Namo Buddhaya,
Setahu saya, 'meminjam tangan' utk membunuh juga termasuk membunuh. Ada beberapa kondisi yg harus terpenuhi dalam pembunuhan (usaha penghilangan nyawa suatu mahluk), yaitu : adanya mahluk hidup yg akan menjadi korban, adanya niat secara sadar untuk melakukan penghilangan nyawa / pembunuhan, adanya usaha melakukan pembunuhan, dan terakhir, matinya mahluk tersebut.
Dalam hal membeli daging di pasar, si pembeli tidak terlibat pembunuhan, sejauh dia tidak memerintahkan penjagal utk menyembelih hewan. Namun secara tidak langsung, si pembeli daging yang membeli daging jualan tsb, memicu sang penjagal utk menambah dagagannya lagi, dan pembunuhan hewan terjadi lagi.
Memang menurut saya, sebagai umat Buddhist sebaiknya mengurangi sedikit demi sedikit keinginan utk memakan daging, hal ini akan mengurangi angka pembunuhan hewan walaupun sangat kecil sekali, karena di dunia ini, pembunuhan hewan sudah dianggap sangat sangat sangat wajar sekali.
Kalau menjual barang barang keagamaan, menurut saya boleh boleh saja. Seperti menjual rupang Buddha atau rupang keagamaan lainnya, menjual kaset / cd suttra atau lagu2 Buddhist, atau ceramah Dharma, berarti kita telah membantu menyebarluaskan Dharma, dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan Karma baik, memberikan sedikit pencerahan Dharma.
Memang alangkah baiknya bila barang2 keagamaan tsb diberikan scr gratis, sbg dana kepada yg membutuhkan, namun bila hanya mengandalkan cara ini, saya rasa, penyebaran Dharma akan menjadi lebih lamban, dan kurang efektif.
Seseorang yang berkerja dgn menulis Buku Dharma (yang benar dan tidak menyimpang isinya) dan menjualnya ke pasaran dgn harga yg pantas, lebih baik ketimbang orang yang menjual racun atau senjata. Karena buku2 tsb akan memberikan pengetahuan, dan bisa berguna utk orang banyak, demikian juga dgn rupang Buddha / Bodhisatva.
Semua berasal dari niat / cetana. Bila niat kita baik, maka akan menghasilkan kebaikan2 juga.
Menebeng / ikut2an orang lain berbuat sesuatu, entah itu mendukung scr moril atau materil, sebenarnya kita juga sudah terlibat dalam perbuatan tsb, krn ikut2an itu tadi juga memerlukan niat utk ikut2an melakukan hal tsb. Jadi baik scr langsung atau cuma ikut2an, juga akan menghasilan karma yang sama, walaupun tingkatan karmanya mungkin tidak sama dengan yg melakukan scr langsung.
Swathi Hottu,
CFR.
Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hi,..
Ini newbie kembali lagi dengan kebinggungannya....
Susah ya jadi umat Buddha....
Saya di sini baru selesai membicarakan masalah cara hidup sehari-hari
dengan teman saya yang dari tetangga sebelah
belum memikirkan masalah Nibana, pencerahan, dll dll
hanya cara menjalani hidup
Tidak boleh membunuh tetapi meminjam tangan orang lain membunuh boleh...
"Tidak boleh membunuh udah menjadi keharusan di tiap agama, tapi urusan
makan daging kita paling reseh.
Kita tidak boleh secara langsung membunuh tuh hewan untuk dimasak, tapi
boleh membeli di pasar dengan dalih
Lah Saya kan kita membunuh secara langsung. jadi daging itu sudah ada
dan saya tidak memikirkan lagi bagaimana tuh hewan
matinya gimana (sukur2 bukan karena penyakit). Yang parahnya main pesan
lagi.
Wah dagingnya ngak bagus...besok saya titip yah yg rada montok (well dia
tidak membunuh kan, dan tidak menyuruh membunuh hanya titip beli daging
doang)"
Tidak boleh menjual barang berbau TRIRATNA (itu semua semestinya gratis)
"Well ada teman saya yang bilang disinilah letak kesadisan seorang yg
beragama Buddhis, gini analisa teman saya
Kalian tidak boleh menjual barang seperti buku,rupang (yah yang berbau
TriRatna - karena dia bukan Buddhis maka ngak tau nyebutinnya)
tapi koq kalian kejam banget yah,...boleh membeli tidak boleh menjual.
kenapa tidak nasehatin yang menjual barang seperti itu
supaya mengubah usaha nya jadi bentuk lain, tapi malah rajin beli sama
dia....Patung Buddha tidak boleh di jual, eh malah kalian ke
Jawa Tengah untung pesan ke Pembuat patung...kenapa tidak nasehatin
dia..harusnya ini gratis ngak boleh di perjual belikan.
Saya jadi berpikir hehehe Karniya deh.. kenapa tidak ada yang nasehatin
para Pengurus Karaniya untuk menghentikan usaha *ILEGAL* (secara Buddhis)
karena mereka menerjemahkan buku Dharma dan menjual buku Dharma
(harusnya kan GRATIS), tapi sialnya orang yang bilang ngak boleh
jual barang-barang berbau TriRatna malah membeli buku Karaniya"
kesimpulannya,..orang boleh berbuat jahat dan kita boleh menebeng...ASAL
kita tidak terjun langsung...
terima dari tangan ke dua atau tiga boleh..tapi jangan jadi tangan
pertama (pembeli boleh, penjual jangan....yah kasarnya kalau di dunia
kriminal
jadi penadah barang curian NGAK BOLEH, tapi beli dari PENADAH boleh
karena *toh saya ngak tahu asalnya dari mana* pura-pura ngak tau atau
tutup mata)
Tolong dong Tolong bantu saya
metta
yamin
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Asia presents Meetic - where millions of singles gather
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
---- LSpots keywords ?> ---- HM ADS ?>
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
