Menakut-nakuti memang cara yang sangat efektif buat menggiring umat yang masih lugu. Tapi cara ini akan ditertawakan oleh umat yang cukup pengetahuannya.
 
Menurut kita, mana yang lebih penting, Umat beragama mesti:
=BERANI BERPIKIR BEBAS? atau
=MENJADI PENURUT apa kata Otoritas(Tuhan, Pemimpin agama)?
 
Orang yang penurut memang kelihatan baik, mudah di atur, rapi. Tapi apakah kebijaksanaannya bisa berkembang dengan pola pendidikan 'ANCAMAN BOHONG PUTIH'? Bagaimana bisa maju kalau belum2 sudah diancam,"Keraguan dan pertanyaanmu menunjukkan IMANMU, SADDHAMU belum BULAT!"
 
Pendidikan yang realistis, memang kurang memberi ANCAMAN, KETERDESAKAN sehingga sebagian umat bisa jadi lebih santai, bahkan bisa menelorkan umat2 yang eksentrik, yang berani mengekplorasi segala kemungkinan. Karena, sudah dijelaskan, MERAGUKAN, MEMPERTANYAKAN ajaran nabinya, bukanlah satu hal yang negatif.
 
Itu model pendidikan, lebih tergantung pilihan si pemimpin agama daripada agamanya.
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, June 16, 2005 12:11 AM
Subject: Re: [Dharmajala] Antara Takut dan Sadar: Tentang lancai dan berisik

permisi numpang lewat..., agak beda tapi saya rasa relevan.
 
Rasa takut itu bisa sangat berguna.
Dalam Agama Buddha sendiri, yang alirannya menekankan pada ritual dan mekanisme karma, seperti contohnya diuraikan dalam kitab sebab-akibat yang kadang dijumpai di kelenteng / vihara, manusia diingatkan untuk tidak berpikir / sadar, tapi melalui ancaman akan karma buruk, bisa mencegah orang tsb untuk melakukan hal bodoh. Di gereja misalnya, umat diindoktrinasi bahwa karena itu rumah Tuhan, maka umat berpakaian dengan sopan dan tertib (tidak berisik).  Umat tidak boleh berpikir jika benar itu rumah Tuhan, mengapa ada yang dibiarkan kebanjiran oleh Tuhannya ? Rapi dan tertib, ini merupakan manfaat yang begitu bajik dari suatu metoda yang mendasarkan bahwa "manusia itu lemah, mesti ditakut-takutin".
 
 
Jalur yang menekankan kesadaran dan melihat ketakutan sebagai hal yang negatif, bisa sangat tidak berguna dan berbahaya.
Ajaran Buddhisme memang mengolah kesadaran bathin umatnya.
 
Tapi di vihara-2 utama di Jakarta, saya sering menjumpai umat berpakaian lancai (lancai tidak sama dengan rapi & sederhana): yang cowok pakai kaos seadanya (bukan kemeja rapi dan sederhana), yang cewek bisa pakai celana pendek sekali, meskipun itu ibadah sore/malam.  Saya tidak munafik, suka-2 saja lihat paha cewek apalagi kalau mulus. Tapi kalau saya ke vihara, saya inginkan suasana rapi dan tertib, kalau mau lihat paha mulus saya mendingan ke nightclub.  Silahkan saja coba ke vihara-2 utama di JKT (Lodan, Ekayana, Sunter) pada jam kebaktian umum.  Tidak jarang disekitar saya/Anda, umat sibuk ngobrol sendiri selama kotbah kebaktian, paling waktu meditasi diam ("langsung jadi arahat"), dan waktu baca parita, suaranya keras dan tertib. Silahkan perhatikan mereka yang sibuk berbicara, dan Anda akan merasakan sendiri bahwa yang sibuk berbicara itulah yang (seolah-olah) BENAR !  Meskipun sudah diperingati oleh pembicara kebaktian, masih saja umat-2 ini sibuk ngobrol, bahkan kalau perlu makin seru....... HP juga...haiya....kangtao masuk lah........kebaktian?? Ada orang kotbah di depan ? Ah, ini kan bukan rumah Tuhan....ini rumah untuk tingkatkan kesadaran batin lah.......... KESADARAN......??? Haiya......
 
Seringkali saya mengalami ini, dan seringkali saya sangat tergoda untuk melihat orang-2 lancai dan berisik begini agar masuk gereja saja, sebab disana mereka akan bisa malu, sedangkan di vihara susah sekali untuk malu. Coba saja, eksperimen ke gereja utama di kota Anda (dan bandingkan dengan situasi waktu kotbah, di vihara utama di kota Anda). Coba di gereja, Anda duduk dan terus ngobrol sendiri, kalau ngga malu, sebab lingkungan umatnya tertib dan rapi. Mereka bisa saja tertutup pikirannya, tapi pilih mana : "sadar" tapi jadi kampungan (sambil merasa sadar bahwa kampungan begini itu betul adanya), atau "takut" (tidak sadar), tapi jadi membentuk masyarakat yang rapi dan tertib ketika kotbah berlangsung ?
 
Saya tidak capai menuliskan hal yang sama ini lagi dan lagi, sebab hal begini dari dua tahun lalu sampai sekarang, ternyata TIDAK BERUBAH ....ajaib bukan ? .... Artinya untuk membuat rapi dan tertib aja -- ini ngga usah ngomong metta, mudita, panna -- itu lebih efektif kalau pakai efek "ancaman"......: RIBUT KETIKA KEBAKTIAN ....ALAM PETA AKIBATNYA.......
 
Sampai saat ini saya masih malu ajak umat gereja (lagi) ke vihara, sebab perbandingannya seperti ini, jelas menimbulkan kesan negatif, bukannya simpatik, terhadap Buddhisme. Saya pernah coba, dan malu. Saya coba lagi, saya malu lagi. Jika saya coba lagi, saya kuatir jangan-2 saya malah mempromosikan kejelekan sikap umat vihara daripada demi memajukan Buddhisme itu sendiri.
 
Semoga umat Buddhist makin dihormati secara konkrit, melalui sikpanya yang rapi dan tertib selama kebaktian, oleh umat beragama lain.
Bukan di teori, tapi praktek, spt di contoh di atas.
 
PS.
 
 
 
----- Original Message -----
From: Wijaya
Sent: Tuesday, June 14, 2005 11:37 AM
Subject: Re: [Dharmajala] Re: Mengapa Berbuat Baik ? * Bro Wijaya *

Namo Buddhaya,

Pemikiran saya memakai asumsi:
"Tuhan menguji Nabi Ibrahim agar mengorbankan anaknya sendiri. Ditaati
dengan iklas oleh Nabi Ibrahim, tapi ketika hendak dilaksanakan, Tuhan
kemudian mengubah perintahnya, agar korban itu, anaknya, diganti dengan
domba saja."


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke