Betul, ini pilihan pemimpinnya, bukan ajaran agama. Visi pemimpin agamalah yang menentukan umat bisa rapi dan tertib, atau tidak.
 
Disinilah letak perbedaannya, yang satu mampu menelurkan kedisiplinan, yang lain atas nama toleransi / cingcai, menelurkan ketidakdisiplinan.
 
PS
 
Menurut kita, mana yang lebih penting, Umat beragama mesti:
=BERANI BERPIKIR BEBAS? atau
=MENJADI PENURUT apa kata Otoritas(Tuhan, Pemimpin agama)?
 
Orang yang penurut memang kelihatan baik, mudah di atur, rapi. Tapi apakah kebijaksanaannya bisa berkembang dengan pola pendidikan 'ANCAMAN BOHONG PUTIH'? Bagaimana bisa maju kalau belum2 sudah diancam,"Keraguan dan pertanyaanmu menunjukkan IMANMU, SADDHAMU belum BULAT!"
 
Pendidikan yang realistis, memang kurang memberi ANCAMAN, KETERDESAKAN sehingga sebagian umat bisa jadi lebih santai, bahkan bisa menelorkan umat2 yang eksentrik, yang berani mengekplorasi segala kemungkinan. Karena, sudah dijelaskan, MERAGUKAN, MEMPERTANYAKAN ajaran nabinya, bukanlah satu hal yang negatif.
 
Itu model pendidikan, lebih tergantung pilihan si pemimpin agama daripada agamanya.
 
 
 
 
 
 


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke