Tentunya ini kembali kepada si X sendiri.
 
Tapi menurut saya, perlu kita berikan informasi2 yang tepat, secara netral saja, kemudian biarkan si X memilih apa yang diinginkannya. Memang masih muda untuk hal2 spt ini, tapi sekarang adalah kesempatan bagi X untuk menetapkan hatinya.
 
Kalau bagi pengurus sendiri, apa sih yang memang ingin diberikan kepada anak asuh?
Uang banyak? Saya rasa lebih kepada hidup berkecukupan dan tentunya memberikan "kail" yang lebih baik daripada hanya menyuapi dengan "ikan" besar setiap hari.
Kalau memang demikian, tentunya setelah dalam satu kurun waktu, target diharapkan mampu memahami betapa besar nilai yang didapat dari program ini.
Kalau kemudian si target ngiler dengan ikan yang lebih besar yang ditawarkan oleh tetangga, mungkin harus kita tanyakan "koq bisa?" Apakah pengajaran dan pemahaman yang diberikan selama ini kurang? Bagaimana seharusnya seseorang membalas budi? Bagaimana berterimakasih?
 
Kalau memang si target mempunyai ekspektasi lebih, dan dari pengurus merasa ... mungkin sudah tidak bisa memberikan lebih lagi, si target cukup reasonable untuk menerima tawaran dari tetangga yang baik hati tersebut. Hari gene mah tidak ada yang gratis kali ya, sighhh..... Dan juga, harus pengurus pertimbangkan, apakah harus mengalokasi sejumlah dana X untuk kebutuhan si A, yang mungkin sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa target lainnya?
 
Sisi positifnya (ada ga sih?), mungkin dana yang besar yang dialokasikan untuk si target, bisa direallocate kembali untuk target2 lainnya, yang masih banyakkk di luar sana?
 
At least apabila pada setiap target bisa ditanamkan benih2 buddha dharma di dalam diri mereka, suatu pencapaian yang luar biasa.
 
 
 
Regards,
J
"Help others," and "If you cannot help them, at least do not harm others."
 
----- Original Message -----
From: "Rida Waty" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, June 28, 2005 8:37 PM
Subject: [Dharmajala] dilema

> Dear all,
>
> Sekuntum teratai untuk anda semua, Para calon Buddha.
>
> saya mempunyai sebuah cerita yang ingin di bagi ke bro
> & sis
> dan saya ingin minta solusi dari bro & sis.
>
> Sebut saja namanya si "X".
> Si X ini kira-kira berumur 15 thn.
> Si X adalah salah satu anak asuh di lingkungan
> buddhis.
> dan mempunyai keyakinan tinggi kepada Buddha Dharma.
> Si X ini mempunyai seorang paman yang tinggal serumah
> dengannya.
> dan paman dari si X ini adalah seorang "K".
> Paman si X ini sering mengajak si X untuk pindah ke
> agamanya
> dengan tawaran bahwa jika si X pindah agama, maka
> si X akan mendapatkan tunjangan sekolah 2 kali lipat
> dari tunjangan yang di dapat dari anak asuh sekarang
> ini.
> Nah, sekarang ini, si X lagi dilema.
> Apa yang harus diperbuatnya?
> Apakah harus mengambil tawaran dari paman, dengan
> pura-pura
> pindah agama tapi dia masih berkeyakinan pada Buddha
> Dharma?
> atau malah melepaskan tawaran pamannya dan tetap
> menjadi anak asuh yang sekarang ini?
> karena kita tahu bahwa hidup haruslah relaistis.
>
> Solusi dari bro & sis mungkin bisa membantunya.
>
> Thanks...
>
> RIDA
>


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke