|
Menarik sekali pertanyaan bersifat budaya ini
dilemparkan ke suatu milis agama, memang erat sekali kaitan antara budaya dan
agama.
Karena pertanyaannya menyangkut kaum Tionghua, maka
kita juga perlu tahu karakteristik Tionghua Indonesia, yang psikologis
masyarakatnya juga tidak terlepas dari produk politik-sosial-budaya pemerintahan
terutama jaman yang paling berpengaruh selama ini, yakni jaman Orde
Baru.
Orde Baru mengkikis peranan politik-sosial-budaya
masyarakat Tionghua, menjadikan kaum Tionghua terkotak dalam area ekonomi saja.
Mirip ikan dipelihara di aquarium dangkal sempit, kalau ikan ini makan terus
maka ikan ini akan jadi gendut, jauh lebih gendut kalau ikan ini dilepas di
sungai alami, karena fokus di makanan dan tidak/kurang gerak. Sebenarnya
kasihan, meskipun gendut, karena pikirannya didominasi oleh makan dan makanan.
Kaum Tionghua, melalui pemberangusan
politik-sosial-budaya, telah menjadi kaum minoritas eksklusif yang ekonominya
relatif kuat.
Implikasi positif adalah, makin mampu menghadapi
tantangan untuk tetap hidup (survive). Implikasi negatifnya, kaum ini cenderung
tidak berkembang dalam aspek politik-sosial-budaya, kadang bahkan kuat
mentalitas survivalnya, meskipun sudah sangat "amat survive", dimana hal ini
bisa kita lihat melalui sikap. Contoh paling sederhana, seringkali
ketika baru bertemu orang-2 begini, dalam kalimat pertama sudah menanyakan
berapa penghasilan, berapa harga rumah yang dibeli, mobil sudah ganti, dst.,
dst., semuanya hanya tentang uang/ekonomi. Di pikiran orang yang pandangannya
sudah berkembang secara psikologis, sosial dan budaya -- tidak hanya
fokus di uang, pertanyaan-2 ini sangatlah tidak
sopan. Mereka bisa begini, sebab
memang sebagian besar waktunya difokuskan di ekonomi / cari
duit.
Beda sekali dengan Tionghua di luar negeri yang
tidak terdapat kekangan, maka aspek-2 non-ekonomi tsb. lebih berkembang,
masyarakat Tionghua tsb. bisa dilihat sebagai orang2 yang juga punya perasaan,
suka hal-2 yang berbau seni, bukan sekedar seni melepas lelah setelah kerja
macam karaoke saja, tapi juga lukisan, patung, puisi, budaya,
psikologis, dll. Juga pada aspek sosial
budayanya. Ct: orang-2 tua di China misalnya, punya perkumpulan untuk
melakukan hobby sekaligus mencari nafkah dengan jualan barang-2 seni, jual
burung, pacaran sesama kakek nenek, dsb. Mereka adalah makhluk yang lebih
normal.
Di Indonesia, pertanyaan seperti itu, saya rasa
lebih didasarkan pada kenyataan bahwa secara ekonomi Tionghua dianggap lebih
kaya, yang sebenarnya juga merupakan generalisasi. Kenapa orang tidak tergelitik
menanyakan dimana kepedulian dan kesetiakawanan suku Madura, Sulawesi, Jawa,
dsb. ? Apakah semua orang Sumatra / Aceh / Madura lebih peduli sosial
dan setia kawan dari semua orang Tionghua Indonesia ? Pada dasarnya semua
manusia sama. Gap ekonomilah yang menggelundungkan persepsi macam
itu.
Bahwa karena mentalitas survivalnya, kemudian kaum
Tionghua cenderung menjadi kurang / tidak peduli, kaum Tionghua sendiri juga
mengalaminya. Ini bukan budaya, tapi produk politik yang sudah salah
kaprah. Juga, jangan digeneralisir, bahwa kaum Tionghua semua kaya.
Konglo-2 -- terutama produk Orba -- inilah yang banyak menciptakan kesan negatif
tentang kaum Tionghua. Kaum Tionghua juga mengalami, bahwa ketika orang2
awam Tionghua dijarah bulan Mei 98, sedikit sekali yang mampu diperbuat secara
politis / konkrit, oleh kaum konglo dengan puluhan jika bukan ratusan trilyun
Rupiah yang mereka miliki. Katanya uang mampu membeli politik, tapi
puluhan trilyun tsb ternyata tidak mampu. Tipis kepedulian sosialnya ?
Tentu konglo akan marah jika kupingnya mendengar ini, tapi karena
miskin visi, ya itulah yang terjadi. Bandingkan dengan jika ada lima rumah orang Jepang / Amerika / Jerman
dijarah di JKT ramai-2, maka masyarakat mereka akan berbuat lebih banyak,
daripada sekedar kuping merah dan maki-2. Seperti disebutkan tadi, yang lebih
tebal kepeduliannya, adalah masyarakat Tionghua di luar negeri (yang ditunjukkan
dengan demo / suara-2 di media atas kejadian Mei 98), karena mereka lebih
"normal" bukan makhluk eksklusif. Jika
lebih Tionghua kaya mampu membantu Tionghua miskin, ini saja sudah bagus.
Bahwa kemudian Tionghua peduli sosial, terhadap non
Tionghua, ini juga tentunya ada saja. Tapi yang jelas, karena mental orang
perantauan berbeda dengan orang asli, maka tentu ada perbedaan cara pandang.
Yang banyak terjadi, jika terdapat satu rumah Tionghua sosial pada masyarakat
sekitar, maka tentu ramai rumah orang ini dijadikan "ATM" oleh
orang2 sekitar. Juga yayasan sosial, jika diekspose, maka "ada gula ada
semut", baik yang tujuannya benar maupun yang mengaku-ngaku perlu bantuan, dan
yang kedua ini jelas banyak di jaman yang sakit ini. Saya sendiri
mengalami, berdana tidak bisa dengan orang sekitar, bahkan lebih baik jika tidak
kenal, sebab orang cenderung "tuman" (=manja, minta sedekah terus, jika tidak
dikasih, maka akan timbul sikap negatif, sepertinya kita ada hutang saja).
Ini sifat manusia, bukan masalah ras. Jadilah kepedulian sosial
seolah-olah "tidak ada" / tipis, padahal dilakukan diam-2.
Orang Tionghua yang masuk gereja, karena budaya
gereja banyak dipengaruhi Barat, yang sudah lebih terbuka (adaptatif) pola
pikirnya, maka Tionghua ini juga relatif lebih terbuka pikirannya. Yesus memilih
bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan (=rasis), tapi karena budaya Barat lebih
terbuka, maka Tionghua-2 gereja seolah-olah lebih terbuka juga. Saudara-2 saya
tiba-2 bisa melakukan pelayanan (kounseling), ada yang kunjungan ke penjara, ada
yang ambil anak non-Tionghua untuk anak angkat, dsb. ini obyeknya semua orang
non-Tionghua, setelah masuk gereja.
Vihara-2, karena visi yang dipilihnya, masih erat
budayanya dengan Buddhist tradisi, sehingga polarisasi Tionghua dan non
Tionghua di vihara lebih kental. Ct: di JKT, vihara-2 utama masih
didominasi oleh Tionghua, meskipun Buddha mengajarkan kasih sayang kepada semua
makhluk, apalagi manusia dengan beda ras. Di daerah, yang pikiran masyrakatnya
lebih tertutup, kebanyakan vihara lebih banyak orang non-Tionghuanya, sementara
klenteng penuh dengan Tionghua, dan tulisan-2 masih pakai huruf Tionghua.
Jangankan orang non-Tionghua, Tionghua muda aja yang melek huruf mandarin
sedikit, juga tidak pernah disebutkan Dewa / Boddhisatva hanya berpikir untuk
memberkahi / melindungi kaum Tionghua saja.
Masyarakat Tionghua sendiri, karena
ketertutupannya, juga relatif kurang peduli sosial di vihara. Jika ada
orang baru di vihara, maka sedikit sekali kemungkinan orang baru ini disapa dan
diajak ngobrol, kecuali oleh panitia khusus yang diberi pekerjaan tersenyum dan
menyapa orang yang datang. Buddha tidak pernah mengajarkan umatnya
untuk saling tidak menyapa, tapi karena dominasi Tionghua yang pola
pikirnya tertutup inilah, jadinya ya cuek-2 saja. Bandingkan di gereja,
yang relatif lebih mudah menyapa umat baru.
Banyak vihara yang telah melakukan bakti sosial,
juga kepada non-Tionghua dan non-Buddhist. Ini kebanyakan dilakukan oleh
golongan yang sudah tua (baca: lebih bijaksana). Karena keterbukaan lingkungan di gereja, anehnya saya malah
sering diajak teman-2 gereja yang muda-2 untuk berbaksos, sedangkan sampai
sekarang jarang sekali teman-2 Buddhist generasi muda mengajak bakti
sosial. Dan jika saya ajak, teman-2 Buddhist juga malas.
Kepedulian sosial generasi muda ini masih sangat dipengaruhi pola
pikir masyarakat Tionghua produk pemberangusan politik-sosial-budaya tadi, bukan
oleh ajaran Buddhisme yang sesungguhnya, yakni memberi kepada semua
makhluk termasuk kepada manusia yang beda ras.
Teman-2 Buddhist aktif seminar, tour (kalau tour,
baru biasanya sekalian baksos), daki bukit, cetak buku, sejuta pelita, bangun
vihara, dsb. Tapi kita masih belum mampu menjangkau untuk berpikir, daripada
uangnya dipakai untuk membangun patung-2 dan vihara mewah, lebih baik dibuat
untuk bangun sekolah (baca: bangun manusia). Jadi misalnya ada dana Rp25milyar,
mau bangun vihara megah, ini akan didukung sekali. Tapi dukungan dan langkah
konkrit akan tipis jika ini untuk bangun yayasan Yatim Piatu, sekolah Buddhist,
atau Rumah Sakit, yang mana merupakan bentuk konkrit kepedulian
sosial. Kepedulian sosial tidak berarti kasih makan ke orang lapar karena
tidak bisa kerja/karena suaminya kalah judi, tapi lebih berarti memberikan
ketrampilan dan pengertian benar kepada orang tsb supaya bisa kerja jadi tidak
lapar dan supaya suami tsb. tidak berjudi. Ct. lain yang ironis: Di suatu klenteng di kota JKT, baru direnovasi,
rupang2 Dewa, Guan Yin, Buddha, menjadi indah. Uang tentulah tidak
kekurangan, karena tempat ini "manjur" banyak yang thank you dengan berdana
uang. Tapi, rak buku untuk taruh buku-2 dhamma, itu tidak ada...apakah
karena tidak mampu membuat / mahal harganya ? Tidak, tapi visinya tidak
sampai sana. Bagaimana jika ada orang ingin lebih tahu tentang dhamma,
ingin tahu pemecahan masalah dalam dhamma, disana ? Tanyakan pada
rumput yang bergoyang, dimana kepedulian sosial ini. Disebelahnya persis,
sekolah Katholik (mayoritas Tionghua muridnya) sudah selesai bangun tiga
tingkat, yang mana ini merupakan bentuk kepedulian sosial: meningkatkan
kecerdasan manusia. Jadi yang satu bangun manusianya, didik
supaya jadi baik (baca: membangun dhamma), yang satu bangun patungnya.
Semoga pemimpin Vihara mampu memiliki visi atas
dasar KETERBUKAAN dalam praktek kepedulian sosial, agar cita-2 mulia ajaran Guru Agung dapat lebih segera diwujudkan.
So, JB, jangan merasa sebagai kaum
tersisih, ajaklah teman2 Anda membangun Dhamma, ajaran Buddha tidak
menyisihkan sesama kita, tapi pikiran yang tertutuplah yang menimbulkan jarak
diantara sesama.
Jika Anda ingin bukti konkrit, salah satunya
silahkan ke Puncak, seorang tante bajik Tionghua bernama tante Bertha tiap bulan
memberi 250 orang miskin non-Tionghua dan non-Buddhist, dengan dana dari
mayoritas orang Tionghua dari JKT dan sekitarnya.
Silahkan ke vihara Dhammacakka Sunter, disana
kira-2 3 bulan sekali ada donor darah, hampir semua Tionghua, diberikan kepada
non-Tionghua dan non-Buddhist.
Silahkan ke vihara Lodan, ada bazar sembako murah
untuk umat.
Silahkan ke yayasan Tzu Chi di Mangga Dua Lt. 6,
mereka adalah contoh yang baik.
PS
|
