT pada perintah Tuhan? TAAT adalah baik, TIDAK TAAT adalah buruk. Dari sudut pandang kita yang tidak punya konsep DOSA, tapi punya konsep HUKUM KARMA, apa yang kita dapat--buah karma baik(kebahagiaan) atau buah karma buruk(penderitaan)--, ditentukan oleh CETANA, NIAT kita. Apakah niat kita itu baik(bermanfaat bagi semua) atau buruk(merugikan pihak lain atau diri sendiri). Tidak ada penilaian soal ketaatan kita pada siapapun. Yang satu dengan konsep DOSA, berusaha untuk TAAT, agar dapat hadiah. Yang lain dengan konsep Hukum KARMA, berusaha melakukan karma baik agar dapat kebahagiaan. Keduanya sama-sama di dorong oleh si AKU. Ego. Ini untuk yang masih punya ego. Gimana agar AKU dapat yang baik. Kalau yang egonya sudah habis total, maka yang menjadi motivasi perbuatannya bukan lagi seperti di atas. Bukan untuk "AGAR SAYA DAPAT KEBAHAGIAAN". Apa yang menjadi motivasinya? Yang dari agama Samawi bisa bilang, "Kuasa Tuhanlah yang telah bekerja melaluiku" "Tuhanlah yang bekerja menggunakan tangan dan kakiku, saya hanyalah sebagai perantara saja". Umat Budddha bilang,"Mettalah" yang menjadi motivasi perbuatannya. Yamin: > Sedangkan di mereka setiap memberikan bantuan mengatakan "Kuasa Tuhanlah > yang telah bekerja melaluiku" "Tuhanlah yang bekerja menggunakan tangan > dan kakiku, saya hanyalah sebagai perantara saja" (bukan setiap > kali,..tapi sering. Mungkin ini sama seperti mukzizat atau apapun > sebutannya tapi intinya mereka tidak menonjolkan diri dalam melakukan > usaha bantuan) > > dengan pernyataan demikian saya merasa mereka tidak egois...tidak ada > AKU loh yang bantu Kamu,...AKU loh dan AKU loh.... > saya kalah berdebat jika udah sampai seperti ini....binggung benaran > maklumlah newbie yg belum punya banyak Teori Wijaya: Tapi kalau yang masih punya ego, mestinya TIDAK MUNGKIN semua tindakannya bisa disebut sebagai Karya Tuhan, atau Metta. Coba, seorang penjahatpun bisa MERASA dirinya benar. Jadi kalau masih punya ego, sebaiknya tidak berkata demikian. Karena itu akan merendahkan makna Tuhan atau Metta itu sendiri. Egois atau tidak ada di dalam bathin, bukan di mulut. Dan sesungguhnya tidak mudah menilai, apakah perbuatan kita benar2 tanpa di dorong kepentingan si AKU. Masih egois, tapi di mulut bilang manis, itu yang berbaha ha ha ha ya. Saran saya, kalau Debat, untuk iseng-iseng aja, cari ketegangan, he he he. Saling mengenal, belajar. Jangan ngotot cari menang. Karena konsep dosa, hukum karma, surga abadi, Nirvana kekal, di terjemahkan, dilogikakan dari sesuatu yang di atas logika, pikiran. Konsep2 hanya telunjuk, agar kita bisa masuk ke kebenaran. Salam metta Wijaya Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
